2026年9月10日

Heboh Liga Super China! Evergrande Dikabarkan Rutin Beri “Angpao” Imlek Bernilai Puluhan Ribu Hingga Ratusan Ribu Yuan kepada Pejabat CFA

Kemarin, Asosiasi Sepak Bola China (CFA) merilis daftar larangan bermain (banned) gelombang kedua, s...

Kemarin, Asosiasi Sepak Bola China (CFA) merilis daftar larangan bermain (banned) gelombang kedua, sekaligus daftar sanksi untuk sejumlah klub. Pengumuman ini langsung memicu perbincangan luas dan kembali mengangkat isu lama seputar praktik “match-fixing”, perjudian, serta berbagai pelanggaran yang pernah mencoreng sepak bola China. Di tengah sorotan tersebut, seorang jurnalis mengungkap klaim bahwa Guangzhou Evergrande dulu rutin memberikan “angpao” kepada pejabat CFA setiap menjelang Tahun Baru Imlek.

Dalam sejarah sepak bola China, Guangzhou Evergrande pernah menjadi simbol kejayaan, ambisi besar, dan kekuatan finansial. Klub ini menghadirkan begitu banyak gelar dan momen penting yang ikut mengangkat pamor kompetisi domestik. Namun, seiring gelombang penertiban kembali menguat, berbagai cerita di balik layar yang dulu jarang dibahas kini perlahan muncul ke permukaan.

Jurnalis Chen Hua menyatakan bahwa kesuksesan Evergrande bukan semata hasil kebetulan. Menurutnya, klub tersebut memiliki hubungan yang sangat dekat dengan CFA. Ia mengklaim bahwa setiap menjelang Imlek, Evergrande memberikan “angpao” bernilai ratusan ribu yuan kepada pejabat CFA yang memiliki pengaruh besar. Dalam pandangannya, praktik semacam ini turut membentuk iklim yang tidak sehat, hingga membuat banyak klub lain ikut terseret dalam pola “mencari muka” dan penyaluran kepentingan kepada pihak yang memegang otoritas—sebuah pertukaran sumber daya antara kekuasaan dan uang.

Chen Hua juga memberi isyarat bahwa setelah menerima keuntungan finansial, sejumlah pejabat diduga memberikan “bantuan” kepada Evergrande dalam berbagai bentuk. Ia menggambarkan situasi yang bersifat transaksional: klub memberikan uang, sementara pihak berwenang memberikan ruang kebijakan. Dalam narasinya, klub yang ingin mengejar gelar atau berjuang menghindari degradasi akan merasa perlu “mengamankan” banyak aspek—mulai dari urusan federasi, perangkat pertandingan, hingga berbagai pihak terkait lainnya—bahkan termasuk berhadapan dengan lawan.

Ia turut menuduh bahwa sebagian individu membawa praktik ini ke tingkat ekstrem, di mana denda dan sanksi disiplin disebut bisa digunakan secara sewenang-wenang. Chen Hua menyinggung nama Wang Xiaoping, yang menurutnya menjadikan “punya uang berarti bisa bebas mengeluarkan surat denda” sebagai praktik yang dipermainkan habis-habisan. Ia menambahkan bahwa pada satu musim tertentu, pendapatan denda Liga Super China yang dikelola CFA disebut mencapai level tertinggi sepanjang sejarah.

Di sisi lain, runtuhnya fondasi finansial Evergrande tak lepas dari krisis utang besar yang menimpa perusahaan induknya, Evergrande Group. Krisis ini membuat klub semakin sulit bertahan. Pada Januari 2025, Guangzhou FC resmi mengumumkan pembubaran—sebuah akhir yang pahit untuk salah satu era paling ikonik dalam sepak bola klub di China.

Meski demikian, klaim Chen Hua juga memantik ketidakpuasan di kalangan suporter. Banyak yang mempertanyakan mengapa isu-isu seperti ini baru ramai dibicarakan sekarang, bukan ketika Evergrande sedang berada di puncak kejayaan. Sebagian lainnya juga menyindir bahwa sorotan tampak hanya diarahkan ke Guangzhou Evergrande, sementara klub-klub lain dianggap belum mendapatkan pengawasan dan kritik yang sama kerasnya.

接著讀