2026年9月10日

Modal dan AI: Pertarungan yang Tak Terelakkan?

Pertanyaan apakah perkembangan AI sepenuhnya bergantung pada modal telah menjadi perhatian saya seja...

Pertanyaan apakah perkembangan AI sepenuhnya bergantung pada modal telah menjadi perhatian saya sejak program Zhu’s WeChat Circle tahun lalu. Saat itu, DeepSeek tampak sukses dengan sedikit investasi, menimbulkan pertanyaan lebih dalam: apakah produksi AI memang selalu membutuhkan modal? Sektor tradisional—konsumsi, internet, industri, pertanian—beroperasi di bawah logika modal: investasikan modal, hasilkan produksi, ciptakan keuntungan, reinvestasi untuk menambah modal. Apakah AI akan mematahkan siklus ini? Apakah produksi AI di masa depan masih membutuhkan modal sebagai prasyarat?

Dari perspektif budaya, Max Weber menyatakan kapitalisme muncul dari etika Protestan: mengejar keuntungan maksimum lebih penting daripada rekreasi; keuntungan untuk memuliakan Tuhan, bukan kenikmatan pribadi. Masyarakat modern, meski sekuler, tetap mengikuti logika “keuntungan-utama”: menghasilkan uang menjadi tujuan, bukan sarana. Di Cina, ini terlihat sebagai “histeria kolektif”—orang mengejar kekayaan tapi tidak tahu bagaimana menggunakannya.

Dalam wawancara terbaru, Elon Musk mengatakan: “mata uang akan menghilang.” Ia menekankan bahwa tanpa manusia, akumulasi kekayaan tidak berarti apa-apa. Dengan kata lain, uang, kekayaan, dan modal adalah konstruksi sosial, bukan realitas objektif. Musk sepertinya menyiratkan bahwa AI suatu saat dapat menggantikan kapitalisme, dengan AI menentukan produksi sosial, bukan modal.

Namun, Musk tidak membahas kepemilikan sarana produksi. Jika semua orang memilikinya, itu komunisme; jika hanya segelintir, mengapa mereka akan menggunakan AI untuk memberdayakan banyak orang? Dan jika ada “kue besar” yang harus dibagi, siapa yang menentukan? Pembagian adalah politik—bisakah politikus modern mengatasinya?

Tersirat dalam argumen Musk adalah ide kesetaraan teknologi—AI dapat mendistribusikan kekuasaan dan sumber daya secara adil. Namun sejarah menunjukkan bahwa setiap revolusi teknologi (Web2, Web3) akhirnya memusatkan kekuasaan pada segelintir orang. Apakah AI kali ini akan berbeda?

Peter Thiel dua dekade lalu mempertanyakan apakah ekonomi modern dapat mendukung politik modern. Serangan 9/11 menunjukkan kerentanan sistem politik Barat: modal saja tidak cukup menyelesaikan masalah politik. Thiel dan Musk menyimpulkan bahwa kemajuan ilmiah dan teknologi—eksplorasi ruang angkasa, perpanjangan umur, pengobatan penyakit mematikan—adalah solusinya. Namun saya tetap skeptis apakah masyarakat dan politik bisa sepenuhnya memanfaatkan potensi AI.

Secara praktis: jika AI mengoptimalkan semua pekerjaan dasar, bagaimana pengangguran diatur? Dari mana pajak berasal? Bisakah AI menggantikan modal? Bagaimana distribusi kekuasaan sosial? Pertanyaan-pertanyaan ini belum terjawab.

Selain itu, saya menolak anggapan bahwa AI dapat sepenuhnya menggantikan kecerdasan manusia. Epistemologi Kant mengingatkan kita bahwa rasionalitas hanya sebagian dari kognisi manusia; AI tidak memiliki sensitifitas dan pemahaman. Jika AI ingin menggulingkan kapitalisme, gagasan menggantikan manusia sendiri tidak konsisten.

Kesimpulannya, pernyataan Musk tidak sepenuhnya jujur—saya lebih mempercayai Fu Qiang.

接著讀