Manfaat Kantin Komunitas Tak Akan Bertahan Lama!
Di dekat rumah saya, dulu ada beberapa warung kecil tempat saya kadang menikmati semangkuk mi, pangs...
Di dekat rumah saya, dulu ada beberapa warung kecil tempat saya kadang menikmati semangkuk mi, pangsit, atau wonton. Namun, ketika proyek renovasi lingkungan dimulai, semua toko dirobohkan dan pembangunan berlangsung berbulan-bulan.
Kebetulan, di seberang jalan berdirilah sebuah kantin komunitas baru. Saya pikir ini bisa menjadi pengganti sementara, jadi suatu malam saya memutuskan untuk mencobanya.
Ternyata rasanya tidak buruk sama sekali—tidak kalah dengan kantin mahasiswa. Dengan harga sedikit di atas 20 yuan, saya mendapat satu lauk daging dan dua sayuran. Sederhana tapi cukup memuaskan. Malam itu ada sekitar belasan orang makan di sana, dan pensiunan tidak sampai sepertiga dari jumlahnya. Setelah itu, saya datang beberapa kali lagi, bahkan keluarga saya pun penasaran ingin mencoba.
Namun, kunjungan terakhir saya berakhir mengecewakan. Saat meminum sup, saya menemukan sepotong tisu mengapung di dalamnya. Jijik, saya diam-diam pergi tanpa membuat keributan, sambil berpikir betapa sulitnya menjalankan kantin seperti ini. Sejak saat itu, saya memutuskan untuk mengucapkan selamat tinggal pada kantin komunitas—lebih baik saya berjalan ratusan meter ke warung mi Lanzhou langganan saya.
Bagi saya, kisah dengan kantin komunitas sudah berakhir.
Harapan Tinggi vs. Realita Pahit
Kantin komunitas adalah hal baru yang awalnya disambut dengan optimisme. Seperti diberitakan Banyuetan awal tahun ini dalam artikel berjudul "Kantin Komunitas, Tak Mudah untuk Mengatakan ‘Aku Cinta Kamu’", banyak warga yang memuji inisiatif ini dan berharap kantin komunitas bisa bertahan lama.
Namun, laporan kerugian besar dan gelombang penutupan justru semakin sering terdengar.
Misalnya, jurnalis Banyuetan melaporkan bahwa di salah satu provinsi di Tiongkok bagian tengah, dari 9 kantin komunitas yang dibangun, 6 tutup karena merugi. Tingkat kerugian kantin lansia di provinsi tersebut mencapai 61,77%. Di Suzhou, Provinsi Jiangsu, dari 2.059 titik layanan makan lansia yang dibangun, hanya 913 yang masih beroperasi—dan setengahnya pun tetap rugi.
Survei dari Biro Statistik Nasional Beijing juga menunjukkan bahwa 55% pengelola kantin lansia mengaku harga makan sulit disesuaikan dengan biaya, sehingga defisit terus melebar.
Dorongan Kebijakan di Baliknya
Kelahiran kantin komunitas bermula dari dokumen Kementerian Urusan Sipil pada September 2019, yang menyerukan perluasan layanan lansia, termasuk layanan makan.
Pada 2023, 11 kementerian bersama-sama mengeluarkan Rencana Aksi untuk Mengembangkan Layanan Makan Lansia, dengan target ambisius, seperti:
- Akhir 2026: cakupan layanan makan lansia di kota dan desa semakin luas, jaringan lebih sempurna, pembangunan berkelanjutan tercapai, dan kenyamanan serta kepuasan lansia meningkat.
- Memasukkan kantin lansia ke dalam lingkar layanan perawatan rumah dan kehidupan nyaman 15 menit.
- Menggunakan properti publik yang tidak terpakai untuk layanan makan lansia.
- Memberikan keringanan pajak dan tarif utilitas rumah tangga bagi kantin lansia yang memenuhi syarat.
- Menawarkan subsidi berbeda sesuai kondisi ekonomi dan kebutuhan lansia di setiap daerah.
Dengan dukungan kebijakan sebesar ini, kantin komunitas berkembang pesat di seluruh negeri antara 2019 dan 2023.
Masalah Utama yang Mencuat
Meski gencar dipromosikan, berbagai penelitian mengungkap tantangan besar yang mereka hadapi.
Sebuah studi dari Universitas Politik dan Hukum Tiongkok Timur meneliti 25 kantin komunitas dan menemukan tiga tekanan biaya utama: sewa, tenaga kerja, dan bahan baku.
- Sewa: Beberapa mendapatkan lokasi gratis atau sewa murah dari pemerintah, tetapi mayoritas harus membayar harga pasar.
- Tenaga kerja: Sebagian besar hanya memiliki 3–8 pekerja yang mengurus semua proses, mulai dari belanja, memotong bahan, memasak, hingga membersihkan. Gaji mengikuti standar pasar, sehingga kualitas layanan sangat bergantung pada anggaran.
- Bahan baku: Semua dibeli secara komersial, dan kantin yang dikelola pemerintah sering memakai distribusi terpusat—stabil dan transparan, tetapi tidak fleksibel, sering berujung pada makanan tersisa atau kekurangan pasokan.
Tingkat kepuasan cenderung lebih tinggi di daerah kaya, di mana pemerintah lokal mampu memberikan subsidi lebih besar. Namun, subsidi ini—termasuk keringanan pajak—akan berakhir pada akhir 2025, dan perpanjangan akan bergantung pada keberhasilan nyata dalam melayani lansia.
Mengapa Model Ini Sulit Bertahan
Ada dua alasan utama mengapa kantin komunitas sulit berhasil:
- Tumpang tindih dengan restoran biasa. Layanan yang mereka tawarkan sudah tersedia di pasar, sering kali dengan kualitas dan pilihan lebih baik. Lansia tidak harus bergantung pada kantin komunitas.
- Kurang fokus pada target utama. Demi bertahan hidup, banyak kantin menerima semua usia, sehingga manfaat khusus lansia berubah menjadi “fasilitas umum.” Menu pun sering disesuaikan untuk selera muda, meninggalkan misi awal.
Situasi ini juga menimbulkan persaingan tidak sehat: kantin komunitas mendapat keuntungan dari keringanan pajak atau sewa, sementara restoran kecil biasa tidak, yang bisa membuat mereka gulung tikar.
Saatnya Memikirkan Ulang Solusi
Faktanya, kantin komunitas belum menjadi solusi kesejahteraan lansia yang efektif dan belum sepenuhnya menyelesaikan masalah makan mereka. Justru, mereka membebani ekosistem kuliner lokal dan terus berada dalam tekanan finansial.
Pendekatan yang lebih efisien mungkin adalah memberikan subsidi langsung untuk layanan antar makanan bagi lansia yang benar-benar membutuhkan. Organisasi lokal bisa mendata lansia yang memenuhi syarat, bekerja sama dengan layanan pesan-antar, dan pemerintah menanggung biaya pengirimannya—tanpa harus mengerahkan banyak departemen untuk mengelola kantin besar.
Kadang, solusi paling sederhana justru yang paling ampuh.
Athletic Bilbao Vs MU: Tugas Berat Setan Merah Redam Nico Williams
Bilbao - Manchester United menghadapi tugas berat untuk meredam agresivitas Athletic Bilbao. Athletic Bilbao punya sayap cepat seperti Nico Williams.
Suporter Jepang Ramai Membahas Piala Asia Timur U15: Usai Menonton Pertandingan, Talenta Pemain Muda China Diakui Punya Potensi Besar!
Setelah kalah 0–3 dari Jepang di ajang Piala Asia Timur U15, reaksi yang muncul justru sangat kontra...
Kontroversi: “Perawat Tercepat” Zhang Shuihua Tidak Masuk Daftar Resmi Atlet Maraton China Meski Catatan Gemilang
“Perawat tercepat” Zhang Shuihua kembali menjadi sorotan publik. Menurut data resmi, ia tidak masuk ...
Parah! Media Vietnam Sebar Rumor: Bonus 81 Juta RMB untuk China, Antonio Dipecat?
Dini hari 21 Januari, China U23 menang 3-0 atas Vietnam dan melaju ke final. Sebelum pertandingan, m...
Main Biola di Balkon Pakai Jubah Mandi—Siapa yang Dimanjakan Mata dan Telinganya? Dia Benar-Benar Idol Penuh Pesona
Henry main biola di balkon pakai bathrobe—dengan malam Paris sebagai latarnya—rasanya seperti hadiah...
Nama asli baru Jordan Chan terungkap, dikabarkan menghabiskan jutaan untuk mengganti nama seluruh keluarga demi keberuntungan
(Guangzhou, 10) Artis Hong Kong, Jordan Chan (陳小春), baru-baru ini menghadiri rapat CPPCC (Konferensi...
Michelle Chen Izinkan Putranya Rayakan Tahun Baru Bersama Chen Xiao—Warganet Puji Sikapnya yang “Berjiwa Besar”
(Taipei, 15 Feb) Aktris Taiwan Michelle Chen tahun lalu pada bulan Februari mengumumkan perceraianny...
Rockets menang 111-94 atas Knicks dengan empat kabar positif! Eason dan Sheppard kembali menemukan performa, sementara Şengün kembali ke permainan terbaiknya
Dalam laga NBA, Houston Rockets menang meyakinkan 111–94 atas New York Knicks. Rockets mengontrol pe...
Hawick Lau dan Li Xiaofeng dikabarkan telah putus, sehingga menarik perhatian publik.
(Beijing, 9 April) Pernikahan masa lalu antara aktor Hong Kong Hawick Lau dan mantan istrinya, aktri...
Instagram Hadirkan Fitur Edit Komentar: Bisa Diedit dalam 15 Menit Tanpa Perlu Posting Ulang
(New York, 10) Instagram hari ini mengumumkan kemas kini baharu bagi meningkatkan pengalaman interak...