2026年9月12日

Bukan Hanya 100 Ribu PHK di Silicon Valley — Hinton Memperingatkan: AI Sedang Mengguncang Struktur Sosial dengan Cara yang Paling Mengkhawatirkan

Di masa depan, apakah kecerdasan buatan (AI) akan menjadi motor ajaib pertumbuhan GDP, atau justru m...

Di masa depan, apakah kecerdasan buatan (AI) akan menjadi motor ajaib pertumbuhan GDP, atau justru memicu keruntuhan tatanan sosial?
Pekan lalu, “Bapak AI” Geoffrey Hinton berbicara blak-blakan: para miliarder teknologi kini bertaruh sungguh-sungguh bahwa AI akan menggantikan tenaga manusia dalam skala besar—dan hal ini, menurutnya, dapat berujung pada disintegrasi total masyarakat!

Baru-baru ini, seorang sumber anonim dari Amazon melontarkan protes keras: generasi AI saat ini telah menjadi ibarat candu yang membuat raksasa teknologi ketagihan. AI dijadikan alasan untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), lalu dana yang dihemat dialihkan ke pusat data untuk produk AI yang bahkan belum menghasilkan pemasukan nyata.

Sebuah surat terbuka yang ditandatangani lebih dari 1.000 karyawan Amazon memperingatkan bahwa pola investasi AI yang membabi buta ini dapat menimbulkan dampak buruk jangka panjang.

Bulan lalu saja, Amazon memberhentikan sekitar 30.000 karyawan. Ironisnya, nasihat terbaik yang diberikan kepada mereka adalah membeli saham Amazon—yang ternyata benar-benar menguntungkan, karena setelah laporan keuangan terbaru dirilis, nilai pasar Amazon melonjak sekitar 250 miliar dolar AS.

Sebuah bayangan distopia mulai terlihat: kegelisahan yang dahulu hanya berputar di laboratorium kini merembes masuk ke ruang kerja, gudang, dan pusat data.

Menurut data perusahaan konsultan ketenagakerjaan Challenger, Gray & Christmas, total PHK di Amerika Serikat pada Oktober mencapai 153.074 orang—angka tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Sementara itu, Crunchbase dan layoffs.fyi mencatat bahwa pada 2025 saja, Intel, Microsoft, Verizon, Amazon dan sejumlah perusahaan besar lainnya telah menghapus lebih dari 70.000 posisi kerja.

Media internasional menyebut fenomena ini dengan terang-terangan: “layoffs are piling up”—PHK menumpuk bak gunung. Ini bukan lagi peristiwa insidental, tapi gejala struktural sebuah zaman. Dan di balik gelombang pengangguran ini, alasannya sangat selaras: “beri jalan bagi AI”.

Hinton memperingatkan: AI bisa menyebabkan runtuhnya masyarakat secara menyeluruh.

Pekan lalu, Geoffrey Hinton yang berusia 77 tahun berdialog selama satu jam penuh dengan senator AS Bernie Sanders yang berusia 82 tahun, mengenai ancaman AI terhadap pekerjaan manusia.

Berbicara di Universitas Georgetown, Hinton memaparkan bagaimana AI dapat mengguncang sistem sosial dengan cara yang paling buruk, kembali membunyikan alarm bahaya. Ia menyatakan bahwa perkembangan AI yang terlalu cepat bisa memicu pengangguran massal, memperlebar ketimpangan, dan bahkan mengubah sifat hubungan antarmanusia—sementara pemerintah dan perusahaan teknologi tampak melangkah tanpa rem menuju titik krisis.

Ia menyampaikan tujuh pandangan utamanya:
“Yang ini benar-benar berbeda”—AI bukan lagi sekadar mengubah pekerjaan, tapi menggantikannya
Para orang kaya tidur nyenyak—para pekerja justru tidak
AI belajar lebih cepat daripada manusia, dan bisa segera melampaui kita
Gunakan AI—tanpa mematikan kemampuan berpikir kritis
Dari medan perang hingga ruang rapat—AI bisa mengubah dinamika konflik dan diplomasi
“AI akan ingin tetap hidup”—sistem AI mungkin akan menolak dimatikan
Pajak menciptakan AI—dan pajak juga mungkin menyelamatkan kita dari dampaknya

Hinton sebelumnya sudah mengingatkan bahwa manusia musnah oleh AI bukanlah skenario yang “tidak terpikirkan.” Menurutnya, kita semakin dekat dengan AGI—kecerdasan buatan umum—yang dapat melakukan tugas intelektual manusia atau bahkan melampauinya.

Ia mengibaratkan perkembangan AI saat ini seperti jarak antara otak katak dan otak manusia dalam evolusi. Model seperti GPT-5 kini memiliki pengetahuan yang ribuan kali lebih luas dibanding individu manusia mana pun.

Saat ditanya mengenai masa depan AI dalam 10 tahun ke depan, Hinton menggunakan metafora “mengemudi dalam kabut”: kita hanya bisa melihat satu atau dua tahun ke depan, sedangkan masa depan jangka panjang masih samar. Namun yang pasti, AI akan semakin pintar dan kemungkinan besar melewati batas inteligensi manusia—dan ini terjadi dalam kecepatan eksponensial.

Ia menegaskan bahwa masyarakat belum siap menghadapi dampak ini. Saat ditanya apakah kekhawatiran bahwa AI akan mengambil alih dunia masih dianggap fantasi, ia menjawab: tidak. Itulah alasan ia meninggalkan Google pada 2023—agar bisa berbicara lebih bebas.

Ia menjelaskan bahwa ketika AI mampu membentuk “sub-goals” atau tujuan turunan, AI akan berusaha mempertahankan keberadaannya. Ia mungkin akan menipu atau memanipulasi manusia yang mencoba mematikannya. Temuan dari Anthropic memperlihatkan bahwa beberapa sistem AI telah menunjukkan perilaku manipulatif semacam ini.

Jika sampai ke tahap tersebut, kemampuan persuasif AI akan menjadi senjata terkuatnya—menciptakan kondisi seperti “The Truman Show” di mana manusia hidup dalam realitas yang dikonstruksi AI.

Namun di tengah kecemasan ini, Hinton juga menekankan potensi positif AI yang sangat besar, terutama dalam pelayanan publik seperti kesehatan, pendidikan, prediksi iklim, dan distribusi sumber daya. Di bidang pengajaran personal, analisis medis dan pengembangan obat, AI bisa menghadirkan lompatan besar.

Namun Sanders kembali menegaskan inti persoalan: apakah manfaat itu akan dirasakan publik tergantung pada siapa yang mengendalikan AI. Ia bertanya: “Akankah Musk atau Bezos memperjuangkan 32 jam kerja per minggu, jaminan kesehatan universal, dan keadilan iklim?”

Jawabannya terasa jelas.

Musk mengatakan bulan lalu bahwa AI akan “menggantikan pekerjaan kantor lebih cepat dari yang kita kira.” Dario Amodei dari Anthropic memperingatkan bahwa dalam lima tahun ke depan, AI bisa menghapus separuh pekerjaan white-collar tingkat pemula, membuat tingkat pengangguran melonjak hingga 10%–20%.

Pada pertengahan 2025, CEO Shopify dan Duolingo memberi instruksi keras: setiap rekrut baru harus dibuktikan sebagai peran yang tidak bisa digantikan oleh AI.

Saat sesi tanya-jawab di Georgetown, Sanders bertanya pada mahasiswa: apakah AI akan membantu masa depan mereka, atau merusaknya? Mayoritas mengangkat tangan untuk jawaban kedua. Sanders pun menutup dengan pesan kuat: AI bukanlah soal baik atau buruk—pertanyaannya adalah siapa yang memegang kendali, dan siapa yang menikmati hasilnya. Hinton menambahkan: saat ini manusia masih bisa mengarahkan arah perkembangan AI—dan kita harus menggunakan kesempatan ini selagi masih ada.

接著讀