2026年9月12日

Semua Perusahaan Besar Punya “Penyakit” — Tapi Kenapa Mereka Tak Pernah Berubah?

Orang yang masih mau berbicara jujur tentang kelebihan dan kekurangan perusahaannya saat hendak resi...

Orang yang masih mau berbicara jujur tentang kelebihan dan kekurangan perusahaannya saat hendak resign sebenarnya adalah orang yang tulus — masih ada rasa dan keterikatan terhadap tempat ia pernah bekerja. Karena sejatinya, siapa pun yang punya sedikit akal sehat dan kepekaan pasti bisa melihat sisi baik dan buruk sebuah perusahaan. Hanya saja, kebanyakan orang memilih diam karena merasa “bukan urusan saya”.

Beberapa bulan lalu, sebuah surat pengunduran diri dari karyawan Alibaba sempat viral. Tapi sejujurnya, masalah yang disebutkan di sana bukanlah penyakit khusus Alibaba saja — melainkan “penyakit kronis” yang akan muncul pada setiap perusahaan besar begitu ukurannya mencapai titik tertentu. Sama seperti manusia yang memasuki usia lima puluhan, tekanan darah dan gula darah pasti naik. Ya, itu memang masalah, tapi tidak berarti tubuh langsung kolaps. Banyak orang yang tetap bisa hidup sehat sampai seratus tahun, meskipun membawa “penyakit” itu.

Sifat manusia dan kompleksitas organisasi besar membuat sebagian masalah tak terelakkan. Ada perusahaan yang bisa mengendalikannya dengan baik — ibarat tekanan darah masih 140, masih bisa berfungsi normal. Tapi ada pula yang membiarkannya naik sampai 180, dan pada titik itu perlu “perawatan serius”.

Belum lama ini, saya berbincang dengan seorang pengusaha yang perusahaannya bernilai sekitar 1 miliar yuan. Ia mengakui, di skala itu, praktik korupsi tetap sulit dihindari. “Kalau transaksi kami mencapai puluhan juta,” katanya, “masa iya nggak ada yang ambil bagian sedikit? Kalau pemasok kasih 1% komisi saja, untuk nilai 100 juta itu sudah satu juta.” Bahkan di perusahaan kecil pun bisa terjadi hal serupa — seorang rekan yang membeli jasa pihak ketiga bisa saja diberi sebotol Moutai hanya untuk urusan bisnis beberapa puluh ribu yuan.

Perusahaan-perusahaan yang dipuji sebagai “panutan” di dunia maya pun tak sepenuhnya bersih. Saya tanya langsung ke beberapa rekan di industri — mereka bilang, korupsi tetap ada, hanya skalanya saja yang berbeda.

Masalah ini sebenarnya sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Kaisar tidak mungkin mengurus segalanya sendiri, tapi juga tak sepenuhnya percaya pada para menterinya. Maka dibentuklah badan pengawas seperti “Dongchang”. Namun pertanyaannya, siapa yang mengawasi para pengawas itu? Itulah dilema yang tak pernah punya jawaban pasti.

Ada yang bilang sistem “pemisahan kekuasaan” bisa jadi solusi. Teorinya bagus, tapi praktiknya tidak sesempurna itu. Lihat saja Amerika — masih ada orang yang bisa menikmati tunjangan sosial turun-temurun selama ratusan tahun.

Itulah sebabnya mengapa negara-negara kecil sering menempati peringkat teratas sebagai pemerintahan paling bersih. Karena semakin kecil lingkupnya, semakin mudah pula mengatur dan mengontrolnya.

Dan jujur saja — kalau salah satu dari kita diberi tanggung jawab untuk memimpin perusahaan sebesar Alibaba, belum tentu kita bisa melakukannya lebih baik dari para eksekutif yang ada sekarang.

接著讀

Iran Tembakkan Hampir 400 Rudal! Israel Kekurangan Peluru, Kedutaan AS Tutup 3 Hari

Militer Israel melaporkan bahwa Iran telah menembakkan hampir 400 rudal balistik dalam beberapa hari terakhir—serangan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Sementara itu, The Wall Street Journal mengungkap bahwa stok rudal pertahanan Israel mulai menipis. Kedutaan Besar AS di Israel mengumumkan penutupan sementara pada 18–20 Juni karena risiko keamanan yang meningkat.

451 天前