2026年9月10日

Lelang Kilat 6 Menit! Perusahaan Baru Berusia 3 Bulan Caplok Kendali ST Zhongdi, Saham 000609 Langsung Bergejolak

Sebuah lelang pengambilalihan kendali perusahaan A-share ST Zhongdi (SZ000609, harga saham ¥5,68, va...

Sebuah lelang pengambilalihan kendali perusahaan A-share ST Zhongdi (SZ000609, harga saham ¥5,68, valuasi ¥1,7 miliar) baru-baru ini mencuri perhatian pasar karena prosesnya yang dramatis dan sosok pembeli yang penuh misteri. Pada 17 Oktober, sebuah perusahaan investasi yang baru berdiri tiga bulan lalu—Shenzhen Tianwei Investment Partnership (Limited Partnership)—berhasil memenangkan lelang putaran kedua dengan harga dasar ¥255 juta, mendapatkan seluruh 71,14 juta saham milik pemegang saham pengendali sebelumnya, Guangdong Runhong Fuchuang Technology Center, yang mewakili 23,77% dari total saham perusahaan. Jika proses pengalihan kepemilikan selesai, kendali ST Zhongdi akan resmi berpindah tangan, sementara Runhong Fuchuang akan sepenuhnya hengkang.

Menariknya, beberapa hari setelah lelang selesai, pihak Tianwei Investment yang misterius itu belum juga menjalin kontak dengan ST Zhongdi maupun dengan pemilik lama. Aksi “kilat” yang dilakukan hanya enam menit sebelum batas waktu, ditambah lonjakan harga saham yang terjadi hampir bersamaan, membuat drama perebutan kendali ini semakin penuh teka-teki. Di balik Tianwei Investment berdiri dua nama yang sudah dikenal di dunia teknologi—Men Hongda dan Zhang Wei, pendiri Shenzhen Tianwei Electronics Co., Ltd., sebuah perusahaan semikonduktor yang fokus pada desain dan pengujian sirkuit terpadu. Shenzhen Tianwei telah menjalani beberapa tahap pembinaan IPO namun belum menunjukkan hasil nyata.

Kombinasi antara perusahaan real estat yang sedang berjuang mencari arah baru dan veteran semikonduktor yang ingin menembus pasar modal menimbulkan pertanyaan besar—apakah ini strategi “beli cangkang” untuk masuk bursa secara tidak langsung, atau awal dari transformasi industri lintas sektor?

Proses perebutan kendali ST Zhongdi penuh kejutan. Saham yang dilelang merupakan seluruh kepemilikan Runhong Fuchuang, sebanyak 23,77% dari total saham perusahaan. Latar belakang lelang ini berawal dari utang anak usaha ST Zhongdi, Chongqing Zhongmei Heng Real Estate Co., Ltd., yang pada tahun 2019 meminjam ¥750 juta dari Chongqing Three Gorges Bank dengan jaminan dari Runhong Fuchuang. Setelah gagal membayar tepat waktu, pengadilan memutuskan bahwa Runhong Fuchuang bertanggung jawab secara bersama. Hingga 30 September 2025, total kewajiban termasuk bunga dan denda mencapai ¥592 juta—yang akhirnya memicu lelang saham pengendali tersebut.

Lelang pertama yang digelar pada akhir September dengan harga awal ¥319 juta gagal karena tak ada peminat. Lelang kedua pada 16–17 Oktober menurunkan harga dasar menjadi ¥255 juta, sekitar 20% lebih murah. Hingga pukul 9:54 pagi—enam menit sebelum batas waktu—tidak ada penawar. Namun secara mengejutkan, Tianwei Investment muncul di detik-detik terakhir dan memenangkan lelang pada harga dasar.

“Semua pihak benar-benar kaget,” ujar salah satu eksekutif ST Zhongdi. “Kami sudah yakin lelang akan gagal lagi.” Pada waktu yang hampir bersamaan, saham ST Zhongdi di pasar sekunder melonjak tajam dan langsung menyentuh batas kenaikan harian. Kenaikan mendadak ini terjadi hanya beberapa menit sebelum Tianwei mendaftar sebagai peserta lelang, menimbulkan kecurigaan akan adanya hubungan di balik layar. Meski begitu, pihak perusahaan menolak berspekulasi lebih jauh dan hanya menegaskan bahwa Tianwei belum melakukan kontak apa pun dengan manajemen atau pemegang saham utama. Hingga 25 Oktober, Tianwei belum menyelesaikan pembayaran akhir lelang, dan pengadilan pun belum memberikan pemberitahuan resmi kepada perusahaan.

Berdasarkan catatan publik, Tianwei Investment didirikan pada 22 Juli 2025 dengan modal ¥50 juta, dimiliki secara seimbang oleh Men Hongda dan Zhang Wei. Keduanya dikenal sebagai tokoh lama di industri semikonduktor. Perusahaan utama mereka, Shenzhen Tianwei Electronics—yang berdiri sejak 2003—berfokus pada desain IC, manufaktur, dan peralatan semikonduktor untuk aplikasi industri, LED, dan pengendalian daya. Sejak 2016 perusahaan ini telah berupaya melantai di bursa, dan sejak 2020 berada di bawah bimbingan IPO Minmetals Securities. Namun hingga Oktober 2025, laporan menunjukkan proses tersebut masih berjalan lambat karena perlu perbaikan tata kelola dan sistem keuangan.

Langkah Tianwei membeli kendali ST Zhongdi melalui entitas investasi baru ini dipandang oleh banyak analis sebagai kemungkinan “jalan pintas” untuk memasuki pasar modal setelah proses IPO tersendat. Saat dihubungi, pihak Shenzhen Tianwei membenarkan kepemilikan Men Hongda, tetapi enggan mengomentari tujuan pembelian saham ST Zhongdi.

Di sisi lain, kondisi keuangan ST Zhongdi sendiri sedang terpuruk. Bisnis utama perusahaan—investasi properti—tertekan hebat oleh pasar yang melemah. Pada paruh pertama 2025, pendapatan perusahaan turun 52% menjadi ¥134 juta, dengan kerugian bersih ¥84,8 juta. Hingga kuartal ketiga, pendapatan hanya sedikit naik sementara kerugian meningkat menjadi ¥151 juta. Nilai aset bersih perusahaan pun berubah negatif sebesar –¥8,52 juta. Meski perusahaan berencana melakukan diversifikasi dan menjajaki sektor-sektor baru yang sejalan dengan kebijakan pemerintah, transformasi tersebut akan sulit tanpa suntikan modal besar.

Beban utang menjadi rintangan utama bagi pemilik baru. Kewajiban ¥592 juta kepada Three Gorges Bank hanyalah puncak gunung es. ST Zhongdi juga memiliki tanggungan jaminan lain, termasuk pinjaman ¥170 juta dari anak perusahaan lama yang gagal bayar. Pihak manajemen menegaskan bahwa penjualan saham tidak serta-merta menghapus kewajiban tersebut dan bahwa pengendali baru harus menanggung tanggung jawab yang tersisa. Seorang pakar pasar modal menilai, meskipun harga akuisisi terlihat murah, biaya sebenarnya akan datang dalam bentuk restrukturisasi utang besar-besaran.

Saham ST Zhongdi memang sempat terus menanjak karena ekspektasi positif, tetapi kenyataannya jauh lebih kompleks. Perusahaan baru saja keluar dari peringatan risiko delisting, namun masih berstatus “ST” karena mencatat kerugian selama tiga tahun berturut-turut. Untuk menjadikan akuisisi ini bermakna, Tianwei harus menstabilkan keuangan, menyelesaikan utang lama, dan menentukan arah bisnis baru—semuanya dalam waktu singkat dan di industri yang sama sekali berbeda.

Integrasi lintas sektor sebesar ini bukan hal mudah. Para veteran semikonduktor kini menghadapi tantangan untuk memulihkan perusahaan real estat yang sedang tenggelam. Seorang analis menilai, “Ini bukan sekadar membeli cangkang kosong—ini ujian apakah mereka bisa membangunnya kembali dari awal.” Untuk saat ini, pasar menunggu apakah Tianwei Investment akan segera melunasi pembayaran lelang dan menyelesaikan proses hukum. Hanya setelah itu, kisah penuh misteri tentang “pengambilalihan 6 menit” ini akan terungkap sepenuhnya.

接著讀