2026年9月10日

Belum Banyak Mobil Terjual, Jia Yueting Kembali Mengumbar “Janji Besar” soal Robot

Pada 2021, saat Faraday Future (FF) resmi melantai di Nasdaq, Jia Yueting pernah mendefinisikan FF 9...

Pada 2021, saat Faraday Future (FF) resmi melantai di Nasdaq, Jia Yueting pernah mendefinisikan FF 91 sebagai “super car robot”. Menariknya, lima tahun kemudian, FF benar-benar mulai berbicara serius soal membangun robot—bukan sekadar jargon pemasaran.

Menurut laporan media asing, pada 8 Januari (waktu setempat), FF menggelar acara Hari Pemegang Saham pertamanya di Las Vegas, Amerika Serikat. Dalam kesempatan ini, FF sekaligus memaparkan berbagai pembaruan yang sebelumnya diumumkan di CES 2026, mulai dari rencana produksi massal kendaraan, peta jalan bisnis lima tahun, hingga strategi baru di ranah AI robotics. Pendiri FF Jia Yueting dan jajaran eksekutif kunci turut hadir untuk menjelaskan arah terbaru perusahaan.

Dalam acara tersebut, FF terlebih dulu mengumumkan rencana produksi massal global dan jadwal pengiriman untuk model FX Super One.

Sebagai MPV pertama di bawah sub-merek FX, FX Super One diposisikan untuk menyaingi Cadillac Escalade, dengan fokus pada keunggulan “ruang + AI + kenyamanan”. Mobil ini diklaim dibekali fitur premium seperti kursi zero-gravity sebagai standar, serta menawarkan dua opsi sistem penggerak: full listrik dan hybrid range-extender berbasis AI. Mengacu pada rencana perusahaan, FF menargetkan pengiriman terbatas 50 unit kepada pengguna FX Par pada kuartal kedua tahun ini, lalu 200 unit pada kuartal ketiga untuk para pemimpin industri dan mitra B2B—sekaligus berupaya mencapai gross margin positif. Mulai 2027, seiring peluncuran versi range-extender, target produksi dan penjualan disebut akan meningkat dari tahun ke tahun: mendekati 5.000 unit pada 2027 dan diproyeksikan mencapai 55.000 unit pada 2030, dengan target kumulatif lima tahun berada di kisaran 400.000 hingga 500.000 unit.

Namun, bagi banyak pengamat, pembaruan MPV ini bukanlah pusat perhatian. Sorotan utamanya justru terletak pada “janji besar” baru yang dibawa Jia Yueting.

Selain MPV, FF mengumumkan peningkatan strategi “jembatan industri otomotif Tiongkok–AS” menjadi strategi jembatan industri global EAI (Embodied AI). Bersamaan dengan itu, FF resmi meluncurkan strategi robotika berwujud (embodied intelligence robotics), dengan ambisi membangun pola “dua jalur penggerak” yang mencakup bisnis kendaraan dan robot secara paralel.

Jia Yueting mengungkapkan bahwa langkah FF memasuki bidang AI robotics telah dipersiapkan selama sekitar satu tahun. Ia menyebut FF ingin meniru model “jembatan industri Tiongkok–AS”, dengan menggabungkan kemampuan manufaktur perangkat keras yang matang di Tiongkok dan teknologi AI terdepan di Amerika Utara. Target yang dipasang cukup agresif: menjadi perusahaan papan atas di AS yang pertama kali mengirimkan produk robot humanoid ke pasar. FF juga menyampaikan bahwa pada 4 Februari, bertepatan dengan ajang NADA di Las Vegas, perusahaan akan mengadakan peluncuran AI Robotics untuk memperkenalkan batch produk pertama sekaligus membuka sesi pengalaman langsung dan penjualan.

Terkait alasan FF memilih merambah robotika berwujud, sejumlah pelaku industri menyoroti tiga faktor utama.

Pertama, bisnis robot dinilai berpotensi memiliki siklus profitabilitas yang lebih singkat dan dampak arus kas yang lebih cepat. Dengan mengandalkan rantai pasok di Tiongkok, FF diyakini dapat mempercepat proses dari konsep menuju produk nyata—yang pada akhirnya bisa membantu meringankan tekanan pendanaan.

Kedua, pasar AS menunjukkan permintaan yang kuat terhadap robot di berbagai sektor seperti keamanan dan logistik. Ditambah kemungkinan adanya insentif atau dukungan kebijakan pemerintah, FF bisa mendapatkan skenario penerapan yang relatif “siap pakai” untuk mendorong adopsi.

Ketiga, FF menilai akumulasi teknologi yang sudah dibangun selama bertahun-tahun bisa langsung dialihkan. Sistem FF AI 2.0, serta kemampuan FF 91 dalam pengenalan visual dan pengambilan keputusan cerdas, disebut dapat diadaptasi menjadi fondasi produk robot setelah melalui validasi skenario—sehingga biaya R&D bisa ditekan secara signifikan.

Sejak 2017, FF memang rutin tampil di CES dan tak pernah absen memperkenalkan produk. Namun, kemampuan pengiriman dan konsistensi eksekusi perusahaan tetap menjadi tanda tanya besar.

Menurut narasi Jia Yueting, FF kini mencoba membuka “kurva pertumbuhan kedua” lewat bisnis robot, dengan model integrasi “teknologi + manufaktur” antara Tiongkok dan AS untuk mendukung dan memperkuat bisnis otomotifnya. Tetapi setelah perjalanan FF 91 yang penuh lika-liku, pertanyaan yang tersisa pun cukup jelas: seberapa besar kepercayaan pasar yang masih bisa diraih oleh cerita robot kali ini?

接著讀