Belum Banyak Mobil Terjual, Jia Yueting Kembali Mengumbar “Janji Besar” soal Robot
Pada 2021, saat Faraday Future (FF) resmi melantai di Nasdaq, Jia Yueting pernah mendefinisikan FF 9...
Pada 2021, saat Faraday Future (FF) resmi melantai di Nasdaq, Jia Yueting pernah mendefinisikan FF 91 sebagai “super car robot”. Menariknya, lima tahun kemudian, FF benar-benar mulai berbicara serius soal membangun robot—bukan sekadar jargon pemasaran.
Menurut laporan media asing, pada 8 Januari (waktu setempat), FF menggelar acara Hari Pemegang Saham pertamanya di Las Vegas, Amerika Serikat. Dalam kesempatan ini, FF sekaligus memaparkan berbagai pembaruan yang sebelumnya diumumkan di CES 2026, mulai dari rencana produksi massal kendaraan, peta jalan bisnis lima tahun, hingga strategi baru di ranah AI robotics. Pendiri FF Jia Yueting dan jajaran eksekutif kunci turut hadir untuk menjelaskan arah terbaru perusahaan.
Dalam acara tersebut, FF terlebih dulu mengumumkan rencana produksi massal global dan jadwal pengiriman untuk model FX Super One.
Sebagai MPV pertama di bawah sub-merek FX, FX Super One diposisikan untuk menyaingi Cadillac Escalade, dengan fokus pada keunggulan “ruang + AI + kenyamanan”. Mobil ini diklaim dibekali fitur premium seperti kursi zero-gravity sebagai standar, serta menawarkan dua opsi sistem penggerak: full listrik dan hybrid range-extender berbasis AI. Mengacu pada rencana perusahaan, FF menargetkan pengiriman terbatas 50 unit kepada pengguna FX Par pada kuartal kedua tahun ini, lalu 200 unit pada kuartal ketiga untuk para pemimpin industri dan mitra B2B—sekaligus berupaya mencapai gross margin positif. Mulai 2027, seiring peluncuran versi range-extender, target produksi dan penjualan disebut akan meningkat dari tahun ke tahun: mendekati 5.000 unit pada 2027 dan diproyeksikan mencapai 55.000 unit pada 2030, dengan target kumulatif lima tahun berada di kisaran 400.000 hingga 500.000 unit.
Namun, bagi banyak pengamat, pembaruan MPV ini bukanlah pusat perhatian. Sorotan utamanya justru terletak pada “janji besar” baru yang dibawa Jia Yueting.
Selain MPV, FF mengumumkan peningkatan strategi “jembatan industri otomotif Tiongkok–AS” menjadi strategi jembatan industri global EAI (Embodied AI). Bersamaan dengan itu, FF resmi meluncurkan strategi robotika berwujud (embodied intelligence robotics), dengan ambisi membangun pola “dua jalur penggerak” yang mencakup bisnis kendaraan dan robot secara paralel.
Jia Yueting mengungkapkan bahwa langkah FF memasuki bidang AI robotics telah dipersiapkan selama sekitar satu tahun. Ia menyebut FF ingin meniru model “jembatan industri Tiongkok–AS”, dengan menggabungkan kemampuan manufaktur perangkat keras yang matang di Tiongkok dan teknologi AI terdepan di Amerika Utara. Target yang dipasang cukup agresif: menjadi perusahaan papan atas di AS yang pertama kali mengirimkan produk robot humanoid ke pasar. FF juga menyampaikan bahwa pada 4 Februari, bertepatan dengan ajang NADA di Las Vegas, perusahaan akan mengadakan peluncuran AI Robotics untuk memperkenalkan batch produk pertama sekaligus membuka sesi pengalaman langsung dan penjualan.
Terkait alasan FF memilih merambah robotika berwujud, sejumlah pelaku industri menyoroti tiga faktor utama.
Pertama, bisnis robot dinilai berpotensi memiliki siklus profitabilitas yang lebih singkat dan dampak arus kas yang lebih cepat. Dengan mengandalkan rantai pasok di Tiongkok, FF diyakini dapat mempercepat proses dari konsep menuju produk nyata—yang pada akhirnya bisa membantu meringankan tekanan pendanaan.
Kedua, pasar AS menunjukkan permintaan yang kuat terhadap robot di berbagai sektor seperti keamanan dan logistik. Ditambah kemungkinan adanya insentif atau dukungan kebijakan pemerintah, FF bisa mendapatkan skenario penerapan yang relatif “siap pakai” untuk mendorong adopsi.
Ketiga, FF menilai akumulasi teknologi yang sudah dibangun selama bertahun-tahun bisa langsung dialihkan. Sistem FF AI 2.0, serta kemampuan FF 91 dalam pengenalan visual dan pengambilan keputusan cerdas, disebut dapat diadaptasi menjadi fondasi produk robot setelah melalui validasi skenario—sehingga biaya R&D bisa ditekan secara signifikan.
Sejak 2017, FF memang rutin tampil di CES dan tak pernah absen memperkenalkan produk. Namun, kemampuan pengiriman dan konsistensi eksekusi perusahaan tetap menjadi tanda tanya besar.
Menurut narasi Jia Yueting, FF kini mencoba membuka “kurva pertumbuhan kedua” lewat bisnis robot, dengan model integrasi “teknologi + manufaktur” antara Tiongkok dan AS untuk mendukung dan memperkuat bisnis otomotifnya. Tetapi setelah perjalanan FF 91 yang penuh lika-liku, pertanyaan yang tersisa pun cukup jelas: seberapa besar kepercayaan pasar yang masih bisa diraih oleh cerita robot kali ini?
Bintang “Die Hard” Bruce Willis dengan Dementia Membaik: Kehilangan Kemampuan Bicara dan Mobilitas
Sejak didiagnosis afasia pada 2022 dan pensiun dari dunia film, dementia frontotemporal (FTD) Hollywood legend Bruce Willis semakin parah. Laporan terbaru menyebutnya hampir kehilangan kemampuan berbahasa dan mengalami gangguan motorik berat, bergantung sepenuhnya pada keluarga untuk perawatan sehari-hari.
Bocoran Motorola Edge 2026: Layar Lengkung Ikonik Mungkin Diganti Layar Datar
Baru-baru ini, pembocor terkenal Evan Blass mengungkap melalui media sosial bahwa Motorola sedang me...
Marca: Komisi Eropa Putuskan Kemenangan untuk Real Madrid, Klub Siap Kembalikan €20,3 Juta yang Dibayarkan pada 2016
Komisi Eropa Putuskan Kemenangan untuk Real Madrid: Klub Akan Kembalikan €20,3 Juta Setelah Pertarun...
Kenapa Apple dan Samsung Tidak Beri Kita 8000mAh? — Baterai Besar Bukan Sekadar Ditumpuk
Belakangan ini, RedMagic 11 Pro kembali mengangkat “plafon daya tahan baterai” berkat kapasitas 7.50...
Dari Wonderkid €60 Juta ke Pinjaman Murah? Real Madrid Lepas Endrick ke Ligue 1 Senilai €1 Juta, Tanda Kesabaran Raksasa Mulai Habis
Siapa sangka, baru sekitar enam bulan lalu masih dielu-elukan sebagai “penerus Pelé” dengan valuasi ...
Spesifikasi Xiaomi POCO M8 Bocor: Bodi Super Tipis dan Tahan Air, Penuh Fitur Unggulan!
Pada 3 Januari, IT Home melaporkan bahwa Xiaomi melalui sub-brand POCO akan merilis seri POCO M8 pad...
Sorotan Media Asing Terasa Apa Adanya: Penampilan Terbaru Jia Ling Picu Perbincangan soal Perubahan Wajah
Di Milan Fashion Week tahun ini, sejumlah selebritas Tiongkok tampil di panggung internasional. Pena...
Pemodal di Balik Arc’teryx Resmi Mengakuisisi Merek Acar Legendaris asal Sichuan
Sebagai salah satu provinsi dengan industri bumbu dan penyedap paling kuat di Tiongkok, Sichuan berp...
Adobe Resmi Akan Menghentikan Animate, Alat Animasi Legendaris yang Telah Berkarya Selama 25 Tahun
Pada 3 Februari, Adobe menyampaikan kepada pengguna bahwa perangkat lunak animasi 2D mereka, Adobe A...
Sammo Hung Dedah Pernah Ketagih Judi, Mengaku Bertaruh Jutaan Ketika Bermain Golf
(Hong Kong, 21) Legenda film aksi Sammo Hung yang kini berusia 74 tahun, dalam beberapa tahun terakh...
Syarikat Tunggak Gaji Puluhan Bilion Won, CEO Didakwa Seleweng Dana, 9 Ahli THE BOYZ Mohon Tamatkan Kontrak
(Seoul, 20) Grup K-pop THE BOYZ tengah menghadapi konflik kontrak dengan agensi One Hundred. Dari se...
Versi Live-Action The Princess and the Frog Bakal Direalisasikan? Colman Domingo Dilapor Bangunkan Spin-off Tiana
HOLLYWOOD, 18 Juli – Film animasi klasik Disney The Princess and the Frog dikabarkan akan kembali ha...