Sony Hentikan Produksi Perekam Blu-ray: Dari Harga Premium ¥450.000 hingga Sepi Peminat, Sebuah Era Berakhir Tanpa Tepuk Tangan
Saya masih ingat, ketika kecil menonton TV, ada satu adegan yang tiba-tiba membuat saya penasaran. T...
Saya masih ingat, ketika kecil menonton TV, ada satu adegan yang tiba-tiba membuat saya penasaran. Tokoh pria berjanji akan merekam acara varietas favorit tokoh wanita—atau episode final yang sudah lama ditunggu—namun karena lupa menekan tombol rekam, ia melewatkan jam tayang. Akibatnya, rekaman gagal dan konflik pun terjadi.
Dari situ saya baru sadar: pada masa itu, lupa merekam acara yang sedang ditayangkan bisa dianggap sebagai kesalahan yang nyaris “tak termaafkan”. Bagi kebanyakan generasi 90-an di Tiongkok daratan, merekam program TV sebenarnya tidak terlalu populer. Namun di Jepang, Amerika Serikat, dan sejumlah wilayah lainnya, sebelum era streaming benar-benar datang, inilah cara utama—bahkan satu-satunya—bagi banyak orang untuk menonton ulang acara favorit mereka.
Sayangnya, kebiasaan merekam tayangan TV kini benar-benar menuju garis penutup. Baru-baru ini, Sony mengonfirmasi bahwa mereka akan menghentikan secara bertahap pengiriman seluruh perekam Blu-ray, dan tidak akan meluncurkan model penerus. Tidak ada perpisahan yang megah, tidak ada kampanye nostalgia. Yang ada hanyalah pengumuman penyesuaian bisnis—sebuah kalimat singkat yang menandai bab terakhir dari kategori produk audio-visual yang bertahan lebih dari dua dekade.
(Sumber gambar: Technetbook)
Yang menarik, Blu-ray sebagai format sebenarnya belum hilang. Pemutar Blu-ray masih dijual, dan para penggemar tetap mengejar kualitas gambar setinggi mungkin serta audio lossless. Namun, kebiasaan “merekam konten untuk ditonton pelan-pelan nanti” sudah nyaris lenyap dari kehidupan arus utama. Streaming on-demand, penyimpanan cloud yang seakan tanpa batas, dan pemutaran satu klik di platform konten, semuanya sedang membentuk ulang cara kita memahami dan mengonsumsi hiburan audio-visual.
Karena itu, mundurnya perekam Blu-ray bukan sekadar penutupan satu lini produk—ini adalah sinyal memudarnya satu era media fisik.
Sejak awal lahirnya, perekam Blu-ray memang bukan produk untuk pasar massal. Fokusnya adalah perekaman Blu-ray berdefinisi tinggi, dengan harga premium yang sulit dijangkau konsumen umum. Pada 2003, Sony meluncurkan perekam Blu-ray konsumen pertama di dunia, BDZ-S77. Perannya bukan untuk memutar film komersial, melainkan merekam siaran TV digital HD dan menyimpannya ke dalam keping Blu-ray.
Saat itu, satu keping Blu-ray mampu menampung sekitar dua jam konten HD—kapasitas yang bisa dibilang “mewah” pada zamannya. Secara teknis, prinsipnya sederhana: memanfaatkan laser biru-ungu dengan panjang gelombang lebih pendek, serta kepadatan penyimpanan yang jauh lebih tinggi.
Terobosan teknologi ini pula yang menentukan posisi pasar awal perekam Blu-ray. Ketika BDZ-S77 dirilis, harganya mendekati 450.000 yen. Jika angka itu terasa abstrak, bandingkan dengan rata-rata pendapatan bulanan rumah tangga Jepang pada 2003 yang sekitar 380.000 yen. Artinya, sebuah perekam bisa lebih mahal daripada penghasilan satu bulan bagi banyak keluarga. Sejak lahir, perekam Blu-ray sudah masuk kategori perangkat home theater kelas atas—ditujukan untuk para early adopter yang ingin masuk lebih dulu ke era TV digital HD, bukan untuk keluarga biasa yang sekadar ingin upgrade hiburan.
Lebih penting lagi, sebelum ekosistem distribusi film Blu-ray benar-benar matang, perekam Blu-ray pada praktiknya menjadi “pintu masuk” yang membantu mendorong adopsi format Blu-ray itu sendiri.
Memasuki pertengahan hingga akhir 2000-an, TV HD semakin cepat menyebar, dan sistem siaran digital terrestrial maupun satelit Jepang berkembang luas. Perekam Blu-ray pun bertransformasi dari produk inovatif menjadi bagian penting dari sistem hiburan keluarga. Sony memang pelopor, tetapi Panasonic, Toshiba, dan Sharp mengikuti dengan cepat dalam beberapa tahun berikutnya.
Ketika pabrikan elektronik besar masuk, perekam Blu-ray di Jepang perlahan berubah menjadi produk rumah tangga yang lebih “standar”. Biasanya, perangkat ini dilengkapi hard disk berkapasitas besar untuk penyimpanan sementara, multi-tuner untuk merekam beberapa kanal sekaligus, dan fitur untuk membakar konten penting ke keping agar bisa disimpan jangka panjang—membangun “perpustakaan media” milik keluarga. Secara lebih objektif, pada era ketika jalur distribusi internet belum kuat, drama dan film masih bisa dibeli dalam bentuk disk, tetapi acara varietas dan program spesial seperti konser atau gala sering kali tidak dapat ditonton ulang. Di sinilah perekam Blu-ray menjadi sangat berarti: ia memungkinkan orang merekam program-program tersebut dalam kualitas tinggi.
Seiring waktu, perekam Blu-ray terus berevolusi. Selain fungsi rekam dasar, muncul kemampuan merekam paralel multi-kanal, pencarian lewat electronic program guide, pengelompokan episode otomatis, hingga optimasi terpisah untuk program TV dan film—menggunakan format BDAV dan sistem BDMV.
Dari sisi skala pasar, pada masa puncaknya, pengiriman perekam Blu-ray di Jepang pernah mencapai sekitar 6,39 juta unit—hampir menjadi perlengkapan standar bagi rumah tangga kelas menengah ke atas. Namun, ketika era streaming datang, program TV umumnya tersedia di situs resmi atau platform terkait secara serempak dan dapat diputar ulang. Kebutuhan untuk merekam pun menurun secara bertahap. Toshiba, Sharp, dan Panasonic keluar dari pasar satu per satu. Lalu pada 2026, Sony juga mengumumkan tidak lagi memperbarui lini produk, menandai berakhirnya era perekam Blu-ray secara menyeluruh.
Satu hal yang sulit dibantah: perekam Blu-ray memang tidak pernah benar-benar “meledak” di pasar global—bahkan banyak konsumen mungkin belum pernah mendengar produk jenis ini. Meski demikian, kontribusinya terhadap perkembangan ekosistem film Blu-ray dan pasar media fisik cukup besar. Perekam Blu-ray untuk konsumen kini ditutup, tetapi bisnis pemutar Blu-ray diperkirakan masih akan bertahan dalam periode tertentu.
Kemunduran media fisik di pasar arus utama pun sudah sangat jelas. Contohnya di Amerika Serikat, laporan tahunan Digital Entertainment Group (DEG) 2024 menyebut pengeluaran konsumen untuk disk fisik—termasuk DVD, Blu-ray, dan 4K UHD Blu-ray—turun 23,4% dibanding tahun sebelumnya. Persentase ini mungkin masih terlihat “wajar” bagi beberapa industri, tetapi laporan yang sama juga menunjukkan bahwa nilai penjualan disk fisik di AS pada 2024 telah turun hingga di bawah 1 miliar dolar. Sebagai perbandingan, pada 2005, penjualan disk fisik mencapai 16 miliar dolar.
Turunnya penjualan disk bukan sekadar soal “konsumen tidak membeli disk”. Dampaknya merembet ke rantai pasok di hulu: pemutar, perangkat pembakaran, pasokan optical drive, hingga sistem lisensi—semuanya memasuki era pasar matang yang mengecil, dan harus berjuang di industri dengan porsi yang terus menyusut.
Sejak 2018, gelombang mundur pun dimulai. OPPO Digital—yang reputasinya di dunia home theater sempat begitu kuat hingga dianggap sebagai salah satu “jawaban standar” untuk pemutar Blu-ray kelas atas—mengumumkan perpisahan pada 2018, menyatakan akan menghentikan produksi produk baru secara bertahap dan beralih ke dukungan teknis serta layanan purnajual.
(Sumber gambar: OPPO Digital)
Samsung, tak lama setelah merilis pemutar 4K Blu-ray pertamanya, juga mengumumkan pada 2019 bahwa mereka tidak lagi memperbarui lini produk. LG, merek besar lain dari Korea Selatan, bertahan hingga 2024 sebelum akhirnya menutup seluruh bisnis terkait pemutar Blu-ray, dan hanya mempertahankan layanan dukungan serta perawatan.
Keluarnya merek-merek besar ini turut mengirim sinyal negatif bagi kanal ritel. Misalnya, Best Buy pernah berencana untuk mulai awal 2024 secara bertahap menghentikan penjualan disk film fisik, termasuk DVD dan Blu-ray. Ketika ritel besar saja tidak lagi bersedia menyediakan rak untuk disk, visibilitas media fisik akan turun lebih jauh—bahkan konsumen yang ingin membeli pun semakin sulit menemukan tempatnya.
Dengan konteks seperti ini, keputusan Sony pada 2026 untuk “membereskan” lini perekam Blu-ray yang prospeknya kian tipis menjadi mudah dipahami. Sederhananya, perekam berada di sisi penyimpanan konten, sementara pemutar berada di sisi konsumsi konten. Ketika tren pasar menunjukkan sisi konsumsi menyusut dan pemain besar keluar, lalu apa urgensi mempertahankan perekam? Apalagi, perekam Blu-ray sendiri bukan perangkat rumah tangga yang mainstream secara global. Ia sempat kuat di pasar seperti Jepang, tetapi dampaknya di pasar dunia relatif terbatas.
Namun demikian, lenyapnya perekam Blu-ray bukan berarti media fisik akan pasti hilang total. Laporan kuartalan DEG menyebut bahwa pada kuartal pertama 2024, 4K UHD Blu-ray—sebagai format premium untuk kolektor—masih tumbuh, dengan kenaikan sekitar 15% secara tahunan. Di era streaming yang super praktis, orang yang tetap memilih media fisik biasanya memiliki alasan jelas: katalog streaming bisa berubah, resolusi dan bitrate dipengaruhi kebijakan platform, dan beberapa versi bisa tiba-tiba ditarik. Ketika konten dimiliki secara fisik, kepastian dan keberlanjutannya jauh lebih terjamin.
Yang benar-benar berubah adalah cara konsumen mengakses hiburan. Di bawah tekanan streaming, media fisik bukan lagi pilihan konsumsi hiburan audio-visual yang paling dominan. Baik perekam Blu-ray, pemutar Blu-ray, maupun pemutar CD biasa, kini sama-sama bertahan di pasar yang kian menyempit.
Penghentian pengiriman perekam Blu-ray oleh Sony pada dasarnya “membuka” fakta yang paling sulit dihadapi industri media fisik: dalam sebagian besar skenario konsumsi hiburan, media fisik sudah tidak punya keunggulan berarti.
Perekam menjadi yang pertama menghilang bukan karena teknologinya usang, melainkan karena fungsinya tidak lagi dibutuhkan. Dulu, konten tayang mengikuti jadwal, dan orang perlu perangkat untuk menyimpan tayangan lalu menontonnya kembali atau mengoleksinya. Ketika distribusi konten sepenuhnya dipusatkan di platform, kebiasaan itu menjadi tidak lagi penting.
Lebih realistis lagi, kemunduran media fisik bukan sekadar soal pengguna “malas”, tetapi karena model bisnisnya memang tidak lagi berjalan. Ketika penjualan disk terus turun, produsen perangkat keras tidak bisa lagi mengandalkan skala untuk menekan biaya riset dan biaya rantai pasok. Melanjutkan produksi pemutar dan perangkat rekam pun hanya tersisa nilai nostalgia—sementara nostalgia, sekuat apa pun, tidak bisa dijalankan sebagai bisnis yang berkelanjutan.
Di pasar kolektor pun, media Blu-ray fisik tidak selalu unggul. Vinyl bertahan karena hambatan produksinya lebih rendah dan nilai budayanya kuat. Sebaliknya, disk Blu-ray membutuhkan lisensi yang kompleks, lini produksi, biaya pressing, dan sistem logistik—ketergantungannya pada skala jauh lebih tinggi dibanding era piringan hitam. Begitu permintaan arus utama menghilang, industri ini nyaris pasti akan terus menyusut hingga akhirnya lenyap.
Menatap ke depan, media fisik kemungkinan besar tidak akan mengalami kebangkitan yang benar-benar besar. Paling jauh, mungkin ada fluktuasi di pasar niche, atau gelombang “hangat sesaat” yang dipicu emosi. Namun arahnya tidak akan berubah: produsen perangkat keras akan semakin sedikit, distribusi konten akan semakin terkonsentrasi—contohnya game yang mungkin masih mempertahankan rilis fisik, meski game sendiri juga bergerak ke arah digital. Pembeli disk fisik akan semakin berkurang, harga semakin tinggi, dan pada akhirnya media fisik akan berubah menjadi barang koleksi bagi para penggemar sejati.
Macron: Trump Akhirnya Sadar Kebohongan Putin, Desak Sanksi Lebih Keras
Pada 25 Mei, Rusia melancarkan serangan besar-besaran dengan rudal dan drone ke Kyiv dan beberapa wilayah Ukraina lainnya, menewaskan sedikitnya 12 orang. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengutuk tindakan Putin, menyatakan kemarahan, dan mempertimbangkan sanksi tambahan. Dalam kunjungannya ke Vietnam, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa Trump akhirnya menyadari bahwa Putin telah berbohong, dan mendesaknya untuk mengubah kemarahannya menjadi tindakan konkret guna mendorong sanksi yang lebih keras terhadap Rusia. Macron juga menyerukan penetapan tenggat waktu akhir, dan jika Putin terus melanjutkan agresinya, harus ada langkah balasan yang lebih keras. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan beberapa pejabat lainnya kembali menegaskan bahwa serangan Rusia adalah kejahatan perang dan mendesak komunitas internasional untuk tidak diam.
Musk Membentuk “Partai Amerika,” Trump Menyebutnya “Konyol”
Musk Membentuk “Partai Amerika,” Trump Menyebutnya “Konyol” Pada tanggal 6 Juli 2025, Presiden AS Do...
Haslett Diprediksi Menjadi “Ketua Fed Bayangan”
Jika Kevin Haslett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, dinominasikan Trump sebagai Ketua ...
Fan Bingbing hadir di Melaka untuk mempromosikan merek masker wajah miliknya sendiri lewat sebuah acara promosi.
(Melaka, 31 Des) Aktris Tiongkok bergelar Datuk, Fan Bingbing, tampil di Melaka pada hari terakhir 2...
Google Membagikan Wawasan: Langkah Berikutnya dalam Teknologi Optical Switching
Dalam artikel ini, Google membahas teknologi perangkat (device) untuk optical circuit switch (OCS) g...
Mimi Chu terlihat makin kurus di foto terbaru, memicu kekhawatiran
Di usia 71 tahun, Zhu Mimi telah berkecimpung di dunia hiburan selama lebih dari setengah abad. Ia m...
Sorotan Media Asing Terasa Apa Adanya: Penampilan Terbaru Jia Ling Picu Perbincangan soal Perubahan Wajah
Di Milan Fashion Week tahun ini, sejumlah selebritas Tiongkok tampil di panggung internasional. Pena...
Uni Eropa Disebut Siapkan Kebijakan Proteksionis, Mobil Inggris Terancam Tersingkir dari Pasar Eropa
Pada 29 Januari, The Telegraph melaporkan bahwa Society of Motor Manufacturers and Traders (SMMT) me...
Investasi lebih dari 39 miliar, Meta mempercepat rencana AI-nya
(Menlo Park / Lebanon, Indiana, 12 Feb) — Meta pada Rabu (waktu setempat, 11 Feb) mengumumkan bahwa ...
Kejutan! Pelatih baru Chengdu Rongcheng masih menyimpan dua “senjata rahasia” yang belum dimainkan musim ini, berpeluang debut pada pekan keempat
Chengdu Rongcheng memulai musim Liga Super China dengan sangat baik, mencatat 2 kemenangan dan 1 has...
Cheng Xiaoyue dikabarkan telah melahirkan anak kedua, sementara Karena Ng datang menjenguk—menggendong dan memberi susu bayi, sekaligus merasakan pengalaman menjadi ibu
Influencer Tiongkok Cheng Xiaoyue dikabarkan telah melahirkan anak keduanya. Sahabatnya, Karena Ng, ...