2026年9月10日

Saat Aku Bergabung ke Grup ‘Lunas KPR

Beberapa hari terakhir, Guangdong diterpa topan besar, dan untuk pertama kalinya kami “dipaksa” meni...

Beberapa hari terakhir, Guangdong diterpa topan besar, dan untuk pertama kalinya kami “dipaksa” menikmati satu setengah hari libur penuh ketenangan. Saat menunggu badai mereda di rumah, aku tanpa tujuan menggulir layar ponsel, lalu tanpa sengaja masuk ke sebuah artikel yang membawaku ke grup “Lunas KPR”.

Aku bergabung tanpa berpikir panjang—empat kata itu, “Lunas KPR”, begitu menggoda. Aku juga punya cicilan rumah, dan tekanan finansialnya sering membuatku terengah-engah. Mimpi terbesarku adalah bisa melunasi cicilan secepat mungkin, jadi kata “lunas” terasa seperti magnet bagiku. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana orang lain merencanakannya, bagaimana mereka bisa melakukannya. Aku ingin belajar dari mereka yang sudah berhasil.

1. Rencana Awalku untuk Melunasi KPR

Awalnya, rencanaku cukup sederhana: sisakan dana darurat dan biaya hidup untuk enam bulan ke depan, lalu gunakan semua sisa uang untuk mempercepat pelunasan. Namun bahkan dengan strategi ini, aku masih butuh hampir sepuluh tahun lagi untuk benar-benar bebas dari cicilan. Sepuluh tahun! Saat itu aku sudah mendekati usia lima puluh.

Aku tidak ingin seumur hidup bekerja hanya untuk membayar pinjaman. Aku ingin melunasinya lebih cepat, menabung sedikit untuk masa pensiun, dan menikmati hidup yang tenang. Dengan harapan itu, aku pun bersemangat masuk ke grup tersebut.

Ternyata anggota grup punya format nama unik—“Kota + Nama + Sisa Cicilan”. Terlihat rapi dan membuatku ikut menghitung ulang sisa cicilanku sendiri. Sebelum sempat mengganti nama, ratusan pesan sudah bermunculan. Grup yang bahkan belum mencapai 200 orang itu ternyata sangat aktif.

Aku tak sempat membaca semuanya, jadi langsung bertanya: “Bagaimana rencana kalian untuk melunasi KPR?”

Jawaban mengalir deras: “Hemat dan tambah penghasilan,” “Minta bantuan keluarga,” “Bayar tambahan setiap tahun,” “Ada uang sedikit, langsung setor.”

Jujur, aku agak kecewa. Semua jawaban itu sudah pernah terpikirkan, tak ada yang benar-benar baru.

2. Menghemat dan Meningkatkan Penghasilan

Untuk urusan berhemat, aku masih bisa mengatur sedikit. Pengeluaran rumah tanggaku sekitar 150.000 yuan per tahun—kalau lebih ketat, mungkin bisa menghemat 10.000–20.000 yuan.

Soal menambah penghasilan, aku sudah mencoba berbagai cara. Satu-satunya yang masih aku jalankan adalah menulis di akun publikku. Upaya lain—seperti jualan kecil-kecilan—tak berhasil. Tempat kerjaku terlalu terpencil, dan jarak ke kota membuat ide membuka stan makanan jadi mustahil. Seorang rekan pernah mencoba jualan sosis bakar, tapi menyerah setelah beberapa minggu. Bekerja di siang hari dan berjualan di malam hari terlalu melelahkan.

Aku juga pernah terpikir menjadi pengantar makanan, tapi itu hanya sekadar ide. Malam hari aku harus membantu anak belajar, dan kemampuan mengemudiku juga tidak terlalu baik. Apalagi daerah ini cukup sepi dan rawan, jadi aku urungkan niat itu.

Akhirnya, menulis adalah satu-satunya cara realistis untuk menambah penghasilan. Meskipun hasilnya masih kecil, aku percaya tindakan nyata—sekecil apa pun—lebih baik daripada hanya berandai-andai.

3. Bantuan dari Keluarga? Tidak untuk Semua

Beberapa anggota grup bilang mereka meminta bantuan keluarga. Mungkin itu berhasil bagi sebagian orang, tapi tidak bagiku. Kondisi keluargaku biasa saja—punya orang tua yang sehat dan damai saja sudah merupakan rezeki besar.

Ada juga yang menyarankan untuk menyisihkan uang tambahan setiap tahun, berapa pun jumlahnya. Aku pun melakukan hal yang sama. Sedikit demi sedikit, seperti memindahkan gunung batu dengan tangan kosong—lambat, tapi terus berjalan.

Realitanya, memang hanya itu yang bisa dilakukan. Semakin tua, beban hidup semakin berat—biaya sekolah anak, kesehatan orang tua, kebutuhan rumah tangga, semuanya butuh uang. Sementara itu, peluang kerja menurun dan tubuh tak lagi sekuat dulu.

Dulu aku percaya suatu hari bisa sukses besar, menghasilkan banyak uang, dan hidup nyaman. Kini aku sadar: aku hanyalah orang biasa dengan pekerjaan biasa, berjuang sekadar untuk hidup layak.

Jadi, strategi paling cocok untukku hanyalah—ada uang, langsung bayar.

4. Ketika Grup Mulai Menyimpang

Tak lama kemudian, topik pembicaraan di grup mulai keluar jalur. Ada yang menyesal sudah membeli rumah, ada yang mengeluh harga properti dulu terlalu tinggi. Lalu obrolan bergeser ke urusan rumah tangga, mertua, hingga beberapa pria mulai pamer tentang wanita, mobil, dan rumah mereka.

Suasananya jadi tidak nyaman. Grup yang awalnya penuh semangat berubah menjadi ajang debat dan kesombongan. Saat topik bergeser ke pekerjaan, orang-orang saling membandingkan penderitaan—siapa yang paling susah, siapa yang paling kuat. Akhirnya, perdebatan memanas dan grup berubah jadi arena pertengkaran.

Aku muak dan langsung keluar. Seketika, dunia terasa tenang kembali.

Ketika kuingat lagi, sebenarnya caranya memang cuma itu-itu saja. Awalnya aku berharap bisa belajar sesuatu, tapi nyatanya tak ada yang berguna—hanya buang waktu, tenaga, dan kuota internet.

Mungkin aku kecewa karena berharap ada jalan pintas menuju kebebasan finansial. Tapi nyatanya, jalan itu tidak ada. Untungnya, tak ada yang mencoba menipuku di grup itu—meski aku juga tidak akan mudah percaya.

Mulai sekarang, aku akan lebih selektif. Daripada ikut grup yang tak berguna, lebih baik membaca kisah nyata orang lain. Dari sana, mungkin aku bisa belajar hal yang benar-benar berharga.

接著讀