2026年9月12日

Dari Konflik Internal hingga Menyalahkan Federasi: Serangan Balik yang Terlalu Kejam—Jika Taishan Pergi, Siapa yang Bisa Bertahan?

Ketika Asosiasi Sepak Bola China (CFA) menolak banding Shandong Taishan dengan alasan “rekaman video...

Ketika Asosiasi Sepak Bola China (CFA) menolak banding Shandong Taishan dengan alasan “rekaman video tidak bisa membuktikan kontak yang sah,” fokus perdebatan sudah lama bergeser dari handball Manafa ke cara CFA menangani kasus ini—sebuah manuver yang banyak disebut sebagai “menciptakan ambiguitas lalu melempar kesalahan ke FIFA.” Kontroversi yang berawal dari laga panas pekan ke-24 CSL ini kini berkembang menjadi badai besar, mendorong sepak bola China ke tepi jurang: jika Taishan mundur, apakah liga ini masih bisa bertahan? Pada 12 September, dalam laga perebutan gelar antara Shenhua dan Taishan, umpan silang Liu Yang mengenai tangan Manafa yang terbuka lebar. Meski mendapat peringatan dari VAR, wasit utama Maimaitijiang tetap menolak meninjau ulang dan tidak memberikan penalti. Tak lama kemudian, Li Ke mendorong Wang Dalei sebelum mencetak gol, namun tetap disahkan. Taishan pun mengajukan banding lengkap dengan bukti detail, namun Komite Wasit CFA memperlihatkan perpecahan internal: mereka tak kunjung bisa menetapkan handball tersebut, lalu berdalih akan “meminta pendapat ahli FIFA.” Dua minggu kemudian, hasilnya lebih membingungkan: mengakui lengan Manafa memperbesar tubuhnya secara tidak wajar, tetapi tetap mempertahankan keputusan awal dengan alasan “rekaman kabur,” dan tanggung jawab dilempar ke “penilaian teknis” FIFA. Serangan balik penuh alasan ini justru menyingkap kelemahan dan ketidakmampuan CFA. Sebagai pengelola liga, CFA seharusnya mengaktifkan proses peninjauan yang ketat, bukan melempar masalah liga domestik ke FIFA. Ironisnya, jika CFA sendiri mengakui rekaman “tidak jelas,” mengapa masih perlu mencari “otoritas internasional”? Publik langsung menyebutnya “lelucon internasional”—apakah penilaian CSL benar-benar sudah jatuh hingga harus minta pengadilan galaksi? Lebih jauh, fakta bahwa VAR jelas memberi sinyal, wasit menolak meninjau, dan komunikasi antarwasit tetap disembunyikan, semakin memperkuat dugaan adanya “operasi gelap.” Yang lebih mengkhawatirkan dari sekadar lempar kesalahan adalah kenyataan bahwa wasit kontroversial tampak kebal dari sanksi. Maimaitijiang, yang memimpin laga ini, sebelumnya sudah 11 kali memimpin pertandingan Taishan dan hanya memberi mereka 3 kemenangan. Rekam jejaknya penuh kontroversi, namun ia tetap dipercaya memimpin laga penting. Padahal, aturan CFA sendiri menyebut tiga kesalahan besar dalam semusim seharusnya berujung pada suspensi. Nyatanya, aturan ini hanya jadi kertas kosong. Ada kasus wasit yang empat kali merugikan Taishan dalam semusim, namun tetap bebas bertugas. Situasi ini membuat klub dan fans merasa dikhianati. Ketika peluit wasit menjadi “palu godam” yang terus menghantam Taishan, ketika pelanggaran serupa membuat pemain Taishan tiga kali lebih sering dihukum kartu dibanding lawan, maka batas keadilan liga sudah terkikis habis. CFA mungkin tak pernah benar-benar menghitung harga dari “memaksa Taishan keluar.” Ini jelas bukan kasus sederhana seperti mundurnya Jiangsu. Taishan adalah klub legendaris berusia 28 tahun, fondasi pengembangan usia muda CSL. Hanya di musim 2024, mereka menyumbang 74 pemain untuk tim nasional di berbagai level—hampir seperlima dari total pasokan talenta liga. Ribuan sekolah sepak bola bergantung pada ekosistem Taishan untuk bertahan. Dari sisi bisnis, mundurnya Taishan bisa memicu sponsor hengkang. Beberapa kontrak bahkan mencantumkan klausul pembatalan bila “tim inti” mundur. Lebih fatal lagi adalah pukulan terhadap kepercayaan publik. Fans yang selama ini mendukung klub yang setia pada pembinaan dan keadilan mungkin benar-benar meninggalkan liga jika Taishan dipaksa mundur. Dan sekali kepercayaan hilang, siapa yang masih mau menonton? Kini, “mundur” bukan lagi sekadar emosi fans, melainkan luka nyata yang harus dihadapi seluruh keluarga Taishan. Pemain harus menahan diri di lapangan, pelatih hanya bisa mengepalkan tangan saat dirugikan, dan para suporter setia hanya bisa menggelengkan kepala di depan kamera. Mantan kapten Shu Chang merangkum masalah inti dengan jelas: “Kami tidak takut kalah, tapi kami takut kalah tanpa kejelasan, takut usaha pemain dihapus begitu saja oleh peluit wasit.” CSL kini benar-benar berada di tepi jurang, dengan Shandong Taishan menjadi tali terakhir yang menahannya. Jika CFA terus memilih “melindungi wasit” daripada menegakkan akuntabilitas, terus menghindar dengan “melempar tanggung jawab,” maka mereka sendiri yang akan memotong tali itu. Bila skenario “Taishan mundur” berubah jadi kenyataan, dampaknya akan sangat dahsyat: pembinaan usia muda lumpuh, sponsor mundur, fans meninggalkan stadion. Pada saat itu, bicara reformasi sepak bola hanya akan terdengar sebagai janji kosong. Kontroversi yang bermula dari sebuah handball ini akhirnya menjadi ujian sejati: apakah CFA masih punya niat tulus untuk menjaga integritas liga? Jika niat itu sudah hilang, apakah sepak bola China benar-benar sanggup menahan langitnya agar tidak runtuh?

接著讀