2026年9月10日

Bahkan OpenAI Siap Melantai di Bursa!

Para pendiri startup AI kini mulai berlari menuju pasar saham. Pada 30 Oktober, berbagai media melap...

Para pendiri startup AI kini mulai berlari menuju pasar saham. Pada 30 Oktober, berbagai media melaporkan bahwa OpenAI berencana untuk mengajukan penawaran umum perdana (IPO) paling cepat pada paruh kedua tahun 2026 dan resmi melantai di bursa pada 2027. Valuasi perusahaan ini diperkirakan bisa menembus angka luar biasa sebesar 1 triliun dolar AS, dengan target penggalangan dana minimal 60 miliar dolar AS.

Kabar ini langsung mengguncang dunia kecerdasan buatan global. Namun, bukan hanya OpenAI yang bersiap menuju bursa saham—di dalam negeri, sejumlah startup AI juga tengah bersiap menghadapi gelombang IPO besar-besaran. Di pasar Tiongkok, perusahaan seperti Unitree Robotics, Kujiale Technology, Moore Threads, dan Zhipu AI—yang sering dijuluki sebagai “naga dan harimau kecil” di industri AI—tengah berada di berbagai tahap menuju penawaran saham perdana.

Contohnya, Zhipu AI telah memulai proses persiapan IPO sejak April 2025. Pada Oktober tahun yang sama, DeepScience (01384.HK) resmi terdaftar di Bursa Efek Hong Kong, menjadi perusahaan pertama yang berfokus pada aplikasi AI berbasis model besar di tingkat korporat. Sementara itu, MiningLamp Technologies juga telah memulai proses penawaran saham dan diperkirakan akan melantai pada November. Dari Amerika Serikat hingga Tiongkok, perusahaan-perusahaan AI kini berbondong-bondong melangkah ke pasar modal. Namun pertanyaan besar pun muncul: apakah IPO menjadi awal perjalanan baru, atau justru garis akhir bagi para inovator AI?

Bagi pasar global, rencana IPO OpenAI memiliki arti historis yang luar biasa. Menurut laporan, OpenAI akan mengajukan permohonan resmi pada akhir 2026 dan berpotensi mencatatkan sahamnya pada 2027 dengan valuasi mendekati 1 triliun dolar AS—yang dapat menjadikannya salah satu perusahaan dengan IPO terbesar dalam sejarah.

Perjalanan OpenAI sendiri bermula dari semangat idealisme. Didirikan pada tahun 2015 oleh Elon Musk, Sam Altman, dan Peter Thiel, OpenAI awalnya berdiri sebagai organisasi nirlaba dengan misi “memastikan kecerdasan buatan umum (AGI) memberikan manfaat bagi seluruh umat manusia.” Visi idealis ini muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi riset AI yang saat itu dikuasai oleh raksasa seperti Google dan berpotensi tertutup bagi publik.

Namun, perjalanan dari organisasi nirlaba menuju perusahaan dengan valuasi triliunan dolar bukanlah hal yang mudah. Setelah Elon Musk keluar pada 2018 dan kebutuhan pendanaan untuk pengembangan model AI melonjak drastis, OpenAI bertransformasi menjadi perusahaan berbasis “keuntungan terbatas” (capped-profit) pada 2019. Di tahun yang sama, Microsoft masuk sebagai mitra strategis dengan investasi sebesar 1 miliar dolar AS.

Titik balik terbesar terjadi pada November 2022 saat OpenAI merilis ChatGPT. Hanya dalam lima hari, jumlah pengguna menembus 1 juta—menjadikannya salah satu aplikasi dengan pertumbuhan tercepat dalam sejarah. Kesuksesan ini diikuti oleh peluncuran model video AI “Sora” pada Februari 2024 dan GPT-5 pada Agustus 2025, memperkuat dominasi OpenAI di kancah inovasi AI global.

Seiring dengan pertumbuhan pesat ChatGPT, langkah komersialisasi OpenAI juga semakin agresif. Pada 2023, pendapatan perusahaan menembus 1,6 miliar dolar AS, dan diperkirakan mencapai tingkat pendapatan tahunan sebesar 20 miliar dolar pada 2025. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah pengguna aktif mingguan telah melampaui 800 juta. Namun, di balik laju pertumbuhan yang mencengangkan, struktur nirlaba sebelumnya justru menjadi penghambat dalam hal pendanaan dan ekspansi.

Menyadari hal itu, OpenAI memulai proses restrukturisasi pada 2024 dan menyelesaikannya pada 28 Oktober 2025. Setelah restrukturisasi, OpenAI memiliki kebebasan penuh untuk menghimpun modal, melakukan akuisisi, dan menyiapkan langkah menuju IPO.

Menariknya, gelombang IPO tidak hanya terjadi di Amerika. Di Tiongkok, geliat serupa juga tengah menguat. Berdasarkan data LiveReport, hingga pertengahan 2025, terdapat hampir 50 perusahaan AI yang telah mengajukan permohonan IPO ke Bursa Hong Kong. Di antara mereka, Zhipu AI yang dijuluki sebagai bagian dari “Enam Harimau AI” diperkirakan akan menjadi yang pertama melantai. Sejak berdiri, perusahaan ini telah menjalani 15 putaran pendanaan dengan total lebih dari 11 miliar yuan dan valuasi mencapai lebih dari 20 miliar yuan.

Menurut analis industri AI, Lin Qiang, pasar saat ini berada di “ambang ledakan.” Investor berlomba-lomba menanamkan modal pada perusahaan yang diyakini mampu membentuk masa depan AI. “Antusiasme pasar modal membuktikan bahwa bahkan dominasi raksasa teknologi tidak bisa menghentikan semangat tajam para startup,” ujarnya.

Baik di San Francisco maupun di Shanghai, daya tarik IPO tidak dapat dipungkiri. Bagi OpenAI, langkah menuju bursa bukan sekadar ambisi—tetapi juga kebutuhan. Meski pendapatannya melonjak, biaya operasional perusahaan meningkat tajam, mulai dari infrastruktur komputasi hingga gaji super tinggi bagi talenta kelas dunia. Perkiraan internal bahkan menunjukkan bahwa OpenAI bisa menanggung kerugian hingga 40 miliar dolar AS pada 2028, dan baru akan menghasilkan arus kas positif sekitar 2030.

Dengan IPO, OpenAI berharap bisa mengamankan dana besar untuk memperluas infrastruktur AGI, mengakselerasi riset generasi berikutnya, dan memperkuat posisinya di pasar global. CEO Sam Altman pun menegaskan bahwa IPO adalah “jalur paling mungkin” untuk mendukung ambisi mereka dalam mengalirkan triliunan dolar ke dalam ekosistem kecerdasan buatan.

Bagi investor seperti SoftBank, Thrive Capital, dan MGX dari Abu Dhabi, IPO ini berpotensi menjadi tambang emas yang menghasilkan keuntungan luar biasa. “Valuasi 1 triliun dolar bukan hanya mencerminkan pendapatan OpenAI, tetapi juga simbol kekuatan dan pengaruhnya dalam tatanan teknologi baru,” ujar Lin Qiang.

Namun, ia menegaskan bahwa IPO bukanlah garis akhir—melainkan titik awal dari maraton baru. Tidak seperti IPO tradisional yang bertujuan memberikan jalan keluar bagi investor awal, langkah OpenAI lebih bertujuan memperdalam investasi di bidang AGI serta memperluas pengaruhnya melalui jejaring modal global.

Tantangan di depan juga tidak kecil. OpenAI harus menyeimbangkan antara ambisi jangka panjang menuju AGI dan tekanan jangka pendek dari pasar saham, sambil bersaing dengan raksasa seperti Microsoft, Google, dan Amazon, serta gelombang komunitas open-source yang berkembang cepat. “Investor tidak membeli profit OpenAI hari ini, mereka membeli opsi masa depan terhadap AGI,” jelas Lin Qiang. “Jika OpenAI berhasil membuka pintu menuju AGI, nilainya bisa meningkat berkali lipat—seperti halnya taruhan awal pada internet atau mobil listrik.”

Namun risiko tetap mengintai. Jalan menuju AGI penuh dengan hambatan teknis, biaya komputasi yang terus melonjak, serta persaingan ekosistem yang semakin sengit. IPO bagi OpenAI mungkin membuka pintu menuju masa depan, tetapi belum tentu menjamin jalan yang mulus di baliknya.

Bagi OpenAI maupun startup AI di seluruh dunia, makna dari melantai di bursa jauh melampaui sekadar angka valuasi. “Ketika sebuah teknologi cukup kuat untuk membentuk kembali peradaban, apakah ia seharusnya dikendalikan sepenuhnya oleh kapital, atau harus membawa misi yang lebih tinggi?” tanya Lin Qiang.

Di Tiongkok, pertanyaan serupa juga menggema. Generasi baru perusahaan AI seperti Zhipu dan Moore Threads sedang berlari cepat menuju pasar saham, namun tantangan terbesar mereka bukan hanya mengumpulkan modal, melainkan membangun model bisnis yang berkelanjutan. Gelombang pertama “Empat Naga AI” (SenseTime, Megvii, Yitu, dan CloudWalk) telah membuktikan bahwa IPO tidak menjamin kesuksesan komersial.

Kini, generasi baru perusahaan AI muncul dengan model besar, inovasi cepat, dan strategi monetisasi yang lebih jelas. Namun seperti yang dikatakan Lin Qiang, “Bagi perusahaan AI, garis akhir sejati bukanlah lonceng IPO—melainkan saat teknologi mereka benar-benar menciptakan nilai. Dalam maraton kecerdasan ini, hanya mereka yang mampu mengubah inovasi menjadi dampak nyata yang akan bertahan hingga akhir.”

接著讀

Konflik Israel-Iran Memanas dalam 6 Jam: Lima Gelombang Serangan dan 100+ Drone Picu Krisis Kawasan

Konflik antara Israel dan Iran meningkat tajam. Pada 13 Juni, Israel meluncurkan lima gelombang serangan udara ke fasilitas nuklir dan militer Iran. Sebagai balasan, Iran mengirimkan lebih dari 100 drone ke wilayah Israel. Serangan ini menyebabkan korban jiwa, termasuk pejabat tinggi militer dan ilmuwan nuklir. AS mengaku diberi tahu sebelumnya, namun tidak terlibat langsung. PBB menyerukan penahanan diri maksimum karena Timur Tengah terancam masuk ke dalam krisis besar.

454 天前