2026年9月10日

Michael Burry “The Big Short” Ambil Posisi Short di Oracle: Soroti Strategi Pemosisian dan Pembiayaannya

Michael Burry—investor yang menjadi inspirasi film The Big Short—mengungkap lewat tulisan di Substac...

Michael Burry—investor yang menjadi inspirasi film The Big Short—mengungkap lewat tulisan di Substack setelah penutupan pasar Jumat bahwa ia memegang opsi jual (put) atas Oracle, sekaligus telah melakukan short langsung terhadap saham perusahaan tersebut dalam enam bulan terakhir. Sebelumnya, Burry juga pernah secara terbuka menyatakan posisi bearish terhadap Nvidia dan Palantir. Langkah terbarunya ini semakin menegaskan pandangannya bahwa valuasi pasar AI saat ini sudah terlalu panas dan sarat unsur gelembung.

Dalam tulisannya, Burry mengkritik secara tegas arah strategi Oracle dan pola investasinya yang ia nilai terlalu agresif. Menurutnya, perusahaan perangkat lunak basis data yang sudah mapan ini sedang mengejar sorotan AI melalui ekspansi besar yang sangat padat modal—sebuah langkah yang dianggap tidak perlu, terutama ketika Oracle membangun pusat data mahal demi menantang raksasa cloud seperti Amazon dan Microsoft.

Menanggapi pertanyaan pembaca, Burry bahkan lebih tajam. Ia menyebut tidak menyukai positioning Oracle maupun investasi yang tengah dijalankan perusahaan. Ia mempertanyakan alasan Oracle melakukan langkah-langkah tersebut saat ini, dan mengisyaratkan bahwa motifnya bisa jadi dipengaruhi oleh “ego”.

“Kendaraan gelembung AI” yang murni

Inti dari tesis short Burry adalah keyakinannya bahwa Oracle tidak memiliki “bantalan” sekuat para raksasa teknologi lain. Karena itu, Oracle dinilainya lebih rapuh—sebuah “kendaraan gelembung AI” yang lebih murni.

Burry menjelaskan bahwa ketika seseorang melakukan short terhadap Microsoft, Alphabet (induk Google), atau Meta, itu berarti juga sedang bertaruh melawan bisnis-bisnis inti yang sangat dominan dan terdiversifikasi. Bahkan bila investasi AI mereka tidak berjalan sesuai harapan, perusahaan-perusahaan tersebut masih bisa bertahan dan tetap memimpin berkat mesin laba utama yang sudah mapan.

Dengan kata lain, menurut Burry, perusahaan-perusahaan besar ini bukanlah target short AI yang “murni”. Valuasi mereka ditopang oleh banyak pilar jangka panjang—seperti pencarian, iklan, perangkat produktivitas, platform, dan franchise bisnis lain yang sudah teruji.

Sebaliknya, ia menilai narasi pendukung harga saham Oracle saat ini sangat bergantung pada satu cerita utama: lonjakan permintaan layanan cloud yang didorong AI. Burry berpendapat, raksasa seperti Microsoft dan Google dapat menyesuaikan pengeluaran dari waktu ke waktu, menyerap dampak kelebihan kapasitas, bahkan melakukan write-down aset bila perlu, sambil tetap menjaga profitabilitas bisnis inti. “Tiga perusahaan ini tidak akan hilang,” tulisnya. Namun Oracle, yang menjalankan transformasi berisiko tinggi sambil memikul beban utang besar, memiliki ruang kesalahan yang jauh lebih kecil jika permintaan AI tidak sesuai ekspektasi.

Pandangan ini juga muncul di tengah pasar yang sudah sensitif terhadap volatilitas Oracle. Dalam setahun terakhir, saham Oracle bergerak sangat agresif: sempat melonjak tajam pada September tahun lalu akibat ekspektasi lonjakan permintaan cloud AI, tetapi kemudian terkoreksi signifikan seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap pembengkakan belanja modal dan beban utang. Masuknya Burry berpotensi memperkuat perdebatan soal keberlanjutan strategi Oracle yang dinilai sebagai “taruhan masa depan dengan leverage tinggi”.

Kekhawatiran utang di balik transformasi agresif

Selain narasi bisnis, Burry juga menyoroti sisi neraca keuangan. Belanja modal Oracle yang kian agresif dan kondisi neraca yang memburuk menjadi faktor penting lain dalam pandangan bearish-nya.

Untuk bertransformasi dari vendor perangkat lunak basis data tradisional menjadi penyedia infrastruktur cloud yang mampu bersaing dengan AWS dan Azure, Oracle dalam beberapa tahun terakhir menggelontorkan puluhan miliar dolar untuk membeli chip Nvidia serta membangun pusat data. Pergeseran dari model yang relatif “ringan aset” ke model “berat aset” ini, menurut Burry, membuat tekanan finansial meningkat dan mempertaruhkan lebih banyak hal dalam proses transformasi perusahaan.

Berdasarkan data Bloomberg, Oracle memiliki sekitar US$95 miliar utang yang masih beredar, menjadikannya salah satu penerbit obligasi korporasi terbesar di indeks investment-grade Bloomberg di luar sektor keuangan. Pasar sempat merayakan proyeksi optimistis Oracle terkait bisnis cloud, namun antusiasme mulai meredup ketika CapEx terus naik dan muncul pertanyaan soal struktur sebagian transaksi cloud serta percepatan pertumbuhan utang.

Burry melihat celah rapuh dalam struktur keuangan ini. Ia menilai Oracle sedang mengambil “taruhan yang tidak perlu”, dan ekspansi yang didorong utang seperti ini akan terasa semakin berbahaya di lingkungan suku bunga tinggi atau ketika siklus industri memasuki fase melemah.

Melanjutkan serangan terhadap gelembung AI, bahkan menyinggung OpenAI

Short terhadap Oracle mencerminkan sikap Burry yang konsisten skeptis terhadap gelembung di industri AI secara lebih luas.

Dalam tulisannya, ia kembali menegaskan keraguan terhadap kecepatan pembangunan infrastruktur AI dan efektivitas ekonominya. Ia bahkan menyatakan bahwa jika valuasi OpenAI mencapai US$500 miliar, ia juga akan mempertimbangkan untuk melakukan short. Menurutnya, euforia AI saat ini penuh dengan salah harga (mispricing) dan kemakmuran yang tidak berkelanjutan.

Terkait Nvidia—salah satu target short sebelumnya—Burry menyebut perusahaan itu sebagai cara paling “terkonsentrasi” untuk mengekspresikan pandangan bearish terhadap perdagangan AI. Ia menulis bahwa Nvidia adalah perusahaan yang paling dicintai dan paling sedikit dipertanyakan pasar, sehingga biaya untuk melakukan short bisa relatif murah, dan opsi jualnya bahkan bisa lebih murah dibanding beberapa kandidat short besar lain yang sudah lebih banyak diragukan.

Burry juga pernah menyinggung Tesla, menyebut valuasinya tidak masuk akal dan menilai rencana kompensasi perusahaan merugikan pemegang saham.

Hingga artikel ini disusun, Oracle belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Burry maupun aktivitas short yang ia ungkapkan.

接著讀

Masa Depan Højlund di Manchester United Diragukan: Diam-diam Jalin Kontak dengan Inter, Ten Hag Bisa Jadi Faktor di Jerman

Meski secara terbuka menyatakan akan tetap di Manchester United musim depan, Rasmus Højlund dilaporkan tengah menjalin komunikasi pribadi dengan Inter Milan. Media Italia mengungkap bahwa agen pemain asal Denmark tersebut telah bertemu pihak Inter. Klub Serie A itu menginginkan skema pinjaman dengan opsi pembelian, sedangkan United hanya mempertimbangkan penjualan permanen seharga €40–45 juta. Kehadiran mantan pelatih Erik ten Hag di Bayer Leverkusen menambah dinamika, karena sejumlah klub Bundesliga juga disebut tertarik.

457 天前