2026年9月10日

“Teh Liuwei Dihuang” Laris Diserbu Anak Muda—Diproyeksikan Tembus RMB 100 Juta dalam 5 Bulan

Gelombang misterius “wellness ala jalan pintas” kembali beraksi—dan kali ini, sasarannya adalah supl...

Gelombang misterius “wellness ala jalan pintas” kembali beraksi—dan kali ini, sasarannya adalah suplemen klasik yang selama ini identik dengan kalangan paruh baya.

Setelah arak tonik sempat mencuri perhatian, kini giliran Liuwei Dihuang Wan yang didorong anak muda ke pusat tren. Mulanya, ia populer di kalangan esports kampus dengan julukan jenaka “Pil Tembus Sekte”. Tak lama kemudian, formula kuno ini berevolusi menjadi minuman kemasan—Teh Liuwei Dihuang—yang langsung meledak di pasar. Hanya dalam lima bulan, penjualannya diproyeksikan menembus 100 juta yuan.

Apakah generasi muda sedang mendefinisikan ulang minuman kesehatan?

Gelombang Baru Wellness Gen Z: “Liuwei Dihuang Wan” Berubah Menjadi “Power-Up” Sosial

Belakangan ini, istilah “Pil Tembus Sekte” viral di media sosial. Di asrama mahasiswa dan komunitas gim, lahir bahasa gaul baru:

“Biar rank naik, minum Pil Tembus Sekte dulu.”

“Minum eliksir esports—akurasi tembakan naik 20%, kontrol item naik 20%.”

“Eiksir” yang membuat mereka ketagihan itu tak lain adalah Liuwei Dihuang Wan—resep klasik berusia ribuan tahun. Dulu simbol perawatan kesehatan usia paruh baya, kini hadir dalam keseharian Gen Z dengan wujud yang sama sekali tak terduga.

Merek-merek yang peka pun segera menangkap perubahan ini.

Pada Agustus 2025, San Nuo Shiliao meluncurkan Teh Liuwei Dihuang dengan harga 6 yuan per botol. Produk ini cepat menjadi sorotan di kategori minuman “obat dan pangan satu sumber”. Menurut pelaku industri, sejak peluncuran, minuman ini langsung menarik minat distributor dan memicu puluhan perusahaan minuman untuk ikut masuk ke pasar.

Sejumlah media memprediksi penjualan lima bulan dapat melampaui 100 juta yuan, dengan target tiga tahun mencapai 500 juta yuan. Tak lama berselang, produk turunan seperti bubur wijen Liuwei Dihuang juga hadir. Ungkapan “yang sering begadang, minum bubur wijen Liuwei Dihuang” pun membanjiri Xiaohongshu, menjadikannya minuman viral “penyelamat begadang”.

Popularitas lini Liuwei Dihuang mencerminkan tren konsumsi yang kian jelas: fokus wellness anak muda bergeser dari sekadar “lebih sehat” menjadi hasil yang fungsional dan terukur—membuka ruang pasar dan model bisnis baru.

Generasi ini menafsirkan ulang “wellness” dengan caranya sendiri. Tradisi bertabrakan dengan tren, suplemen kuno berubah menjadi mata uang sosial, dan minuman fungsional naik ke panggung utama konsumsi modern.

Mengapa Anak Muda Kerap Menyasar “Suplemen Paruh Baya”? Tiga Tren Utama

  1. Resonansi Emosional Bertemu Kebutuhan Fungsional—Wellness Jadi Bahasa Sosial Baru

Bagi anak muda, konsumsi bukan lagi soal fungsi semata, melainkan sarana ekspresi diri dan koneksi sosial—wellness pun tak terkecuali.

Berbagi Teh Liuwei Dihuang saat bermain gim menyiratkan persona “paham kearifan tradisi sekaligus tahu cara bersenang-senang”. Saling merekomendasikan “Sup Pangeran Putih” menjadi bentuk kepedulian antar sahabat. Sementara istilah seperti “Pil Tembus Sekte” memperkuat identitas dan rasa memiliki dalam lingkaran komunitas.

Di bawah tekanan hidup modern, Liuwei Dihuang dijadikan humor swaironi—mengakui rasa “lelah dan kosong” dengan cara ringan, justru terasa jujur dan hidup.

Dari “air ajaib menstruasi” hingga Teh Liuwei Dihuang, produk-produk ini melampaui status minuman. Mereka menjadi medium sosial yang memuat humor, empati, dan budaya subkultur.

  1. Era Kesetaraan Informasi: Bangkitnya “Konsumen Ahli”

Gen Z tumbuh bersama internet. Mereka piawai mencari, membandingkan, dan meneliti. Iklan tak lagi mudah dipercaya; yang dipercaya adalah paper akademik, ulasan mendalam, dan analisis kreator tepercaya. Lahirlah generasi “konsumen ahli”.

Bagi mereka, transparansi bahan adalah batas minimum. Mereka membaca label, memahami fungsi kurkumin atau rehmannia olahan, dan menuntut kejelasan.

Kesuksesan Teh Liuwei Dihuang adalah wujud “wellness berbasis sains”. Dibandingkan praktik wellness instan yang ekstrem, formulanya transparan—berisi rehmannia olahan, cornelian cherry, ubi cina—serta didukung resep klasik berusia ribuan tahun. Perpaduan otoritas sejarah dan riset modern ini selaras dengan rasionalitas “ingredient-minded consumers”.

Di saat yang sama, pengalaman pengguna nyata dan reputasi menjadi bukti kepercayaan. Konten UGC dalam jumlah besar memegang peran kunci dalam keputusan pembelian.

Dengan akar pada teks medis klasik Xiao’er Yaozheng Zhijue dan dukungan riset modern, Liuwei Dihuang Wan memenuhi kebutuhan “jaminan ganda—kuno dan modern” yang dicari anak muda.

  1. Kebutuhan Wellness Makin Spesifik, Produk Menyatu Lebih Cepat ke Skenario Hidup

Evolusi minuman kesehatan melampaui pengurangan gula dan lemak. Fase berikutnya adalah penambahan terarah: superplant, bahan niche, dan manfaat fungsional yang jelas.

Naiknya Teh Liuwei Dihuang menandai bahwa konsumsi wellness akan tersegmentasi seperti skincare dan tertanam kuat dalam skenario hidup tertentu.

Penentuan fungsi makin presisi: bukan sekadar “tambah serat”, melainkan “meringankan konstipasi akibat duduk lama”; bukan hanya “tingkatkan imun”, tetapi “dukungan imun pasca begadang”; “redakan lelah” dipersempit menjadi “kurangi kelelahan mata dan otak setelah menatap layar lama”; “tambahan nutrisi” berevolusi menjadi “perlindungan hati saat makan-minum bersama”.

Baik minuman kemasan maupun racikan segar, produk harus memainkan peran spesifik dalam “naskah hidup” pengguna—hadir tepat waktu di konteks yang tepat.

Ledakan Teh Liuwei Dihuang dan Akselerasi Minuman Fungsional

Dari arak tonik yang menambah 4 juta konsumen perempuan hingga meroketnya Teh Liuwei Dihuang, ini bukan sekadar kisah produk viral—melainkan potret kebangkitan minuman fungsional secara keseluruhan.

Di pasar konsumsi muda, skenario serupa terjadi serentak di berbagai tempat.

Pada 2025, kopi terlaris nomor satu di Douyin mengandung ekstrak kacang ginjal putih dan daun murbei—menarik konsumen disiplin—dengan penjualan bulanan mencapai 60 juta yuan.

Di Jepang, air protein menjadi kebutuhan harian pekerja kantoran dengan klaim “kecantikan + protein”. Di AS, “kopi jamur” buatan lulusan Harvard dengan enam jamur organik membukukan penjualan tahunan 300 juta dolar AS.

Di dalam negeri, minuman kunyit botolan kecil dari Hema menjadi kejutan penjualan, dijuluki “obat herbal Barat” dan “penyelamat menstruasi”. Sementara “Sup Pangeran Putih” impor berbahan spirulina dan buah-buahan juga laris, menjadi “air harapan” bagi banyak perempuan muda.

Pekan lalu, merek lemon tea Nanjing, Yes Lemon, meluncurkan versi seduh segar Sup Pangeran Putih. Berbasis teh melati, dipadukan lemon harum Guangdong dan spirulina yang memberi warna biru misterius—netizen menyebut rasanya “asam-manis menghantam puncak kepala”.

Semua contoh ini mengarah pada satu perubahan: kebutuhan kesehatan anak muda kian berorientasi hasil dan spesifik konteks. Arak tonik cepat populer karena menghangatkan tubuh saat menstruasi; Teh Liuwei Dihuang hadir sebagai “suplementasi instan” untuk begadang, olahraga, dan aktivitas luar ruang.

Bagi anak muda, wellness bukan lagi konsep abstrak “sekadar menyeimbangkan tubuh”, melainkan solusi instan yang sangat kontekstual dan berorientasi masalah.

Untuk merek minuman seduh segar—dan seluruh brand konsumen—pelajaran utamanya jelas: keaslian dan transparansi mengalahkan gimmick pemasaran. Klaim fungsi harus berbasis bukti, dan informasi bahan wajib jelas serta tepercaya.

Di lintasan baru ini, kepercayaan adalah fondasi konsumsi. Sekali runtuh, nyaris mustahil dibangun kembali.

接著讀