2026年9月10日

Van Persie Menangis Penuh Penyesalan: Satu Pergantian, Luka Seorang Ayah

Pada 30 Januari dini hari, perjalanan Feyenoord di Liga Europa berakhir dengan duka. Kekalahan 1-2 d...

Pada 30 Januari dini hari, perjalanan Feyenoord di Liga Europa berakhir dengan duka. Kekalahan 1-2 dari Real Betis di laga tandang bukan hanya berarti tersingkir dari kompetisi, tetapi juga menghadirkan momen paling menyakitkan dalam karier kepelatihan Robin van Persie.

Feyenoord wajib menang untuk menjaga peluang lolos, namun tertinggal 0-2 di babak pertama. Di babak kedua, Van Persie melakukan sejumlah pergantian pemain, termasuk memasukkan putranya yang berusia 19 tahun, Shaqueel van Persie. Musim ini, sang pelatih memang mempromosikan Shaqueel dari tim muda ke tim utama, dan sang anak sempat mencuri perhatian dengan dua gol sebagai pemain pengganti pada 19 Januari.

Tak lama setelah Shaqueel masuk, Feyenoord berhasil memperkecil ketertinggalan. Harapan sempat muncul, tetapi hanya bertahan singkat. Pada menit ke-11 setelah masuk, Shaqueel mengalami cedera lutut serius akibat salah mendarat saat berebut bola. Ia langsung terjatuh, menangis kesakitan, dan tidak mampu melanjutkan pertandingan.

Di pinggir lapangan, Van Persie tampak tegang sambil menatap tayangan ulang. Saat Shaqueel diangkat dengan tandu, Van Persie menghentikannya sejenak untuk menenangkan sang anak.

Feyenoord akhirnya kalah dan tersingkir, namun hasil pertandingan tak lagi menjadi hal utama. Dalam konferensi pers usai laga, Van Persie yang berusia 42 tahun tak kuasa menahan air mata.

“Kondisinya tidak bagus,” ujarnya. “Masih perlu pemeriksaan lanjutan, tetapi tanda awalnya tidak positif. Saya selalu khawatir jika ada pemain cedera—hari ini kebetulan itu anak saya sendiri. Saya berharap cederanya tidak terlalu parah.”

Mengenang keputusan memasukkan Shaqueel, Van Persie berkata dengan penuh emosi: “Ini benar-benar menghancurkan. Saya adalah pelatihnya, tapi juga ayahnya. Melihat dia mengalami ini, rasanya sangat menyakitkan.”

接著讀