2026年9月10日

Dari Raja Es Krim Menjadi Kenangan: Mengapa Generasi Muda Tak Lagi Memilih Häagen-Dazs

Dulu dianggap sebagai lambang kemewahan rasa dan gaya hidup premium, kini Häagen-Dazs mulai ditinggalkan generasi muda. Saat konsumen semakin rasional dan mengejar nilai guna, bahkan “raja es krim” ini pun tak luput dari tekanan pasar. Penurunan penjualan dan penutupan gerai hanyalah puncak gunung es dari krisis relevansi yang dihadapi Häagen-Dazs—dan mungkin juga peringatan bagi seluruh industri es krim premium.

Dulu Simbol Romantis, Kini Hanya Pilihan Biasa

Dulu, Häagen-Dazs identik dengan momen spesial: kencan, pernyataan cinta, atau hadiah untuk orang terkasih. Namun hari ini, semakin sedikit generasi muda yang tertarik mengunjungi gerainya. Di Tiongkok, jumlah toko menyusut drastis dari 557 pada 2019 menjadi sekitar 260 saat ini. Di kota kecil hampir tak terlihat, dan di kota besar pun voucher sulit ditukar.

Penyebab utamanya? Pergeseran nilai. Generasi muda kini lebih peduli efisiensi, kesehatan, dan transparansi harga—bukan sekadar label mewah.

Harga Mahal Tak Lagi Sama dengan Prestise

Di era 90-an, satu scoop Häagen-Dazs seharga ¥25 sudah dianggap kemewahan ekstrem—setara beberapa hari makan. Tapi sekarang, saat konsumen tahu produk itu dijual murah di AS, dan makin banyak pilihan lokal berkualitas tinggi, eksklusivitas itu mulai dipertanyakan.

Sementara itu, merek lokal seperti Chicecream, MXBC (Snow King), hingga Moutai Ice Cream menyuguhkan inovasi atau harga merakyat, mendobrak dominasi lama di pasar es krim.

Terlambat Berubah Saat Kompetitor Lincah Bermanuver

Meski Häagen-Dazs sempat coba bereksperimen—dengan rasa cocktail atau dekorasi toko neon kekinian—kesan ‘tua dan mahal’ tetap sulit dihilangkan. Terlebih ketika publik mengetahui kontroversi kandungan produk atau pelabelan menyesatkan, kepercayaan makin goyah.

Semua Ingin Menggantikan Häagen-Dazs—Tapi Tak Banyak yang Bertahan

Ironisnya, banyak penantang Häagen-Dazs justru tumbang lebih dulu. Chicecream kini dililit masalah keuangan; Moutai Ice Cream pun gulung tikar di banyak lokasi. Bahkan raksasa global seperti Unilever telah mengurangi investasi di divisi es krim.

Intinya, konsumen hanya ingin satu hal: es krim yang enak dengan harga masuk akal. Es krim adalah kebahagiaan sederhana, bukan barang mewah.

Penutup: Tantangan Häagen-Dazs Bukan Sekadar Harga—Tapi Makna

Krisis Häagen-Dazs bukan soal harga tinggi, tapi karena gagal beradaptasi. Di saat es krim seharga dua ribu rupiah bisa viral di TikTok, bahkan merek legendaris pun harus kembali bertanya: bagaimana tetap relevan di dunia yang terus berubah?

接著讀

WWDC Berakhir Lesu: Apple Kehilangan USD 36,8 Miliar dalam Nilai Pasar Akibat Minimnya Inovasi AI

WWDC 2025, yang sebelumnya diharapkan menjadi ajang unjuk kekuatan AI Apple, ternyata mengecewakan investor dan pengguna. Tidak ada pembaruan signifikan pada Siri atau fitur AI transformatif. Fokus utama justru pada desain UI dan perubahan penamaan OS. Saham Apple anjlok setelah acara, kehilangan nilai pasar sebesar USD 36,8 miliar. Di Tiongkok, pemotongan harga agresif menunjukkan Apple sedang berjuang mempertahankan dominasinya di pasar premium.

456 天前