2026年9月10日

Perang Dagang AS-Tiongkok Mulai Mencair, Dua Raksasa Ekonomi Dunia Akan Gelar Perundingan di Swiss

Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok mungkin akan segera mereda, setelah kedua negara ekonomi terbesar di dunia berencana memulai perundingan tingkat tinggi akhir pekan ini di Swiss.

Ini akan menjadi pertemuan tatap muka tingkat tinggi pertama sejak Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif tambahan terhadap produk Tiongkok pada bulan Januari tahun ini.

Tiongkok segera membalas, memicu aksi balas-membalas yang membuat hubungan kedua negara tegang. Saat ini, tarif rata-rata AS atas produk Tiongkok mencapai 145%, sementara beberapa produk AS dikenai tarif 125% oleh Tiongkok.

Meski dalam beberapa minggu terakhir kedua belah pihak saling melontarkan retorika tajam dan saling menyalahkan, mereka kini akan duduk bersama di meja perundingan.


Kenapa Sekarang?

Jalan Keluar yang Tetap Menjaga Wibawa

Meski saling menaikkan tarif, kedua pihak telah mengisyaratkan keinginan untuk mengakhiri kebuntuan. Namun, tidak ada yang ingin terlihat mengalah lebih dulu.

Stephen Olson, peneliti senior di ISEAS-Yusof Ishak Institute Singapura dan mantan negosiator perdagangan AS, menyatakan:

"Kedua pihak tidak ingin terlihat mundur. Perundingan ini dilakukan karena mereka menilai bisa melangkah maju tanpa kehilangan muka."

Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, menegaskan pada hari Rabu bahwa "perundingan ini diadakan atas permintaan AS."

Kementerian Perdagangan Tiongkok menyebutnya sebagai bentuk tanggapan terhadap "seruan dari pebisnis dan konsumen AS."

Sebaliknya, pemerintahan Trump mengklaim bahwa justru "pejabat Tiongkok sangat ingin berbisnis" karena "ekonomi mereka sedang runtuh."

Trump berkata, "Mereka bilang kita yang memulai? Menurut saya mereka harus buka kembali arsip mereka." Namun pada Kamis, nada Trump menjadi lebih diplomatis: "Siapa yang menelepon dulu tidak penting. Yang penting adalah apa yang terjadi di ruang itu."


Momen Strategis & Posisi Global

Perundingan ini juga bertepatan dengan kunjungan Presiden Xi Jinping ke Moskow, di mana ia menghadiri parade Hari Kemenangan Perang Dunia II ke-80 dan berdiri bersama para pemimpin dari negara-negara Global Selatan.

Ini menjadi sinyal kepada pemerintahan Trump bahwa Tiongkok bukan hanya punya alternatif dalam perdagangan, tetapi juga tengah memposisikan diri sebagai pemimpin global alternatif.

Dengan demikian, Beijing bisa menunjukkan kekuatan sambil tetap menunjukkan keterbukaan dalam negosiasi.


Tekanan Semakin Berat

Trump bersikeras bahwa tarif akan memperkuat Amerika, sementara Tiongkok bersumpah akan "berjuang sampai akhir". Namun faktanya, tarif ini menyakitkan kedua pihak.

  • Produksi manufaktur Tiongkok pada April turun ke level terendah sejak Desember 2023;
  • Layanan jasa juga melambat ke posisi terendah dalam tujuh bulan terakhir menurut survei Caixin;
  • Ekspor menumpuk di gudang, pesanan menurun drastis;
  • Di AS, ketidakpastian tarif menyebabkan kontraksi ekonomi pertama dalam tiga tahun.

Seorang pemilik perusahaan mainan di Los Angeles mengatakan kepada BBC bahwa "rantai pasokan hampir runtuh" karena ketergantungan pada produksi Tiongkok.

Trump sendiri mengakui bahwa konsumen AS akan merasakan dampaknya: "Anak-anak AS mungkin hanya akan punya dua boneka, bukan 30 boneka, dan harganya juga mungkin lebih mahal."

Survei menunjukkan lebih dari 60% warga AS merasa Trump terlalu fokus pada tarif hingga mengganggu ekonomi dan biaya hidup.


Apa Selanjutnya?

Meski perundingan ini dipandang positif, kesepakatan nyata diprediksi akan memakan waktu.

Profesor Bert Hofman dari East Asian Institute di Universitas Nasional Singapura menyebut, pertemuan kali ini “lebih sebagai tukar posisi”, yang bisa membuka jalan bagi pembentukan agenda pembicaraan selanjutnya.

Kemungkinan hasil awal adalah “versi super dari kesepakatan tahap satu” yang lebih dalam dari perjanjian 2020, dan dapat mencakup:

  • Penanggulangan perdagangan fentanyl ilegal dari Tiongkok;
  • Pembatasan hubungan dagang dengan Rusia;
  • Tinjauan ulang atas subsidi industri strategis Tiongkok.

Namun para ahli memperingatkan, “gesekan sistemik” antara AS dan Tiongkok tidak akan terselesaikan dalam waktu dekat.


🔍 Analisis Konten:

  • Diplomasi Wibawa vs Tekanan Realitas: Kedua belah pihak ingin menjaga muka, tetapi tekanan ekonomi dan politik dalam negeri memaksa mereka memilih rasionalitas.
  • Manuver Multilateral Tiongkok: Xi Jinping memanfaatkan panggung global untuk menegaskan bahwa Beijing memiliki mitra alternatif dan tidak sepenuhnya bergantung pada AS.
  • Pertimbangan Politik Trump: Tarif mulai berdampak negatif pada elektabilitasnya, ia butuh “kemenangan simbolis” tanpa terlihat menyerah.

接著讀

Nostalgia Mendadak: Windows 11 Tiba-Tiba Gunakan Suara Startup Vista — Microsoft Klarifikasi, Itu Bug Bukan Fitur

Percaya atau tidak, Windows 11 sekarang memainkan suara startup Windows Vista saat booting — dan ini langsung menjadi perbincangan hangat di komunitas teknologi. Dalam beberapa hari terakhir, pengguna program Windows Insider melaporkan bahwa setelah memperbarui ke versi Dev dan Beta terbaru, suara startup mereka berubah menjadi chime klasik Windows Vista tahun 2006, bukan suara khas Windows 11. Banyak yang mengira ini adalah “Easter egg” nostalgia dari Microsoft, namun ternyata... itu hanya bug.

452 天前