2026年9月10日

Di tengah harga memori yang melonjak, produsen ponsel memutuskan “menghidupkan kembali” SD card—menambah slot kartu jadi langkah penyelamatan diri

Dalam beberapa waktu terakhir, pengguna PC sangat merasakan lonjakan harga memori. Namun, harga pons...

Dalam beberapa waktu terakhir, pengguna PC sangat merasakan lonjakan harga memori. Namun, harga ponsel baru tidak naik setajam itu. Alasannya bukan karena produsen ponsel “lebih jago menahan harga,” melainkan karena stok memori di industri ponsel relatif masih lebih aman sehingga tekanan biaya belum langsung terasa ke harga jual.

Tetapi kondisi itu bisa berubah. Ada kabar bahwa sebagian produsen ponsel juga mulai kesulitan stok, sehingga mereka mencari cara untuk mengurangi konsumsi penyimpanan internal. Salah satu langkah yang paling mungkin adalah “menghidupkan kembali” fitur ekspansi lewat kartu microSD, sehingga pengguna bisa menambah kapasitas sendiri.

Dulu, slot kartu memori hampir menjadi fitur standar. Lalu pelan-pelan menghilang karena ponsel makin padat: baterai lebih besar, modul kamera lebih tebal, sistem pendingin lebih kompleks, komponen 5G memakan tempat, dan desain tahan air/debu menuntut bodi yang lebih rapat dan menyatu. Uniknya, krisis biaya penyimpanan justru bisa membuat fitur lama ini kembali.

Namun, microSD bukan pengganti penyimpanan internal—fungsinya lebih untuk mengurangi tekanan kapasitas. Flagship modern memakai UFS 4.1 (atau setara) yang latensinya rendah dan performa akses acaknya kuat, cocok untuk aplikasi, update sistem, dan game. microSD—even microSD Express—masih jauh tertinggal dalam “rasa cepat” dan kestabilan jangka panjang, walaupun kecepatan baca tulis berurutan bisa jauh lebih tinggi daripada generasi lama.

Dari sisi konsumen, ekspansi penyimpanan punya keuntungan jelas:

  • Tanpa slot, pengguna terpaksa memilih paket 256GB/512GB/1TB dengan selisih harga yang “ikut saja.”
  • Jika harga penyimpanan internal naik, versi 1TB bisa makin jarang dan selisih 256 ke 512 bisa makin mahal.
  • Jika bisa ekspansi, pengguna dapat membeli kapasitas internal yang lebih rendah dan mengalokasikan dana ke layar, kamera, atau performa—lebih hemat dan fleksibel.
    Kebutuhan orang juga beda: kreator video bisa butuh lebih dari 1TB, sedangkan pengguna ringan cukup 256GB.

Tetapi mengembalikan slot juga membawa masalah:

  1. Ruang dan desain internal: slot bukan cuma “lubang kecil,” tetapi butuh konektor, pelindung, penguatan, dan jalur ke mainboard.
  2. Tahan air/debu: tambahan bukaan meningkatkan risiko kegagalan segel.
  3. Risiko kualitas & servis: sering cabut-pasang, kontak berkarat, kualitas kartu tidak merata, hingga kartu palsu/kecepatan palsu dapat membuat performa buruk dan meningkatkan risiko kehilangan data. Kartu murah yang lambat juga bisa bikin ponsel terasa lemot.

Sebagian kendala bisa dikurangi. microSD Express / SD Express berbasis PCIe/NVMe dapat menawarkan performa berurutan yang cukup tinggi untuk kebutuhan seperti video 4K/8K, tetapi tetap dipengaruhi performa acak, konsistensi latensi, panas, dan penurunan kecepatan saat menulis lama. Karena itu, produsen ponsel perlu “mengadaptasi” desain dan software—misalnya membatasi penggunaan kartu untuk file media/arsip, bukan untuk memasang banyak aplikasi dan game.

Kesimpulannya, jika ekspansi penyimpanan kembali ke ponsel, itu berpotensi menguntungkan konsumen, produsen ponsel, dan produsen kartu memori. Namun keberhasilannya sangat bergantung pada kontrol kualitas, aturan penggunaan yang jelas di sistem, serta upaya mengurangi kebingungan dan risiko dari kartu palsu/kecepatan palsu di pasar.

接著讀