2026年9月10日

Melihat Jejak ofo dalam Perjalanan Songguo Chuxing (Pinecone Mobility)

“Perusahaan publik pertama” di segmen e-moped bersama tampaknya benar-benar akan segera hadir. Songg...

“Perusahaan publik pertama” di segmen e-moped bersama tampaknya benar-benar akan segera hadir.

Songguo Chuxing (selanjutnya disebut “Songguo”) pada 2 Januari 2026 resmi mengajukan prospektus ke Bursa Efek Hong Kong, menandai langkah penting menuju pasar modal.

Didirikan pada 2017 oleh Zhai Guanglong—anggota tim pendiri Meituan—Songguo membangun identitas produk yang mudah dikenali. E-moped berbagi berwarna kuning terang bukan hanya selaras dengan bahasa visual Meituan, tetapi juga mengingatkan publik pada simbol “sepeda kuning” ofo di era awal booming shared mobility, sehingga pengguna dapat lebih cepat menemukan kendaraan.

Dari sisi strategi pendanaan, Songguo sebenarnya sempat menyiapkan rencana IPO di Amerika Serikat pada paruh pertama 2021, ketika usia perusahaan belum genap empat tahun. Namun akibat perubahan kondisi eksternal dan dinamika pasar, rencana tersebut tidak berlanjut. Kini, fokus perusahaan beralih ke Hong Kong.

Dari kacamata operasional, skala Songguo sudah terbilang besar. Hingga 30 September 2025, Songguo telah menempatkan 454.627 unit e-moped bersama di 422 kota/kabupaten di Tiongkok, dengan jumlah pengguna terdaftar mencapai 128 juta.

Skala ini tercermin jelas pada komposisi pendapatan. Pada 2024, bisnis inti e-moped Songguo membukukan pendapatan RMB 934 juta, turun tipis 0,16% secara tahunan, dan berkontribusi sekitar 97% terhadap total pendapatan. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan juga aktif membuka sumber pendapatan baru—misalnya iklan. Hingga 30 September 2025, porsi “pendapatan lainnya” meningkat menjadi 6,4%, namun layanan e-moped tetap menjadi tulang punggung dengan porsi 93%.

Satu tahun balik modal—di atas kertas

Jika ditelusuri lebih dalam ke level unit economics, prospektus menunjukkan bahwa pada 3Q 2025, harga rata-rata per perjalanan adalah RMB 2,94. Pada periode yang sama, rata-rata pesanan harian per e-moped mencapai 3,08.

Dengan asumsi tersebut, proyeksi pendapatan tahunan per unit berada di kisaran RMB 3.305 (365 hari × RMB 2,94 × 3,08 pesanan).

Dalam lima tahun terakhir, biaya pengadaan e-moped bersama relatif stabil namun cenderung menurun. Rata-rata biaya pembelian industri turun dari RMB 3.365 per unit pada 2020 menjadi RMB 2.978 per unit pada 2024. Sementara itu, kebijakan depresiasi Songguo menetapkan masa depresiasi kendaraan dan baterai pada rentang 2–4 tahun.

Artinya, tanpa memasukkan biaya lain, model operasionalnya terlihat menarik: menempatkan satu e-moped, balik modal dalam sekitar satu tahun, lalu menghasilkan keuntungan pada 1–3 tahun berikutnya selama siklus depresiasi.

Kenaikan margin lebih banyak dari biaya, bukan dari pertumbuhan

Dari sisi margin, margin kotor gabungan Songguo naik dari 15,8% pada 2023 menjadi 24,3% pada 3Q 2025—meningkat 8,5 poin persentase. Namun, pada saat yang sama, pendapatan kumulatif tiga kuartal pertama 2025 nyaris tidak bertumbuh.

Ini mengindikasikan bahwa peningkatan margin terutama didorong oleh pengendalian biaya, khususnya dampak berkurangnya beban depresiasi ketika sebagian kendaraan mencapai akhir masa depresiasinya.

Terlihat pula pola yang menarik: depresiasi menurun, sementara skala armada bertambah. Hal ini membuka kemungkinan jalur profitabilitas, yakni mendorong pertumbuhan laba melalui sebagian kendaraan yang tetap beroperasi melewati masa depresiasi.

Skala membesar, tetapi “efek skala” menghilang

Meski narasi unit economics terdengar menjanjikan, realitanya bisnis e-moped bersama tidak mudah menghasilkan keuntungan yang konsisten.

Struktur biaya menjelaskan alasannya. Porsi depresiasi turun dari 41% pada 2023 menjadi 29,1% pada 3Q 2025. Namun pada saat yang sama, biaya operasional justru terus meningkat—sebuah tren yang biasanya paling tidak disukai dalam logika investasi ala internet-growth.

Dalam “buku panduan” bisnis internet, skala sering dianggap lebih penting dibanding keuntungan jangka pendek. Perusahaan rela membakar modal untuk memperluas skala, dengan harapan efek skala akan menurunkan biaya per unit, menciptakan penghalang masuk, lalu berubah menjadi moat.

Namun, data Songguo belum sepenuhnya membuktikan logika tersebut. Di tengah pertumbuhan armada, basis biaya tidak menunjukkan penurunan yang diharapkan.

Salah satu hambatan utama: e-moped bersama memerlukan operasi pengisian daya dan perawatan yang lebih sering dan lebih masif dibanding sepeda bersama. Walaupun baterai berkapasitas lebih besar dapat menghadirkan jarak tempuh 80–100 km, operator tetap harus menanggung biaya listrik, biaya logistik pengisian, waktu idle saat pengisian, hingga biaya manajemen baterai—yang membuat biaya operasional tetap tinggi.

Selain itu, karena jangkauan pergerakan e-moped lebih luas, penjadwalan ulang (dispatching) dan penyeimbangan armada (rebalancing) menjadi lebih kompleks, yang pada akhirnya ikut mengerek biaya operasional dan perawatan.

Persaingan ketat, tanpa “jaring pengaman” ekosistem

Di pasar e-moped bersama Tiongkok, tiga pemain teratas adalah HelloBike, Meituan, dan Qingju (Didi). Songguo saat ini berada di peringkat keempat, tetapi pangsa pasarnya masih tertinggal cukup jauh dari tiga besar.

Jika menengok pasar sepeda bersama, dulu kompetitornya beragam dan penuh warna, namun pada akhirnya menyisakan segelintir pemain besar yang ditopang oleh raksasa internet. Bahkan hingga kini, profitabilitas segmen tersebut pun masih sulit, dan operasionalnya sering bergantung pada dukungan pemegang saham besar.

Bagi platform raksasa, menanamkan bisnis mobilitas yang “rugi secara unit” sering kali tetap masuk akal karena mobilitas adalah bagian penting untuk mengaktifkan ekosistem local services. Jika dihitung sendiri, sepeda/e-moped bisa merugi, tetapi ketika digabungkan ke dalam ekosistem yang lebih luas, ia dapat membantu mendorong profitabilitas total.

Masalahnya, logika ini tidak sepenuhnya berlaku untuk Songguo. Sebagai perusahaan e-moped bersama yang berdiri sendiri, Songguo menghadapi pasar yang didominasi raksasa, tanpa dukungan ekosistem sekuat para pemimpin pasar. Ketika efek skala sulit terealisasi dan prospek laba belum begitu meyakinkan, pertanyaan besarnya menjadi: ke mana arah Songguo selanjutnya?

Sejarah pasar sepeda bersama memberi pelajaran tegas. Mobike berakhir di bawah Meituan. ofo sempat santer dikabarkan akan diakuisisi Didi, tetapi negosiasi gagal dan bisnisnya praktis berhenti total. Pada akhirnya, pemain teratas cenderung memilih: diakuisisi raksasa, atau mundur ketika pendanaan terputus.

Mengapa masih perlu mencari dana?

Ada dua kelompok data perusahaan yang layak menjadi sorotan:

  1. Skala kendaraan yang ditempatkan naik dari 389.899 unit pada 2023 menjadi 454.627 unit pada 3Q 2025, tumbuh 16%.
  2. Pada periode yang sama, pesanan harian rata-rata per e-moped aktif meningkat dari 2,76 menjadi 3,08.

Secara logika, peningkatan pesanan per unit ditambah ekspansi armada seharusnya mendorong total pesanan naik. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: jumlah pesanan harian turun dari 1,102 juta menjadi 1,006 juta, turun hampir 10% dalam periode pelaporan.

Menurut definisi prospektus, jumlah pesanan harian dihitung berdasarkan e-moped yang aktif. Ini mengindikasikan bahwa porsi kendaraan aktif dalam total armada yang sudah ditempatkan sedang menurun. Dengan kata lain, armada membesar, tetapi efisiensi operasional justru melemah.

Sementara itu, rencana penggunaan dana hasil penawaran mencakup pembelian e-moped dan biaya terkait untuk ekspansi ke kota-kota dengan level lebih tinggi dalam tiga tahun ke depan, dengan target memasuki 30 kota di kawasan Tiongkok Selatan.

Karena itu, muncul pertanyaan yang wajar dari investor: di tengah efek skala yang belum lancar dan indikator efisiensi yang menurun, apakah Songguo memang masih perlu terus mempercepat penempatan e-moped dalam skala yang lebih besar?

接著讀