2026年9月10日

Zhang Zhuoyi’s Football Dream Fades — No Club Dares to Sign Him, Admits Sadly: “I Don’t Love Football That Much Anymore”

Setelah berseteru dengan HiBall Youth Academy, perjalanan karier sang “keajaiban sepak bola” Zhang Z...

Setelah berseteru dengan HiBall Youth Academy, perjalanan karier sang “keajaiban sepak bola” Zhang Zhuoyi tampaknya benar-benar menemui jalan buntu. Menurut laporan, tidak ada satu pun tim akademi muda klub profesional yang bersedia menerima dirinya. Kini, bocah berusia 12 tahun itu hanya bisa melanjutkan sekolah di SMP biasa dan bermain di tim sepak bola sekolahnya.

Kisah ini bermula pada bulan Mei lalu, ketika sang ibu mengungkap di media sosial bahwa Sun Jihai dan akademi HiBall menuntut kompensasi fantastis sebesar 180.000 yuan. Perselisihan antara kedua pihak pun tak pernah menemukan titik damai. Orang tua Zhang akhirnya mengajukan arbitrase kepada Asosiasi Sepak Bola Tiongkok (CFA). Namun, sebelum hasil arbitrase keluar, pihak HiBall justru menggugat orang tua Zhang ke pengadilan, menuntut ganti rugi sebesar 2,66 juta yuan atas dugaan pelanggaran kontrak. Karena perkara tersebut sudah masuk ranah hukum, CFA pun menangguhkan proses arbitrase. Hingga kini, pengadilan belum menjatuhkan putusan, membuat status “free agent” Zhang terkatung-katung — hal yang sangat menghambat latihan dan perkembangan kariernya.

Menurut laporan The Beijing News, Zhang telah meninggalkan HiBall dan kembali berlatih di Longqi Football Club di Xi’an. Namun karena belum memiliki surat bebas transfer, statusnya masih “mengambang” dan tidak ada klub yang berani menandatanganinya. Pelatih Longqi, Mao Jiaxi, berpendapat bahwa jalan profesional Zhang hampir tertutup sepenuhnya. “Dengan situasi publik yang rumit seperti ini, klub-klub profesional pasti memilih menjauh. Kemungkinan besar, karier profesional Zhang Zhuoyi sudah berakhir,” ujarnya.

Tanpa bisa bergabung ke sistem akademi profesional, Zhang kini bersekolah di SMP lokal dan bermain di tim sekolahnya sekadar untuk menjaga sentuhan dan kebugarannya. Dibandingkan masa latihan di HiBall yang penuh disiplin dan intensitas tinggi, latihan Zhang saat ini jauh lebih ringan dan minim pembinaan profesional. Lebih buruk lagi, ia juga dilarang mengikuti berbagai liga elite di bawah naungan CFA — sebuah pukulan berat bagi pemain muda yang dulu digadang-gadang sebagai harapan masa depan sepak bola Tiongkok.

Pertikaian panjang dan ketidakpastian yang terus berlanjut jelas menguras semangat sang bocah. Saat ditanya apakah ia masih mencintai sepak bola, Zhang menjawab pelan, “Masih suka… tapi tidak seperti dulu lagi.”

Dari sosok yang dulu dijuluki “anak ajaib sepak bola”, kisah Zhang Zhuoyi kini berubah menjadi pelajaran pahit tentang rapuhnya mimpi dan gairah muda di tengah kerasnya dunia olahraga modern.

接著讀