2026年9月10日

Film ‘Nanjing Photo Studio’ Resmi Mewakili Tiongkok di Ajang Oscar ke-98 untuk Kategori Best International Feature Film

Pada 26 September, sebuah film Tiongkok yang sarat makna, Nanjing Photo Studio, resmi diumumkan seba...

Pada 26 September, sebuah film Tiongkok yang sarat makna, Nanjing Photo Studio, resmi diumumkan sebagai wakil Tiongkok daratan untuk bersaing di ajang bergengsi Academy Awards ke-98 kategori Best International Feature Film. Kabar ini bukan sekadar berita film biasa, melainkan sebuah peristiwa budaya—karena film ini akan membawa penonton dunia kembali menelusuri luka sejarah Nanjing tahun 1937.

Kisah yang Lahir dari Luka Sejarah

Disutradarai oleh Shen Ao dan dibintangi aktor-aktor berbakat seperti Liu Haoran, Wang Chuanjun, Gao Ye, dan Wang Xiao, film ini bersumber dari trauma nyata yang tak pernah pudar. Cerita berpusat pada sebuah studio foto kecil di tengah Nanjing Massacre, ketika warga sipil yang terjebak dipaksa oleh tentara Jepang untuk mencetak foto. Tanpa sengaja mereka menemukan bukti kejahatan perang, lalu mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya. Studio itu pun berubah menjadi sebuah “ruang gelap” yang menyimpan kebenaran sejarah.

Sukses Besar di Pasar dan Festival

Hingga 23 September, Nanjing Photo Studio telah mencetak prestasi luar biasa dengan pendapatan lebih dari 3 miliar RMB dan 84,52 juta penonton, menobatkannya sebagai juara box office musim panas 2025. Bukan hanya sukses komersial, film ini juga menuai pujian kritikus: rating Douban 8,6 dan Maoyan 9,7. Di ajang Festival Film Changchun, film ini menyapu tiga penghargaan utama—Best Film, Best Director, dan Best Screenplay. Antusiasme yang tinggi membuat masa tayangnya diperpanjang hingga 24 Oktober, bertepatan dengan libur Nasional Tiongkok serta peringatan 80 tahun kemenangan perang melawan agresi Jepang—menegaskan bobot sosial dan historisnya.

Menembus Batas Negara dan Menggugah Dialog

Ambisi film ini jelas melampaui pasar domestik. Ia sudah diputar di Amerika Utara dan Australia, bahkan mengadakan pemutaran tertutup di Jepang—salah satunya difasilitasi Kedutaan Besar Tiongkok. Seorang mantan perwira Pasukan Bela Diri Jepang memberikan refleksi tajam setelah menontonnya: “Rasa sakit itu berasal dari sikap masyarakat Jepang yang terus menghindari sejarah.” Kalimat ini seolah merangkum nilai utama Nanjing Photo Studio di panggung internasional—sebuah cermin yang tak bisa diabaikan.

Judul yang Sarat Makna

Judul bahasa Inggrisnya, Dead to Rights, benar-benar jenius—menggambarkan “bukti tak terbantahkan” sekaligus keberanian para tokoh yang memilih “hidup dengan menantang maut.” Dengan sentuhan penuh detail, tim kreatif memadukan proses mencuci foto dengan simbol pengungkapan kebenaran sejarah, merobek topeng “persahabatan palsu” yang dipropagandakan tentara Jepang. Dari replika bata Tembok Kota Ming yang menjadi senjata rakyat, hingga lantunan lagu rakyat How Tall is the City Gate yang terus bergema, setiap detailnya sarat makna perlawanan dan cinta tanah air.

Lebih dari Sekadar Kandidat Oscar

  • Nanjing Photo Studio* bukan hanya film yang ikut bersaing di Oscar. Ia adalah persembahan khidmat untuk menjaga ingatan sejarah, sekaligus percakapan mendalam melalui bahasa sinema di panggung dunia. Saat sorotan Academy Awards dinyalakan, semua mata menantikan: seberapa jauh dan terangkah cahaya yang lahir dari “ruang gelap” sejarah ini akan menyinari dunia?

接著讀