2026年9月10日

Liu Genghong Ungkap Wu Zongxian Terlalu Sibuk Usai Terkenal hingga Tak Sempat Tidur: “Seperti Kelinci, Matanya Penuh Pembuluh Merah.”

Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Liu Genghong tanpa sengaja membuka sisi lain dari dunia hibura...

Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Liu Genghong tanpa sengaja membuka sisi lain dari dunia hiburan yang jarang terlihat: budaya kerja “gas terus” ala “pekerja keras tanpa jeda”. Ia mengenang masa awal kariernya, ketika melihat sang bos, pembawa acara senior Wu Zongxian, bekerja di puncak popularitas.

Menurut Liu, ia bahkan “tidak paham” bagaimana Wu menjalani hidupnya—saking sibuknya, nyaris tidak punya waktu tidur. Ia menggambarkan mata Wu yang terus-menerus merah seperti “mata kelinci penuh urat darah”, sebuah gambaran yang langsung menegaskan betapa besar harga fisik di balik citra glamor seorang bintang variety show.

Liu menyebut ritme kerja Wu saat itu benar-benar tanpa henti. Kurang tidur yang parah menjadi hal biasa, dan kondisi mata yang merah pun seperti konsekuensi yang terus menempel. Bahkan ketika ada momen kolaborasi penting—termasuk saat bekerja bersama superstar Andy Lau—Wu tetap berada dalam mode kerja intens yang sama. Dalam cerita Liu, ini bukan sekadar “profesional”, melainkan bentuk totalitas yang sudah melewati batas wajar.

Yang menarik, pola “kerja habis-habisan” itu tampaknya tidak berhenti meski sudah sukses. Dalam beberapa tahun terakhir, Wu Zongxian tetap aktif di panggung variety show dan rekaman berbagai program, dikenal dengan jadwal padat serta produktivitas yang terus dijaga.

Sisi cepat dan lugasnya juga terlihat dalam acara pribadi. Pada Januari 2026, di pernikahan Chen Handian, Wu yang bertindak sebagai saksi/penyampai restu disebut langsung menunaikan janji lama dengan memberikan “angpao besar” NT$2 juta kepada pasangan pengantin, sambil bercanda soal “lagi cuan banget”. Respons cepat dan eksekusi spontan itu terasa selaras dengan karakternya di layar kaca.

Pada akhirnya, kisah Liu ini terdengar seperti penghormatan sekaligus refleksi. Ia memuji dedikasi sang senior, namun juga memantulkan realitas industri yang bergerak dalam tekanan tinggi dan kecepatan ekstrem. Ketika “mata merah karena kurang tidur” ikut menjadi catatan kesuksesan, yang terlihat bukan hanya perjuangan individu—tetapi juga ritme kolektif dunia hiburan yang sulit melambat.

接著讀