2026年9月12日

Korea Selatan menempati peringkat ke-4 dunia dalam pemasangan robot industri, dengan komponen utama banyak diimpor dari Tiongkok.

Pada 25 Januari, laporan dari Institut Riset Perdagangan Internasional di bawah Korea International ...

Pada 25 Januari, laporan dari Institut Riset Perdagangan Internasional di bawah Korea International Trade Association menyebut Korea Selatan menempati peringkat ke-4 dunia dalam jumlah pemasangan robot industri, sementara kepadatan robot (robot density) berada di peringkat pertama dunia. Ini menunjukkan tingkat adopsi otomasi manufaktur Korea yang sangat tinggi.

Namun, laporan tersebut juga menyoroti bahwa pasar robot Korea cenderung berfokus pada pasar domestik: sekitar 71,2% total pengiriman terserap di dalam negeri, sedangkan porsi ekspor relatif kecil. Sebaliknya, Jepang—yang peringkat pemasangannya nomor dua dunia—mengekspor lebih dari 70% pengiriman robotnya. Perbedaan ini dinilai terutama berasal dari struktur rantai pasok yang berbeda.

Korea Selatan masih sangat bergantung pada impor untuk material hulu dan komponen inti. Sekitar 88,8% magnet permanen yang dibutuhkan untuk penggerak robot diimpor dari Tiongkok, sementara komponen penting seperti reducer presisi dan controller juga banyak bergantung pada Tiongkok dan Jepang. Tingkat kemandirian untuk material dan komponen inti disebut masih sekitar 40%, sehingga peningkatan produksi justru dapat memperbesar ketergantungan impor.

Jepang, di sisi lain, memiliki teknologi untuk memulihkan unsur langka dari motor bekas serta kemampuan material maju seperti baja khusus dan magnet presisi, yang membantu meredam risiko hulu. Jepang juga membangun rantai pasok yang lebih “terintegrasi secara vertikal” di komponen kunci seperti reducer dan motor, sehingga ekosistemnya lebih stabil.

Peneliti KITA menyimpulkan bahwa Korea kuat dalam penerapan robot, tetapi ketergantungan tinggi pada material dan komponen inti dari luar negeri adalah keterbatasan struktural. Strategi industri perlu bergeser dari fokus “produksi dan aplikasi” menuju “stabilisasi rantai pasok” untuk menentukan daya saing jangka panjang di industri robotika.

接著讀