2026年9月10日

Peta Baru Dua Raksasa Kopi di Kota-Kota: Ke Mana Arah Masa Depan Starbucks?

Dengan valuasi mencapai 13 miliar dolar AS, Boyu Capital resmi mengakuisisi 60% saham Starbucks Chin...

Dengan valuasi mencapai 13 miliar dolar AS, Boyu Capital resmi mengakuisisi 60% saham Starbucks China. Kesepakatan besar ini akhirnya tuntas, mengguncang industri dan dipandang sebagai titik balik strategis paling signifikan bagi Starbucks sejak memasuki pasar Tiongkok pada 1999.

Beberapa tahun lalu, “Starbucks Index” sempat menjadi indikator populer untuk menilai vitalitas bisnis kota, daya saing kawasan, hingga nilai investasi. Namun, posisi sang raksasa kopi global di pasar Tiongkok kini tidak lagi sekuat sebelumnya.

Perubahan ini terlihat jelas pada peta persaingan kedai kopi di dalam negeri. Menurut data pemantauan merek Jihai, Starbucks memiliki 8.105 gerai di seluruh negeri, sementara Luckin Coffee mencapai 29.794 gerai dan Cotti Coffee menyusul dengan 15.703 gerai. Jumlah gerai Starbucks kini hanya sekitar separuh dari Cotti, dan kurang dari sepertiga Luckin.

Dalam beberapa tahun terakhir, Luckin muncul sebagai kekuatan baru melalui ekspansi agresif dan strategi harga murah. Dari jumlah gerai hingga penjualan tahunan, Luckin berhasil menyalip Starbucks dan menjadi pesaing terkuat di pasar Tiongkok.

Keberhasilan Luckin ini banyak dikaitkan dengan harga yang lebih terjangkau, percepatan ekspansi yang jauh lebih cepat, serta kemampuan membaca preferensi konsumen lokal secara tepat—semuanya erat terkait dengan strategi penempatan wilayahnya.

Lalu, provinsi dan kota mana yang paling diminati Starbucks dan Luckin untuk membuka gerai?

Berdasarkan data Jihai, Zhejiang menjadi provinsi dengan jumlah gerai Starbucks terbanyak, yakni 1.205 gerai. Sementara itu, Luckin mendominasi Guangdong dengan 4.320 gerai.

Jika dilihat pada tingkat kota, tiga kota dengan jumlah gerai Starbucks terbanyak adalah Shanghai, Beijing, dan Hangzhou. Sementara bagi Luckin, tiga teratas adalah Shanghai, Shenzhen, dan Guangzhou.

Berbeda dengan Starbucks yang sangat terkonsentrasi di kota-kota tier-1 dan tier-1 baru, Luckin telah membangun jaringan yang lebih merata hingga ke kota tier-2, tier-3, bahkan tier-4. Dari total 8.105 gerai Starbucks, sekitar 64% berada di kota tier-1 dan tier-1 baru. Pada Luckin, komposisinya lebih seimbang: 44% berada di tier-1/tier-1 baru, dan 39% berada di tier-2 dan tier-3.

Perbedaan ini menggambarkan posisi dan target pasar kedua merek. Starbucks mengedepankan pengalaman konsumsi premium melalui konsep “third place” yang berfokus pada gaya hidup. Sementara Luckin unggul lewat efisiensi dan harga bersahabat—menjadikannya “logistik harian” bagi pekerja, didukung oleh basis penduduk besar di kota-kota menengah.

Kemitraan Starbucks dengan Boyu terjadi pada saat persaingan pasar kopi di Tiongkok semakin memanas. Keduanya menetapkan target besar: memperluas Starbucks China hingga mencapai 20.000 gerai di masa mendatang.

Brian Niccol, Chairman dan CEO Starbucks, menegaskan bahwa pengalaman lokal Boyu akan mempercepat pengembangan Starbucks di pasar Tiongkok—terutama di kota-kota kecil dan wilayah yang tengah tumbuh. Banyak analis industri menilai bahwa pasar lapis bawah inilah yang akan menjadi kunci bagi Starbucks untuk kembali mempercepat ekspansi dan meraih momentum baru.

接著讀

Kejutan di Panggung! CEO Astronomer dan Kepala HR “PDA” di Konser Coldplay, Keduanya Diskors

Pada 17 Juli, saat tur Coldplay mampir ke Gillette Stadium di Foxborough, momen “dekat nan manis” di layar besar mendadak viral—CEO Astronomer Andy Byrne dan direktur HR Christine Cabot tertangkap berpelukan dan menutup muka di layar. Vokalis Chris Martin menggodanya, “Apa mereka selingkuh?” Kini keduanya diskors untuk penyelidikan internal, dan dunia hiburan heboh!

417 天前