2026年9月10日

Dulunya “DSLR di Dunia Smartphone,” Kini Terseret Isu AI: Bisakah Nubia Bangkit dengan “Doubao AI”?

Pada 1 Desember, konsep smartphone AI membakar sektor elektronik konsumen, dengan ZTE mencatat kenai...

Pada 1 Desember, konsep smartphone AI membakar sektor elektronik konsumen, dengan ZTE mencatat kenaikan harga saham hingga batas harian dan volume transaksi lebih dari ¥13,1 miliar. Smartphone AI yang dikembangkan bersama ByteDance dan ZTE diperkirakan akan diluncurkan awal Desember—ByteDance menangani integrasi model besar Doubao dan fitur interaksi AI, sementara ZTE memimpin desain hardware dan produksi. Kolaborasi ini memicu antisipasi besar di industri.

Namun, antusiasme pasar cepat mereda. Hari berikutnya, saham AH ZTE mengalami koreksi, dengan H-shares jatuh lebih dari 6% intraday. Nubia M153 kini tersedia dalam jumlah terbatas di situs Doubao Assistant dan ZTE Mall seharga ¥3.499, hanya tersedia dalam konfigurasi 16GB+512GB. Beberapa platform second-hand bahkan telah menaikkan harga lebih dari ¥700.

Pakar industri menekankan, “Asisten model besar mungkin akan menjadi fitur standar di smartphone di masa depan. Dalam jangka pendek, kolaborasi semacam ini lebih banyak untuk meningkatkan kepercayaan pasar dan kinerja saham, bukan untuk secara fundamental meningkatkan pengalaman inti smartphone.” AI tidak bisa langsung menyelesaikan masalah inti seperti kamera, daya tahan baterai, atau kelancaran sistem.

Meski pasar sempat bergairah, Nubia masih menghadapi masalah kontrol kualitas. Untuk merek niche di pasar yang didominasi raksasa, bertahan hidup tetap penuh tantangan. Bisakah kemitraan dengan ByteDance menjadi kunci kebangkitan?

Dari Menandatangani Cristiano Ronaldo hingga Menjadi “DSLR di Smartphone”

Nubia didirikan pada 2012, membawa ambisi ZTE untuk menembus pasar high-end. Inovasi awal dalam fotografi dan teknologi sentuhan tepi membuatnya dijuluki “DSLR di smartphone.” Pada 2015, Nubia menandatangani Cristiano Ronaldo untuk memperluas pasar global, namun pangsa pasar tetap sekitar 1%, menjadikannya merek niche.

Belakangan, Nubia menghadapi masalah kontrol kualitas dan pemasaran. Peluncuran Z80 Ultra pada 22 Oktober mengalami dua kali blackout live streaming, menimbulkan keraguan terkait kemampuan kamera dan harga. Dibanding merek mainstream, Nubia tertinggal dalam kemampuan telefoto dan algoritma fotografi, membuat pemotretan jarak jauh menjadi kelemahan.

Kenyataan Pahit dari Impian High-End

Sejak awal, Nubia menargetkan pasar premium. Namun dalam lanskap yang didominasi Apple dan Samsung, basis pengguna dan penjualan tetap terbatas. Tanpa diferensiasi jelas dan pengalaman menengah-ke-tinggi yang memadai, persaingan menjadi sangat ketat.

Pengguna melaporkan masalah berulang: fokus kamera belakang tidak stabil, layar mudah tergores atau muncul titik mati, dan masalah perangkat lunak termasuk notifikasi buruk, kompatibilitas aplikasi, serta fungsi dasar yang bermasalah. Di platform keluhan Black Cat, Nubia memiliki 1.547 keluhan, menunjukkan masalah sistemik.

Di pasar yang kompetitif dan teknologi homogen, hardware saja tidak cukup untuk menarik konsumen. M153, dengan harga ¥3.499, jelas bukan untuk konsumen umum, dengan fungsionalitas kemungkinan di bawah flagship mainstream. Apakah smartphone “Doubao AI” pertama Nubia akan menjadi penyelamat atau percobaan sia-sia lagi? Waktu yang akan menjawab.

接著讀

Babak Baru Disney di 2026

Menjelang Thanksgiving, Zootopia 2 menyalakan layar global, menunjukkan mesin kreatif Disney masih b...

281 天前