2026年9月10日

Tulang punggung sektor berorientasi ekspor: UKM Singapura tumbuh selama tiga kuartal berturut-turut

(Singapura, 21 Januari) Usaha kecil dan menengah (UKM) di Singapura mempertahankan tren ekspansi pad...

(Singapura, 21 Januari) Usaha kecil dan menengah (UKM) di Singapura mempertahankan tren ekspansi pada kuartal keempat 2025, dengan sektor berorientasi ekspor tampil lebih baik dibanding sektor yang bergantung pada permintaan domestik. Manufaktur, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), serta perdagangan grosir tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan UKM.

Meski demikian, prospek pertumbuhan dalam satu tahun ke depan diperkirakan dapat melambat akibat kenaikan biaya operasional dan persaingan yang semakin ketat. Survei menunjukkan sekitar 36% responden menilai persaingan pasar sebagai tantangan terbesar dalam enam bulan ke depan, sementara 20% menyebut risiko geopolitik sebagai tantangan utama.

Indeks UKM OCBC (OCBC SME Index) yang dirilis Oversea-Chinese Banking Corporation (OCBC) pada Selasa (20 Januari) menunjukkan indeks naik menjadi 50,8 pada 4Q2025, dari 50,5 pada kuartal sebelumnya—menandai kuartal ketiga berturut-turut berada di wilayah ekspansi. Indeks ini dihitung berdasarkan data transaksi lebih dari 100.000 nasabah UKM OCBC; angka di atas 50 menandakan ekspansi dibanding periode yang sama setahun sebelumnya, sedangkan di bawah 50 mengindikasikan kontraksi.

Laporan tersebut mencatat kinerja UKM yang kuat pada akhir 2025: total penerimaan (receipts) meningkat 11,8% secara tahunan dan total pembayaran (payments) naik 10,7% secara tahunan, keduanya lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya. Namun, performa antar-sektor tidak merata. Sektor ritel (51,5), TIK (51,1), dan manufaktur (51,0) termasuk yang paling kuat, sedangkan layanan kesehatan (49,7) dan jasa bisnis (49,8) berada di zona kontraksi.

Survei prospek OCBC juga sejalan dengan indeks: pelaku usaha berorientasi ekspor lebih optimistis terhadap kondisi bisnis kuartal sebelumnya dibanding UKM domestik, dan juga lebih percaya diri untuk enam bulan mendatang.

Kepala Global Commercial Banking OCBC, Wang Yin Xuan, mengatakan banyak UKM khawatir masuknya pesaing luar negeri akan mengubah struktur persaingan yang selama ini ada. Menurutnya, “persaingan bukan sekadar jumlah pemain bertambah, tetapi pendatang baru membawa ‘aturan main’ yang berbeda.” Ia menambahkan, perusahaan-perusahaan tersebut umumnya bermodal kuat, berekspansi cepat, serta masuk pasar melalui program keanggotaan yang lebih digital dan strategi ekosistem, sehingga mengubah peta persaingan.

Selain persaingan, kenaikan biaya operasional—terutama sewa dan biaya tenaga kerja—juga menjadi tekanan besar. Data OCBC menunjukkan total belanja upah UKM sektor domestik meningkat 10% pada 4Q2025.

Menatap 2026, Wang menilai pertumbuhan UKM berpotensi melambat di tengah tekanan ganda: biaya yang meningkat dan persaingan yang agresif. Ia juga menyoroti harapan UKM terhadap anggaran fiskal tahun ini, termasuk langkah untuk menekan biaya operasional, kebijakan tenaga kerja yang lebih fleksibel—khususnya terkait pekerja asing—serta dukungan anggaran untuk pelatihan dan retensi pekerja senior.

Di sisi lain, UKM juga menaruh perhatian pada pemanfaatan digitalisasi, otomasi, dan kecerdasan buatan. Wang menekankan kebijakan dukungan tidak seharusnya “satu untuk semua”, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing UKM. Survei juga menemukan sekitar 37% UKM memiliki rencana ekspansi ke luar negeri, dan mereka berharap ada platform terpadu (one-stop platform) yang memberi dukungan lebih menyeluruh untuk go international di luar program yang sudah ada.

Wang menutup dengan menegaskan bahwa perubahan pasar saat ini pada dasarnya adalah pergeseran model bisnis, sehingga fokus utama adalah membantu UKM berinovasi dan membangun ulang model bisnis agar mampu beradaptasi dengan dinamika ekonomi yang terus berubah.

接著讀