Musk Gencar Mempromosikan Pusat Data di Luar Angkasa: “Efisiensi Energinya Jauh Lebih Unggul daripada di Bumi”
Ruang angkasa kini muncul sebagai medan perebutan baru bagi pembangunan infrastruktur AI. Dalam bebe...
Ruang angkasa kini muncul sebagai medan perebutan baru bagi pembangunan infrastruktur AI.
Dalam beberapa waktu terakhir, wacana tentang pusat data di luar angkasa (space data centers) ramai diperbincangkan—baik di Silicon Valley maupun di dalam negeri. Dan jika ada satu sosok yang paling gencar mengerek topik ini ke panggung utama, itu adalah Elon Musk. Deretan cuitan dan komentarnya belakangan hampir selalu menyinggung arah yang sama.
Ia terlebih dulu mengonfirmasi bahwa SpaceX ke depan akan menempatkan pusat data di luar angkasa.
Tak lama berselang, ketika Google mengumumkan rencana terkait pusat data ruang angkasa, Musk menimpali dengan komentar singkat “Interesting”—sebuah sinyal yang jelas bahwa ia melihat langkah Google sebagai keputusan yang tepat.
Dalam wawancara terbuka, Musk juga menegaskan argumen energinya secara lugas: Bumi hanya menerima sekitar seperdua miliar dari total energi Matahari. Jika manusia ingin menghasilkan energi dengan skala yang beberapa tingkat lebih besar dibanding kemampuan di Bumi, maka mau tak mau harus melangkah ke luar angkasa.
Ia bahkan memperkirakan bahwa dalam 4–5 tahun ke depan, biaya untuk menempatkan dan mengoperasikan sistem AI berskala besar di orbit bisa jadi lebih efisien dibanding menjalankan sistem sejenis di permukaan Bumi.
Garis besarnya jelas: Musk, dengan gaya “berani mencoba dan bergerak cepat”, sedang menjadikan pusat data ruang angkasa sebagai lahan uji berikutnya untuk infrastruktur AI.
Namun ini bukan hanya tentang Musk.
Jeff Bezos dari Amazon, mantan CEO Google Eric Schmidt, dan sejumlah nama besar lain juga mulai aktif membicarakan dan menyiapkan langkah di area yang sama. Pertanyaannya kemudian mengemuka: sebenarnya apa itu “pusat data ruang angkasa”, dan mengapa konsep ini tiba-tiba menarik perhatian begitu banyak tokoh teknologi papan atas?
Mari kita lihat bagaimana mereka berbicara—dan bagaimana mereka bertindak.
Musk Memimpin, Silicon Valley Ikut Terbawa “Angin Pusat Data Ruang Angkasa”
Menanggapi tren Silicon Valley yang belakangan keranjingan topik pusat data ruang angkasa, The Information sempat menyindir: dari waktu ke waktu, para figur paling berpengaruh di dunia teknologi bisa tiba-tiba mempromosikan topik yang sama dengan intensitas tinggi—sampai-sampai orang bertanya-tanya apakah mereka semua sedang berada di grup chat yang sama.
Apakah grup itu benar-benar ada, kita tidak tahu. Namun kalau pun ada, “admin”-nya hampir pasti adalah Musk.
Seperti disinggung di awal, banyak pernyataan Musk yang mengarah pada SpaceX. Sebagian pihak menduga, karena SpaceX disebut-sebut berpotensi melakukan IPO tahun depan, penguatan narasi “pusat data ruang angkasa” bisa menjadi bagian dari upaya membangun momentum.
Polanya mirip dengan bagaimana Musk sebelumnya mendorong narasi Tesla bersama proyek Optimus, sehingga Tesla ikut “menumpang arus” cerita AI yang paling disukai investor.
Terlepas dari apakah ini sekadar hype, menarik untuk memahami logika spesifik Musk dalam membicarakan pusat data di luar angkasa.
Sederhananya, cara berpikir Musk bisa dibilang sangat “insinyur”: kalau satu tempat punya batas keras, pindahkan persoalan ke lingkungan lain.
Ia berangkat dari prinsip dasar dan menyimpulkan bahwa “batas atas” AI pada akhirnya adalah masalah energi. Kebutuhan komputasi AI meningkat secara eksponensial, sementara keterbatasan energi dan hambatan konsumsi daya di Bumi semakin terlihat—dan kian sulit mendukung ekspansi skala kecerdasan buatan tanpa batas.
Di titik inilah ruang angkasa diposisikan sebagai solusi “paling mungkin” dalam jangkauan manusia. Musk berargumen bahwa Matahari adalah sumber energi utama dalam jangka panjang. Bahkan, sebagian besar “cerita energi” di tata surya ditentukan oleh Matahari, sementara Bumi hanya menangkap bagian yang sangat kecil.
Karena itu, jika manusia ingin menaikkan skala energi secara signifikan, terus membatasi diri di permukaan Bumi nyaris mustahil. Satu-satunya jalan adalah masuk ke ruang angkasa.
Mengapa Ruang Angkasa Begitu Menggoda: Listrik dan Pendinginan
Menurut Musk, begitu masuk ke ruang angkasa, kita seolah mendapatkan dua komponen paling mahal dalam pusat data—setidaknya secara teori—dengan ekonomi yang jauh lebih menarik: listrik dan pendinginan.
Untuk listrik, lingkungan orbit atau ruang angkasa dalam tidak terpengaruh cuaca dan memiliki pola pasokan yang lebih stabil, sehingga panel surya di sana berpotensi memberi suplai energi yang lebih konsisten dibanding di Bumi.
Untuk pendinginan, ruang angkasa sangat dingin (dalam banyak konteks dibahas sebagai lingkungan ekstrem). Itu berarti pusat data tidak perlu mengandalkan sistem pendinginan air atau udara berskala besar seperti di darat. Panas dari GPU dapat dilepas melalui pendinginan radiasi, yaitu “memancarkan” panas ke ruang angkasa.
Sejumlah pelaku industri meyakini bahwa memancarkan panas GPU ke ruang angkasa jauh lebih efisien dibanding mendinginkan GPU yang sama di pusat data darat. Sebagai contoh, Starcloud—startup ruang angkasa asal AS—memperkirakan biaya energi pusat datanya bisa hanya sepersepuluh dari solusi berbasis darat.
Dengan demikian, konsep pusat data ruang angkasa terlihat “alami” dalam menyelesaikan dua biaya terbesar pusat data di Bumi: energi dan pembuangan panas.
Musk pun secara terang menyatakan bahwa dalam 4–5 tahun, membangun pusat data di ruang angkasa bisa jadi lebih hemat biaya dibanding di Bumi.
Apalagi, dengan kemajuan teknologi peluncuran, biaya peluncuran juga diperkirakan terus turun.
The Information menyebutkan estimasi dari Center for Strategic and International Studies (CSIS): saat ini, salah satu cara termurah untuk mengirim muatan ke orbit adalah menumpang Falcon Heavy milik SpaceX, dengan biaya sekitar USD 1.500 per kilogram.
Karena roket SpaceX dapat digunakan kembali, angka tersebut—setelah penyesuaian inflasi—sudah turun jauh dibanding dekade-dekade sebelumnya.
Dan penurunan mungkin belum berhenti. Ada pula perkiraan bahwa dalam beberapa tahun, Starship dapat menekan biaya pengiriman muatan ke orbit hingga sekitar USD 100 per kilogram.
Pada titik ini, sebuah rantai logika bisnis tampak terbentuk:
Memanfaatkan turunnya biaya peluncuran sebagai “tuas” untuk mengakses sumber energi dan pendinginan ruang angkasa yang nyaris gratis, sehingga secara fundamental menembus hambatan energi dan panas yang kini menekan pertumbuhan komputasi AI di Bumi.
Jika jalur ini benar-benar terbukti, sejumlah masalah yang selama ini dikhawatirkan raksasa teknologi pun berpotensi mereda. Sebab di balik keunggulan pusat data ruang angkasa, tersimpan realitas pahit membangun pusat data di darat.
Di Amerika Serikat, salah satu hambatan terbesar pembangunan pusat data adalah lonjakan permintaan listrik yang dihasilkannya.
Morgan Stanley dalam laporan terbaru menyebutkan bahwa dalam beberapa tahun ke depan, pertumbuhan AI yang eksplosif dapat memicu kekurangan pasokan listrik hingga 20% untuk kebutuhan pusat data di AS.
Departemen Energi AS juga memperingatkan: tanpa sumber listrik baru yang berarti, ketidakseimbangan antara pasokan listrik dan permintaan yang didorong pusat data pada 2030 bisa memicu lebih banyak pemadaman.
Pemadaman menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat. Jika muncul ketidakpuasan publik, tekanan opini dan regulasi hampir pasti meningkat.
Karena itu, pusat data ruang angkasa—sebagai opsi alternatif—membawa “kemungkinan baru” bagi perusahaan teknologi:
Kemungkinan untuk membangun komputasi generasi berikutnya tanpa terus terikat pada keterbatasan listrik regional, kontroversi lingkungan, dan proses perizinan yang panjang, serta dapat menopang kebutuhan komputasi yang kian “rakus” secara lebih lincah dan berkelanjutan.
Bukan Hanya Silicon Valley: Startup dan “Tim Nasional” Ikut Masuk
Dengan alasan-alasan di atas, para raksasa Silicon Valley dan sejumlah startup mulai masuk ke lintasan ini.
Pada awal November, startup swasta AS Starcloud berhasil meluncurkan satelit uji Starcloud-1 yang membawa GPU NVIDIA H100.
Selama beroperasi di orbit, satelit ini menjalankan eksperimen yang diklaim sebagai yang pertama dalam sejarah: melatih model bahasa besar di lingkungan ruang angkasa—berbasis model open-source Google, Gemma, untuk melatih NanoGPT.
Co-founder sekaligus CEO-nya menyebut ini sebagai langkah penting menuju pemindahan sebagian besar komputasi ke ruang angkasa, berhenti menguras sumber energi Bumi, dan mulai memanfaatkan energi Matahari yang nyaris tak terbatas.
Selain itu, Google juga mendorong program bernama “Project Suncatcher”. Menurut CEO Sundar Pichai, Google berencana membangun konstelasi satelit bertenaga surya, dengan unit pemrosesan Tensor (TPU) milik Google, serta komunikasi melalui optical communication.
Untuk menguji kelayakan teknis, Google berencana meluncurkan dua satelit prototipe pada 2027 untuk uji coba di orbit.
Di sisi lain, Jeff Bezos—pendiri Amazon dan pemimpin Blue Origin—dalam sebuah acara pada Oktober menyatakan bahwa memindahkan pusat data ke orbit adalah sesuatu yang masuk akal. Ia juga memprediksi bahwa dalam 20 tahun atau bahkan kurang, biaya pendekatan ini bisa melampaui daya saing infrastruktur AI berbasis darat.
Mantan CEO Google, Eric Schmidt, juga mengungkap bahwa ketertarikannya pada pusat data ruang angkasa mendorongnya mengakuisisi perusahaan teknologi ruang angkasa Relativity Space.
Intinya, para tokoh di garis depan teknologi mulai menyepakati satu hal:
Masalah AI sedang bergeser dari sekadar persoalan algoritma, menjadi persoalan energi dan ruang fisik.
Dan ketika persoalan naik ke level “fisik”, jawaban pun mulai mengarah keluar dari Bumi.
Dorongan dari Dalam Negeri: Peta Jalan Komputasi Berbasis Luar Angkasa
Menariknya, bukan hanya Silicon Valley yang melihat prospek pusat data ruang angkasa. Di dalam negeri, arah ini juga mulai dipandang sebagai peluang strategis.
Pada 27 November, sebuah pertemuan bertajuk “智繪星空 勝算在天” digelar di Beijing untuk mendorong pembangunan pusat data ruang angkasa dan merebut peluang awal dalam pengembangan komputasi generasi baru.
Acara ini diselenggarakan oleh Komisi Sains dan Teknologi Beijing serta Komite Manajemen Zhongguancun Science Park, dan didukung oleh sejumlah pihak, termasuk perusahaan-perusahaan terkait.
Menurut Zhang Shanchong, Presiden Beijing Institute of Future Space Technology, pembangunan direncanakan dalam tiga tahap:
2025–2027: menembus teknologi kunci seperti energi dan pendinginan pusat data ruang angkasa, mengembangkan satelit uji secara iteratif, membangun konstelasi komputasi tahap pertama dengan target total daya 200 kW dan skala komputasi 1.000 POPS, serta mencapai tujuan aplikasi “天數天算”.
2028–2030: menembus teknologi kunci seperti perakitan dan konstruksi di orbit, menurunkan biaya pembangunan dan operasi, membangun konstelasi tahap kedua, dan mencapai tujuan aplikasi “地數天算”.
2031–2035: produksi massal satelit dan peluncuran jaringan skala besar, penyambungan di orbit untuk membangun pusat data ruang angkasa berskala besar, serta mendukung visi “天基主算” di masa depan.
Tidak diragukan lagi, baik di luar negeri maupun di dalam negeri, arena kompetisi AI berikutnya sedang terbentuk.
Dan semakin banyak mata yang kini menatap ke arah ruang angkasa yang luas.
Lempeng Tanah Bergerak! Semenanjung Kamchatka Bergeser Hampir 2 Meter ke Tenggara Akibat Gempa Dahsyat | Terkuat Sejak 1952
Pada 5 Agustus, Institut Riset Geofisika cabang Kamchatka dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia mengum...
Mata Juga Bisa “Tekanan Darah Tinggi”? Waspadai Tekanan Bola Mata!
Musim dingin tak hanya membuat tekanan darah naik, tapi juga bisa membuat tekanan bola mata meningka...
OpenAI Mulai Terlihat Biasa Saja? Inovator Besar yang Kini Kian Kurang Berkilau
Pada 12 November, OpenAI resmi meluncurkan GPT-5.1 dan menghadirkan dua varian baru di atas seri GPT...
17 Tahun Pernikahan dan Masih Penuh Cinta: Mengapa Michelle Reis Lebih Bahagia Dibandingkan Rosamund Kwan?
Beberapa hari lalu, Michelle Reis membagikan foto mesra bersama sang suami, Julian Hui, seorang pewa...
Rp200 per pil, “obat flu ajaib” buatan lokal masih kesulitan menembus pasar
“Obat flu ajaib” seharga ratusan yuan kini tidak lagi hanya identik dengan baloksavir marboksil (Xof...
21 Pemain Memenuhi Panggung! Globe Soccer Awards Hujani Kehormatan dan Hadiah: Ronaldo Raih Gelar Terbaik Timur Tengah Tiga Kali, Amr Borong Tiga Penghargaan, Pogba Dapat Comeback Award
Dini hari 29 Desember, upacara Globe Soccer Awards berlangsung meriah, dengan total 23 penghargaan d...
“Lalamove” di Udara: Drone Angkut Tanpa Awak “Tianma-1000” Berhasil Menuntaskan Penerbangan Perdana di China
IT之家 pada 11 Januari melaporkan, mengutip pemberitaan Xinhua hari ini, bahwa pesawat tanpa awak (UAV...
Apakah Jepang Mulai Gemetar? China U23 Sudah Menumbangkan Tiga Juara Grup, Media Korea Mengakui: “Mereka Bermain Gila”
Pada dini hari 21 Januari, tim China U23 kembali melaju kencang dalam perjalanan penuh keajaiban mer...
Mantan aktor pendukung senior TVB naik bus dan diberi tempat duduk; kondisinya prima, nyaris tak terlihat akan memasuki usia 70.
(Hong Kong, 10 Februari) — Aktor senior Hong Kong Cheung Kwok Keung yang kini berusia 68 tahun, akti...
iFLYTEK Catat Penerimaan Kas Operasional Lebih dari RMB 27 Miliar pada 2025, dengan Arus Kas Mencapai RMB 3 Miliar—Rekor Tertinggi Baru
Menurut laporan Fast Technology pada 14 Februari, iFLYTEK baru-baru ini menggelar rapat tahunan. Dal...
Pesan Realistis: Zhang Xue Nasihati Anak Muda — Jika Tak Kekurangan, Ikuti Hati; Jika Butuh, Prioritaskan Cari Uang Dulu
Di usia 39 tahun, Zhang Xue berhasil mengubah nasibnya secara drastis — dari anak miskin di daerah t...
Li Jinyu tak tahan lagi — tarik keluar pemain asing termahal saat jeda, Liaoning kalah dari Henan dan terancam 6 kekalahan beruntun
Sebagai tim promosi, Chongqing Tonglianglong dan Liaoning Tieren menunjukkan performa yang sangat be...