2026年9月10日

Meski Hanya Raup Laba 4%, Raksasa Chip Ponsel Qualcomm Nekat Taruhan Besar di Pasar AI PC — Mengapa?

“Keuntungan dari satu unit komputer sebenarnya tidak besar, hanya sekitar 4% saja,” ujar Don McGuire...

“Keuntungan dari satu unit komputer sebenarnya tidak besar, hanya sekitar 4% saja,” ujar Don McGuire, Wakil Presiden Senior sekaligus Chief Marketing Officer Qualcomm. Namun, pasar berdarah-darah dengan margin tipis ini justru menjadi medan tempur baru bagi raksasa chip ponsel tersebut. Bagi Qualcomm, ini bukan sekadar bisnis—ini adalah permainan yang harus mereka menangkan.

Menurut lembaga riset Counterpoint, Qualcomm masih menjadi penguasa global di segmen chip flagship Android dengan pangsa pasar hampir 60% pada tahun lalu. Meski masih di posisi puncak, CEO Cristiano Amon kini dihadapkan pada krisis yang sulit dihindari. Pertumbuhan pasar smartphone melambat, sementara klien besar seperti Xiaomi dan Samsung semakin agresif mengembangkan chip mereka sendiri. Lebih parah lagi, Apple—pelanggan utama Qualcomm—tengah bersiap meninggalkan chip modem buatan Qualcomm sepenuhnya.

Selama ini, Apple berkontribusi sekitar 17% dari total pendapatan Qualcomm, setara dengan 6 miliar dolar AS per tahun. Namun sejak Apple mengakuisisi bisnis modem Intel pada 2019 dan mulai mengembangkan chip internalnya, situasinya berubah. Chip modem buatan sendiri, Apple C1, kini sudah digunakan secara komersial, dan analis memperkirakan bahwa pada tahun 2027, pesanan Apple untuk Qualcomm bisa benar-benar hilang.

Untuk mengantisipasi hal itu, Qualcomm mempercepat diversifikasi ke pasar IoT dan otomotif. Meski menunjukkan pertumbuhan, kontribusi keduanya masih terbatas—chip otomotif menghasilkan pendapatan sekitar 980 juta dolar AS pada kuartal terakhir, atau hanya 9% dari total pendapatan. Bisnis ini memang menjanjikan dalam jangka panjang, namun belum mampu menutup celah pendapatan dalam waktu dekat. Karena itu, Qualcomm kini mengalihkan fokus penuh pada pasar baru yang sedang berkembang pesat: AI PC.

Amon dengan percaya diri menyatakan dalam laporan keuangan bahwa “platform chip terbaru kami, Snapdragon X Elite, akan menjadi pilihan utama produsen PC di era AI. Kecerdasan buatan akan menjadi pendorong utama evolusi komputasi.” Pernyataan yang ambisius—namun jalan di depan jelas tidak mudah.

Pasar PC selama ini dikuasai oleh “aliansi Wintel” (Windows + Intel) yang masih memegang sekitar 70% pangsa pasar global. Sebagai pendatang baru, Qualcomm mencoba menembus dominasi ini dengan chip berbasis arsitektur Arm yang lebih hemat daya. Sayangnya, Apple sudah lebih dulu menempati posisi penting di segmen ini dengan chip Arm buatannya sendiri untuk MacBook, yang terkenal karena daya tahan baterai “sepanjang hari tanpa perlu mengisi daya”. Strategi ini sukses mendorong pangsa pasar Mac hingga 9,5%.

Kini, kabar beredar bahwa Apple akan segera meluncurkan Mac versi hemat dengan harga di bawah 5.000 yuan (sekitar Rp11 juta), yang berpotensi menarik lebih banyak pengguna baru ke dalam ekosistemnya. Seperti dikatakan oleh analis senior Omdia, Lin Xinliang, “Sekali pengguna masuk ke ekosistem Apple, mereka hampir mustahil untuk keluar.”

Bagi Qualcomm, tekanan datang dari dua sisi—kompetisi harga rendah di satu sisi dan potensi hilangnya 20% pendapatan di sisi lain. Sebelum menghadapi jurang itu, Qualcomm tahu mereka harus berubah, tidak hanya dalam strategi produk, tetapi juga dalam cara berpikir. Dalam waktu singkat, hanya 15 bulan, Qualcomm meluncurkan jajaran produk AI PC lengkap dari kelas premium hingga menengah dan menetapkan target ambisius: merebut 12% pangsa pasar PC global pada tahun 2029—melampaui Apple.

Namun, hasilnya masih jauh dari harapan. Pangsa pasar PC Qualcomm hingga kini belum mencapai 3%. McGuire dengan jujur mengakui bahwa strategi awal mereka tidak tepat: “Kami sadar bahwa AI terasa terlalu abstrak bagi konsumen biasa. Kami harus menjadikannya sesuatu yang nyata dan relevan dalam kehidupan mereka.”

Karena itu, Qualcomm kini mengubah total pendekatan pemasarannya. Perusahaan yang dulunya hanya berinteraksi dengan produsen dan pengembang kini mulai belajar berbicara langsung kepada konsumen—khususnya generasi muda seperti Gen Z dan Alpha. Alih-alih menonjolkan spesifikasi teknis seperti performa dan efisiensi daya, Qualcomm kini menggunakan bahasa sederhana dan emosional, seperti slogan “Tanpa charger? Tidak masalah”, yang menekankan daya tahan baterai dan kenyamanan.

Qualcomm juga membangun hubungan dengan komunitas kreator muda—mereka yang aktif di media sosial dan selalu ingin mencoba teknologi terbaru. Dengan kolaborasi bersama Yamaha untuk software musik dan Razer untuk perangkat gaming, Qualcomm menunjukkan bahwa ekosistem PC-nya kini mampu mendukung kreasi dan hiburan digital sepenuhnya. Bahkan detail kecil seperti stiker laptop bertepi emas dirancang ulang untuk memberikan kesan premium dan aspiratif.

Untuk memperkuat transformasi ini, Qualcomm membentuk tim “Go-To-Market” dengan lebih dari 100 anggota yang fokus pada pemasaran langsung ke konsumen—sesuatu yang belum pernah dilakukan perusahaan ini sebelumnya. Bagi perusahaan yang berakar kuat pada budaya insinyur, langkah ini merupakan perjalanan pembelajaran besar. “Ini adalah proses belajar,” kata McGuire. “Kami masih mencari gaya komunikasi yang benar-benar mencerminkan karakter Qualcomm.”

Di era smartphone, Qualcomm bisa bertahan di puncak berkat keunggulan teknologi. Namun di era AI PC, teknologi saja tidak cukup. Tantangan sejati adalah bagaimana Qualcomm belajar berbicara dengan bahasa konsumen—membangun hubungan emosional, bukan sekadar fungsional. Transformasi ini bukan hanya soal memperluas lini produk, tetapi juga soal perubahan cara berpikir. Di era baru yang digerakkan oleh AI, inovasi harus berjalan seiring dengan empati—karena di dunia ini, koneksi dengan manusia adalah keunggulan paling kompetitif.

接著讀