2026年9月10日

Trump Bakal Naikkan Biaya H-1B hingga 100 Ribu Dolar, Industri Teknologi Terancam Guncangan Besar

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana mengenakan biaya sebesar 100.000 dolar AS untuk seti...

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana mengenakan biaya sebesar 100.000 dolar AS untuk setiap aplikasi visa H-1B, sebuah kebijakan yang diprediksi akan mengguncang industri teknologi yang sangat bergantung pada tenaga kerja asing berketerampilan tinggi. Menurut laporan media pada Jumat, pemerintahan Trump menilai penyalahgunaan program H-1B telah menggantikan lapangan kerja bagi pekerja lokal Amerika. Selain kenaikan biaya, Trump juga berencana meminta Departemen Tenaga Kerja untuk merevisi standar upah bagi pemegang visa H-1B guna mencegah perusahaan memanfaatkan pekerja asing untuk menekan gaji pekerja domestik. Program H-1B sendiri diluncurkan oleh Kongres pada tahun 1990 dan menjadi jalur utama bagi tenaga profesional asing masuk ke Amerika Serikat. India tercatat sebagai penerima manfaat terbesar, dengan 71% persetujuan visa pada tahun lalu. Karena tingginya permintaan, sistem undian digunakan untuk menentukan penerima, sementara pegawai institusi nirlaba seperti universitas biasanya tidak terikat kuota. Setelah kabar ini mencuat, saham perusahaan IT layanan global Cognizant yang sangat bergantung pada pekerja H-1B langsung anjlok 4,74% pada hari Jumat. Bagi raksasa teknologi dan perusahaan outsourcing, program H-1B adalah urat nadi yang memungkinkan mereka mengisi ribuan posisi teknis krusial. Namun, biaya baru ini diperkirakan akan menekan strategi rekrutmen sekaligus meningkatkan biaya operasional secara signifikan. Data dari US Citizenship and Immigration Services menunjukkan Amazon mendapat lebih dari 10.000 persetujuan H-1B pada tahun 2025, sementara Microsoft dan Meta masing-masing memperoleh lebih dari 5.000. Visa ini umumnya digunakan untuk mendatangkan insinyur perangkat lunak, manajer proyek teknologi, serta profesional IT lainnya, terutama dari India. Pemegang visa H-1B dapat bekerja di AS antara tiga hingga enam tahun, dengan peluang mengajukan green card untuk menetap secara permanen. Setiap tahun hanya 85.000 visa diterbitkan, padahal jumlah aplikasi mencapai ratusan ribu sehingga seleksi harus dilakukan melalui undian. Meski demikian, kebijakan ini memicu perdebatan di internal pemerintahan Trump maupun kalangan pendukungnya. Sebagian simpatisan gerakan MAGA menilai program ini membuat pekerja India mendominasi posisi teknik bergaji tinggi, merugikan pekerja Amerika. Direktur US Citizenship and Immigration Services, Joseph Edlow, bahkan sempat mendorong aturan baru yang memprioritaskan pelamar dengan gaji lebih tinggi, meskipun usulan itu akhirnya dibatalkan oleh Gedung Putih. Di sisi lain, sebagian anggota Partai Republik menilai program ini vital untuk menarik talenta global. CEO Tesla, Elon Musk, pernah menjadi pendukung vokal program ini, namun sejak dirinya keluar dari lingkaran pemerintahan awal tahun ini, H-1B kehilangan salah satu suara terkuatnya. Hingga kini detail teknis dari biaya 100.000 dolar ini masih kabur, termasuk siapa yang akan menanggung biaya dan bagaimana penerapannya. Para pakar hukum menegaskan bahwa biaya visa biasanya harus ditetapkan oleh Kongres atau melalui proses peraturan resmi yang memerlukan waktu panjang dan masukan publik. Jika hanya melalui perintah presiden, kebijakan ini berpotensi menghadapi gugatan hukum. Saat ini, pemohon H-1B hanya membayar biaya kecil untuk masuk ke sistem undian, lalu membayar lebih besar jika terpilih untuk pengajuan penuh. Jika benar diterapkan, reformasi Trump kali ini bisa menjadi perubahan paling drastis dalam sejarah program H-1B, dengan dampak besar terhadap arus masuk talenta global ke perusahaan teknologi terbesar Amerika.

接著讀