2026年9月10日

Penutupan Toko Gucci Cerminkan Pergeseran Industri Mewah: Dari Mundur di Kota Tier Rendah hingga Ekspansi Flagship

-

Langkah Gucci menutup sejumlah tokonya bukanlah peristiwa terpisah, melainkan cerminan dari perubahan besar yang sedang melanda industri barang mewah. Dengan kondisi pasar yang semakin menurun, ambisi untuk menembus kota tier kedua dan ketiga di Tiongkok kini berangsur surut, sementara fokus kembali diarahkan ke kota-kota inti.

Menurut laporan Luxury Brand China Vitality Index 2025H1 yang dirilis Luxe.CO, jumlah pembukaan toko baru oleh merek mewah di Tiongkok turun 38% pada paruh pertama 2025 dibanding tahun sebelumnya. Di kota non-tier pertama, hanya 42 butik baru yang dibuka—penurunan tajam sebesar 48% dibanding periode yang sama pada 2024, jauh lebih besar dibanding penurunan 10% di kota tier pertama.

Banyak merek mewah kini memangkas jaringan toko mereka di kota tier kedua, bahkan ada yang sepenuhnya keluar. Misalnya, Gucci baru saja menutup tokonya di Guiyang Lixing Center, sementara Cartier juga menutup tokonya di lokasi yang sama awal tahun ini, hanya dua tahun setelah membuka cabang tersebut. Saat ini, Cartier hanya mempertahankan satu butik jam tangan di Guiyang. Dalam setahun terakhir, Loewe dan Tiffany & Co. menutup satu-satunya toko mereka di Kunming; Pomellato keluar dari Harbin, Changchun, Xi’an, dan Suzhou; sementara Bottega Veneta dan Dolce & Gabbana menutup cabang mereka di Taiyuan dan Jinan.

Rangkaian langkah ini menunjukkan strategi yang jelas: raksasa-raksasa mewah secara aktif meninggalkan pasar marjinal di kota tier rendah, dan mengalihkan sumber daya mereka untuk memperkuat flagship store di kota tier pertama dan quasi-tier pertama.

Di sisi lain, ketika toko-toko kecil menghilang, investasi besar pada flagship store justru meningkat. Sejak awal tahun, Gucci, Balenciaga, Tiffany, Louis Vuitton, dan Miu Miu telah membuka atau memperbarui flagship store bertingkat di Beijing, Shanghai, Guangzhou, dan Shenzhen—bahkan ada yang menjadi toko terbesar di Asia atau dunia.

Gucci mengambil jalur serupa. Eksekutifnya menekankan bahwa langkah ini bukanlah “sekadar penyusutan,” melainkan restrukturisasi strategis untuk mengoptimalkan jaringan ritel dan meningkatkan kualitas. Grup memperkirakan bahwa total luas ritel pada paruh pertama 2025 tetap stabil, dengan fokus pada peningkatan efisiensi dan reposisi, bukan sekadar memangkas ukuran.

Bagi Gucci, tantangan sesungguhnya adalah menemukan keseimbangan yang tepat—antara penutupan toko dengan ekspansi flagship—serta memastikan posisinya tetap eksklusif sambil menarik kembali konsumen.

Pengamat industri mencatat, penarikan diri dari kota tier kedua dilakukan untuk mencegah terjadinya dilusi merek. Di saat kebiasaan konsumen berubah, pelanggan inti cenderung rela bepergian ke kota tier pertama untuk mengunjungi “toko destinasi,” menggabungkan pengalaman belanja dengan gaya hidup premium.

Kini, membeli barang mewah bukan lagi sekadar soal produk, tetapi soal pengalaman. Flagship store memenuhi kebutuhan ini dengan sempurna: memperkuat eksklusivitas, menegaskan citra mewah, dan menciptakan dampak budaya serta pemasaran yang jauh lebih besar dibanding butik kecil yang tersebar.

接著讀