2026年9月10日

Raup Untung Ratusan Juta dari Buffet Seafood? Kafe Internet, KTV, dan Teater Kini Dipadati Anak Muda yang Datang untuk Makan!

Beberapa waktu lalu, sebuah warnet di Wuhan bernama X-GAME Esports Hall mendadak viral karena satu h...

Beberapa waktu lalu, sebuah warnet di Wuhan bernama X-GAME Esports Hall mendadak viral karena satu hal yang tak terduga — mereka menyediakan buffet seafood, dan tempat itu pun langsung dipadati anak muda yang datang bukan untuk main game, melainkan untuk makan.

Menurut laporan Jiupai News, layanan makan di warnet ini mencakup berbagai waktu — dari sarapan, makan malam, hingga menu tengah malam — memenuhi kebutuhan para gamer sepanjang hari. Harganya juga tergolong ramah di kantong: paket makan sepuasnya termasuk akses internet hanya dibanderol 69,9 yuan, dan pelanggan baru atau yang mengisi saldo 200 yuan akan mendapatkan satu kali makan gratis. Jika menginap di kapsul atau hotel esports di dalam gedung, pengunjung bahkan bisa menikmati tiga kali makan gratis setiap hari.

Menariknya, semua hidangan disiapkan langsung oleh koki profesional. Menu yang ditawarkan pun sangat beragam — sarapan berupa mi dan gorengan ringan, makan malam dengan paket “empat lauk satu sup”, serta aneka hidangan laut segar yang berganti setiap hari, seperti kepiting, cumi, udang, dan kerang. Selain itu, tersedia juga masakan rumahan seperti tahu dan terong, lengkap dengan buah-buahan dan kue sebagai penutup.

Kombinasi makan dan bermain ini langsung disambut hangat oleh anak muda. Menurut pengelola, layanan makanan tersebut sukses besar — hanya dalam bulan pertama, pendapatan mereka menembus lebih dari satu juta yuan berkat konsep unik yang sulit ditemukan di tempat lain.

Fenomena seperti ini ternyata bukan kasus tunggal. Tren menggabungkan konsep “+ kuliner” kini semakin marak di berbagai bidang. Tak hanya makan seafood di warnet, kini banyak anak muda yang menikmati makan sambil bermain escape room, atau menonton film sambil menyantap hotpot.

Bahkan, angin segar “makan tak biasa” ini sudah sampai ke tempat yang sebelumnya terkesan serius — museum. Menurut laporan New Weekly, kantin komunitas di Museum Sichuan kini tengah viral di kalangan anak muda dan menjadi “paket wajib” saat berkunjung. Menu kecil di sana dijual antara 3 hingga 12 yuan, dengan salad sayur seharga 3 yuan dan salmon hanya 12 yuan — harga yang nyaris setara dengan kantin universitas, dengan nilai yang luar biasa tinggi.

Hal serupa juga terjadi di Museum Provinsi Liaoning, yang populer berkat menu kantinnya. Hidangan andalan berupa nasi lauk satu daging satu sayur seharga 22 yuan menjadi favorit pengunjung, bersama menu lain seperti mala tang, nasi terong, dan mi zha jiang. Tak sedikit pengunjung datang bukan untuk melihat pameran, tapi untuk menikmati hidangan khas museum ini.

Kebiasaan “makan sambil hiburan” di kalangan anak muda sebenarnya sudah terlihat sejak beberapa tahun lalu. KTV di kota-kota besar seperti Chengdu, Shanghai, dan Guangzhou telah lebih dulu membawa konsep ini ke level baru — menghadirkan hotpot, BBQ, dan buffet langsung di dalam ruang karaoke, agar pengunjung bisa “menyanyi sambil makan” dengan puas.

Selain KTV, sejumlah restoran bertema teater dan permainan interaktif juga ikut meramaikan tren ini.

Salah satunya adalah Happy Mahua · Jianghu Banquet, restoran teater bertema pertama di Tiongkok yang dibuka di Beijing pada Juli lalu. Saat pelanggan menikmati hidangan khas Yunnan, Sichuan, dan Guizhou seperti ikan kuah asam buah markisa, ayam kari kentang, dan ayam pedas khas Sichuan, pertunjukan drama “The Stolen Heart Dinner” versi kostum klasik dimainkan langsung di panggung. Pengunjung juga bisa ikut berpartisipasi dalam permainan interaktif seperti lempar panah dan dadu. Rata-rata pengeluaran per orang sekitar 98 yuan, sementara tiket pertunjukan dijual dengan harga antara 180 hingga 380 yuan.

Di Fuzhou, ada pula restoran bertema horor yang memadukan escape room dengan kuliner Barat. Sebelum makan, pelanggan harus menandatangani “surat hidup dan mati” lalu menelusuri rute menyeramkan berdasarkan peta dari karakter NPC untuk menemukan meja mereka. Setelah duduk, para pelayan yang berperan sebagai zombie dan vampir akan mengantarkan makanan dengan gaya “horror show” yang membuat jantung berdebar sekaligus terhibur.

Namun, tak semua konsep “+ kuliner” berjalan mulus. Banyak restoran dengan konsep kreatif justru dikritik karena kualitas makanannya. Contohnya adalah restoran teater kuliner imersif di Shanghai “The Solitary Gourmet’s Spoon of Love”, yang menuai banyak komentar bahwa meskipun konsepnya menarik, rasa makanannya biasa saja. Seorang pengunjung menulis, “Idenya keren, tapi mereka lupa hal terpenting — makanannya.”

Secara umum, restoran dengan konsep “+ kuliner” memang lebih fokus pada pengalaman dibanding rasa. Meski begitu, banyak pelanggan tetap bersedia menurunkan ekspektasi asalkan suasananya seru dan berkesan.

Tetapi satu hal pasti — pengalaman yang menyenangkan tidak bisa menggantikan rasa yang memuaskan. Pada akhirnya, bisnis kuliner selalu berpegang pada satu prinsip sederhana: makanan enak adalah kunci kesuksesan.

接著讀