2026年9月10日

Bitcoin di Tengah Badai Global: Turun 11,5%, Tapi ETF Masih Mengalir Masuk

Di tengah ketegangan ekonomi global dan geopolitik, pasar kripto sedang mengalami volatilitas yang s...

Di tengah ketegangan ekonomi global dan geopolitik, pasar kripto sedang mengalami volatilitas yang signifikan. Bitcoin (BTC), sebagai aset utama di industri ini, telah turun lebih dari 11,5% dari puncaknya pada bulan Mei. Namun, meskipun tekanan likuidasi terus berlanjut, investor institusi masih terus menambah kepemilikan mereka melalui ETF spot, memberikan kekuatan tahan banting bagi pasar.

Gelombang Jual dan Lonjakan Likuidasi

Menurut Bitfinex Alpha, sejak awal Juni, pasar kripto telah mencatat likuidasi lebih dari $2,6 miliar. Dalam tiga hari berturut-turut, posisi long dilikuidasi lebih dari $400 juta per hari—menunjukkan memburuknya sentimen pasar. Altcoin seperti Ethereum (ETH) dan Solana (SOL) anjlok lebih dari 20%, memicu pelepasan leverage secara luas.

Aliran Dana ETF Menjadi Penyangga

Di balik gejolak tersebut, ETF spot Bitcoin mencatat arus masuk bersih lebih dari $1,02 miliar, mengindikasikan minat institusional pada harga rendah. Meski pasar derivatif tengah tertekan, permintaan spot yang kuat membantu BTC stabil dalam kisaran $94.000 hingga $110.000. Arah harga Bitcoin ke depan sangat tergantung pada kelanjutan aliran dana ETF dan pemulihan sentimen pasar.

Tekanan Makro dan Sikap The Fed

The Fed mempertahankan suku bunga pada bulan Juni, namun menyatakan kekhawatiran terhadap inflasi yang membandel dan potensi dampak tarif. Ketua Jerome Powell memperingatkan bahwa tarif dapat menyebabkan lonjakan harga konsumen, memperumit kebijakan moneter.

Ketegangan di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, kembali mengganggu logistik minyak global. Kenaikan biaya pengangkutan dan tertundanya kapal tanker memicu kekhawatiran inflasi, menekan bank sentral dunia untuk tetap berhati-hati.

Pelemahan Konsumen dan Risiko Inflasi Gelombang Kedua

Penjualan ritel AS pada bulan Mei turun, terutama karena pelemahan di sektor otomotif, bahan bakar, dan makanan. Namun, data penjualan inti tetap kuat, menunjukkan ketahanan belanja konsumen. Di sisi lain, kekhawatiran tarif membuat grosir menimbun stok, meningkatkan biaya restock dan memicu risiko inflasi gelombang kedua yang dapat menunda pemangkasan suku bunga.

Kripto dan Politik: Persimpangan yang Semakin Dalam

Secara politik, laporan keuangan Donald Trump menunjukkan pendapatan lebih dari $600 juta dari aset kripto, termasuk token $TRUMP dan proyek blockchain—menimbulkan kekhawatiran etis terkait konflik kepentingan.

Di kancah internasional, Vietnam mengesahkan hukum yang mengakui legalitas aset kripto mulai 2026, untuk mendorong inovasi blockchain. Sebaliknya, bursa kripto terbesar di Iran, Nobitex, mengalami serangan siber bermotif politik—menyoroti semakin eratnya hubungan kripto dengan ketegangan geopolitik.

Penutup: Era Kripto yang Penuh Risiko dan Peluang

Meski BTC masih tertekan secara jangka pendek, aliran dana ETF yang terus berlanjut dan perubahan kebijakan global mulai membentuk dasar nilai jangka panjangnya. Di tengah ketidakpastian makro, permintaan terhadap aset terdesentralisasi dan tahan inflasi mungkin akan mengalami momentum baru.

接著讀