2026年9月10日

Debut Penjualan Drone Panoramik Tersendat, Apakah Ekspansi Lintas Industri Insta360 Mulai Goyah?

Dengan menggantung sang pembawa acara di ketinggian 1.500 meter di atas awan, peluncuran lintas-indu...

Dengan menggantung sang pembawa acara di ketinggian 1.500 meter di atas awan, peluncuran lintas-industri drone panoramik milik Insta360 benar-benar tampil ekstrem dan spektakuler. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya perusahaan dalam menyambut debut produk terbarunya.

Pada 4 Desember pukul 20.00, Insta360 resmi meluncurkan hasil pengembangan lintas sektornya selama lima tahun, yakni drone panoramik Yingling A1. Produk ini dibanderol dengan harga awal 7.999 yuan, dan tetap mencapai 6.799 yuan setelah subsidi nasional, menegaskan posisinya di segmen premium. Dalam sebuah forum investor, salah satu pemasok lensa Yingling bahkan dengan percaya diri menargetkan penjualan 300.000 unit.

Namun, di tengah ekspektasi tinggi dan promosi besar-besaran, produk unggulan ini justru mengalami kegagalan di langkah awal.

Menurut sumber yang dekat dengan Insta360 kepada Sina Finance, penjualan Yingling A1 pada hari pertama di pasar domestik sempat melampaui 20 juta yuan dan menduduki peringkat teratas di beberapa platform kategori pada hari peluncuran. Namun, data dari Business Data Insight menunjukkan kenyataan yang sangat berbeda. Dalam beberapa hari setelah rilis, Yingling A1 terus berada di luar 10 besar produk terlaris. Total penjualan gabungan dari JD.com, Taobao, dan Douyin dalam tiga hari pertama hanya sekitar 1.500 unit.

Penyebab paling langsung dari lemahnya penjualan perdana ini adalah ketidakseimbangan serius antara kemampuan produk dan harga. Konsumen diminta membayar harga setara alat produktivitas profesional, namun mendapatkan pengalaman yang lebih menyerupai produk hiburan. Absennya modul 4G semakin memicu kritik, bahkan ada pengguna yang secara terang-terangan menyebutnya sebagai “drone mainan”.

Produk yang sebelumnya diharapkan oleh pendiri Insta360 sebagai perangkat yang “akan meninggalkan jejak dalam sejarah teknologi” ini sejatinya diposisikan sebagai pendorong utama kurva pertumbuhan kedua perusahaan. Namun, hanya dalam satu hari setelah peluncuran, Yingling A1 langsung terjerat dalam pusaran ganda antara kontroversi kualitas dan kinerja penjualan yang mengecewakan.

Gelombang sentimen negatif pun dengan cepat menyebar di platform video pendek dan forum teknologi. Yang lebih mengkhawatirkan, kegagalan lintas-industri ini bukanlah insiden tunggal. Sejak laporan keuangan kuartal ketiga 2025, Insta360 sudah menunjukkan gejala “pendapatan naik, laba turun”.

Dari penguasa pasar kamera panoramik global dengan pangsa 85%, hingga kini harus menghadapi tekanan besar dari serangan agresif DJI dalam waktu hanya 60 hari, Insta360 tengah menghadapi ujian terberat sepanjang sejarahnya.

Ketidakseimbangan Kualitas dan Harga: Krisis Kepercayaan Sejak Hari Pertama

Untuk menghadapi tekanan pasar dari DJI, peluncuran Yingling A1 terlihat dilakukan dalam kondisi yang relatif terburu-buru.

Menjelang acara peluncuran, sempat beredar unggahan keluhan dari karyawan internal Insta360 yang menyebutkan adanya bug kritis tingkat P0 pada baterai dan banyak fungsi aplikasi yang belum selesai. Unggahan tersebut dihapus keesokan harinya.

Dari sisi pemasaran, Insta360 tampil sangat agresif. Seluruh peluncuran dilakukan di atas balon udara di ketinggian 1.500 meter. Yingling A1 dipromosikan sebagai “drone panoramik pertama di dunia”, dengan kemampuan perekaman video 8K 360 derajat, khusus ditujukan bagi kreator konten profesional.

Namun, harga premium tersebut tidak diiringi dengan pengalaman produk yang setara.

Secara umum, drone dengan harga di atas 5.000 yuan sudah masuk kategori alat produktivitas. Namun, Yingling A1 justru menonjolkan sisi hiburan dengan daya saing yang relatif lemah. Sebelum peluncuran, fotografer profesional Nan Xiang yang dikontrak di berbagai platform menyatakan bahwa meskipun Yingling A1 mengusung resolusi 8K, kualitas visual dari cuplikan yang beredar masih tertinggal dari drone DJI, terutama dalam pengambilan gambar malam hari.

Setelah dirilis, kekhawatiran tersebut terbukti. Video uji coba malam hari 8K dengan ISO otomatis yang diunggah oleh kreator Douyin “Suimo 31” langsung memicu perdebatan luas di publik.

Dalam video tersebut, kejernihan gambar Yingling A1 di malam hari terlihat lebih rendah dibandingkan produk DJI di kelas harga yang sama. Sejumlah warganet mengkritik tajam: “Harganya flagship, tapi kualitas malamnya masih level pemula.”

Pengulas teknologi terkenal “Jixie Zhi Ming” menambahkan bahwa performa gambar Yingling A1 pada praktiknya hanya setara dengan DJI Neo atau seri Mini kelas pemula. Meski diklaim 8K, resolusi hasil rekamannya pada kenyataannya mendekati 1080P, berada di antara kamera aksi Insta360 X4 dan X5.

Saat ini, sejumlah kreator teknologi seperti “Jixie Zhi Ming” dan “Suimo 31” telah merilis berbagai pengujian terhadap Yingling A1. Secara umum, dibandingkan drone mainstream dan flagship dari merek mapan, sistem penghindaran rintangan Yingling A1 hanya mengandalkan sensor depan dan bawah. Tidak ada perlindungan di sisi samping dan belakang, sehingga sangat rawan tabrakan saat berbelok tajam atau terbang mundur. Dalam kondisi cahaya kuat, latensi penghindaran bahkan bisa mencapai satu detik.

Masalah ini merupakan konsekuensi dari pengorbanan bobot.

Dengan berat hanya 249 gram, Yingling A1 memang berhasil menghindari batas regulasi penerbangan di banyak negara. Namun hasil pembongkaran rangka magnesium alloy kelas авиа memperlihatkan bahwa pengurangan bobot ini mengorbankan sistem sensor penting. Seluruh drone hanya dibekali sensor depan dan bawah, sedangkan sisi samping dan belakang sepenuhnya terbuka.

Uji coba menunjukkan bahwa dalam kondisi cahaya kuat, keterlambatan respons penghindaran mencapai satu detik, dan tingkat pengenalan terhadap objek transparan seperti dinding kaca berada di bawah 30%.

Masalah lain yang tak kalah serius adalah sistem pendinginan. Demi menekan bobot, Yingling A1 menggunakan desain pendingin ultra-tipis. Setelah merekam selama 20 menit, peringatan panas berlebih kerap muncul. Dalam pengujian pada suhu -5°C, drone bahkan otomatis kembali karena perlindungan suhu rendah, yang dijelaskan oleh pihak Insta360 sebagai upaya “melindungi performa baterai”.

Sebagai perbandingan, DJI Air 3 di kelas harga yang sama sudah dilengkapi penghindaran rintangan omnidirectional, mampu beroperasi stabil pada suhu -10°C hingga 40°C, dan bobotnya hanya lebih berat 121 gram dibanding A1.

Selain itu, sambungan lensa ganda fisheye Yingling A1 menunjukkan perbedaan warna yang cukup jelas, dengan ketajaman tepi turun lebih dari 30%. Noise pada pengambilan gambar malam hari tercatat 2,3 kali lebih tinggi dibandingkan produk pesaing. Sistem transmisi gambarnya pun menjadi sorotan, karena versi beta mulai tersendat pada jarak 200 meter. Efek “tak terlihat di udara” yang dijanjikan kerap berubah menjadi “mosaik di udara”.

Kontroversi kualitas ini dengan cepat berubah menjadi kenyataan pahit di sisi penjualan.

Data pemantauan real-time dari Analysys menunjukkan bahwa dalam tiga hari pertama, total penjualan Yingling A1 di JD.com, Taobao, dan Douyin hanya sedikit di atas 1.500 unit, dengan estimasi pendapatan sekitar 10 juta yuan.

Di pasar bekas, situasinya bahkan lebih mengkhawatirkan. Pada hari kedua setelah peluncuran, platform Xianyu sudah dibanjiri lebih dari 200 unit Yingling A1 baru dengan harga 5.799–6.399 yuan, turun 400–1.000 yuan dari harga resmi. Sebagian penjual bahkan mencantumkan label “belum dibuka, dijual cepat”, dengan tingkat diskon tertinggi mencapai 12,6%.

Akibat performa penjualan yang di bawah ekspektasi ini, saham Insta360 sempat anjlok hingga 8% sesaat setelah pembukaan pasar.

Pendapatan Naik, Laba Turun: Inti Bisnis Mulai Terguncang

Kegagalan di bisnis drone membuka persoalan yang lebih dalam pada struktur operasional Insta360: pendapatan inti meningkat, namun profitabilitas justru melemah, sementara investasi besar di drone tak kunjung membuahkan hasil.

Laporan keuangan kuartal ketiga menunjukkan kontras yang tajam. Pendapatan melonjak 92,64% secara tahunan menjadi 2,94 miliar yuan, tetapi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham justru turun 15,9% menjadi hanya 272 juta yuan.

Di balik ketidakseimbangan ini terdapat sebuah taruhan strategis yang disengaja.

Belanja riset dan pengembangan pada kuartal ketiga melonjak 164,81% menjadi 524 juta yuan, hampir dua kali lipat dari laba bersih periode yang sama. Dana besar ini terutama dialokasikan untuk “kustomisasi chip dan proyek strategis”, yang sangat besar kemungkinannya difokuskan pada drone panoramik Yingling Antigravity. Inilah salah satu penyebab utama merosotnya profitabilitas.

Pendiri Insta360, Liu Jingkang, memang telah lama merencanakan ekspansi ke bisnis drone. Sejak Juli 2020, perusahaan secara berkelanjutan mendaftarkan berbagai paten terkait “drone” dan “drone panoramik”, mencakup struktur, baling-baling, dan sistem daya. Pada kuartal ketiga saja, rasio R&D mencapai 17,8%. Bagi perusahaan teknologi, angka ini sejatinya positif, namun persoalan muncul ketika efisiensi input dan output menjadi timpang.

Bagi perusahaan baru yang sahamnya melonjak 274% pada hari pertama IPO dan kapitalisasi pasarnya melampaui 120 miliar yuan, laporan ini menandai dimulainya sebuah perang mahal demi mengejar “kurva pertumbuhan kedua”, dengan konsekuensi pengorbanan laba jangka pendek.

Sementara itu, fondasi utama Insta360, yakni bisnis kamera panoramik, juga sedang digempur habis-habisan oleh DJI.

Sebelum 2024, Insta360 menguasai lebih dari 85% pangsa pasar global berkat paten perangkat keras, ekosistem perangkat lunak, dan komunitas UGC yang kuat. GoPro dan Ricoh hanya mampu bertahan di segmen niche.

Namun setelah Insta360 meluncurkan kamera aksi Ace Pro 2, DJI langsung memicu perang harga dengan menurunkan harga Osmo Action 4 hingga sempat menyentuh 1.500 yuan.

Pada akhir Juli, DJI meluncurkan Osmo 360. Berdasarkan konfirmasi dari pihak dekat DJI kepada Star Market Daily, pengiriman kamera panoramik DJI pada kuartal ketiga mencapai 290.000 unit dengan pendapatan 860 juta yuan.

Kecepatan penetrasi yang nyaris bersifat “serangan dimensi” ini membuat Insta360, yang selama ini duduk nyaman di singgasana, benar-benar merasakan tekanan hidup dan mati.

Laporan dari Jiuxian Platform menunjukkan bahwa pada kuartal ketiga 2025, pangsa pasar global Insta360 anjlok tajam dari 85–92% menjadi 49%, sementara DJI melonjak ke 43%, nyaris sejajar.

Meski laporan Frost & Sullivan pada periode yang sama justru menyebut Insta360 masih memimpin dengan 75% dan DJI 17,1%, laporan tersebut telah dua kali ditarik dari publik dan hingga kini belum dirilis ulang.

Terlepas dari perbedaan data, satu sinyal menjadi sangat jelas: pasar kamera panoramik yang menjadi tulang punggung Insta360 sedang mengalami tekanan serius dari DJI. Ditambah dengan kondisi “pendapatan naik, laba turun” sepanjang tiga kuartal pertama 2025, alarm risiko jelas semakin nyaring terdengar.

Kinerja buruk Yingling A1 pun memicu aksi jual panik di pasar modal. Pada 5 Desember, saham Insta360 sempat jatuh 8% secara intraday dan akhirnya ditutup turun 6,01% di level 262,56 yuan.

Fakta Keras: Drone Panoramik Bukan Sekadar “Drone + Kamera”

Kegagalan Yingling A1 menegaskan satu kenyataan penting: drone panoramik bukanlah sekadar gabungan sederhana antara kamera panoramik dan drone.

Sekalipun dilakukan pembaruan produk di masa depan, bisnis drone Insta360 masih harus menembus dua tembok besar: pertama, menembus dominasi psikologis pasar yang telah lama dibangun DJI; kedua, membangun akumulasi teknologi dan ekosistem jangka panjang.

Pasar memang membutuhkan kompetisi, namun sebagai pendatang baru, hanya inovasi sepuluh kali lipat yang memberi peluang nyata untuk menang.

Transformasi dari “kamera panoramik” ke “drone panoramik” bukan sekadar rekayasa desain atau integrasi modul, melainkan lompatan teknologi sistemik lintas dimensi.

Tak dapat disangkal, Insta360 unggul dalam pemrosesan citra panoramik pada skenario statis dan handheld. Namun drone merupakan platform udara dinamis dengan kecepatan tinggi, perubahan sikap terbang yang kompleks, serta gangguan getaran besar. Hal ini membawa tantangan teknis baru dalam stabilisasi gambar, adaptasi lingkungan ketinggian tinggi, serta optimasi kualitas visual dinamis.

Tantangan ini jauh melampaui kompleksitas pemrosesan citra statis.

Kegagalan GoPro dalam berekspansi ke drone menjadi peringatan keras. Pada 2016, GoPro meluncurkan drone Karma yang kemudian ditarik akibat sering jatuh. Pada 2018, GoPro resmi keluar dari pasar drone, dan bisnis intinya pun ikut terdampak.

Kini, posisi Insta360 bahkan lebih rumit. Di satu sisi perusahaan harus menembus hambatan teknologi dan saluran distribusi, di sisi lain bisnis kamera intinya sendiri sedang menghadapi tantangan berat. Kondisi ini membuat kemampuan Insta360 untuk menopang investasi jangka panjang di bisnis drone semakin terbatas.

Bagi Insta360, bisnis drone bukanlah “penyelamat instan” bagi kinerja keuangan.

Hanya dengan menstabilkan posisi pemimpin di pasar kamera panoramik dan menyelesaikan persoalan struktural “pendapatan naik, laba turun”, Insta360 dapat mengumpulkan cadangan modal dan ruang waktu yang cukup untuk benar-benar menumbuhkan lini bisnis barunya.

接著讀