2026年9月10日

Luo Yonghao Berani Bicara — Menghentak Tim Operasi “Tidak Profesional”, Gaya Tegasnya Mirip Saat Menghadapi Hua & Hua

Tengah malam saat sedang menggeser video pendek, saya tanpa sengaja menemukan potongan livestream Lu...

Tengah malam saat sedang menggeser video pendek, saya tanpa sengaja menemukan potongan livestream Luo Yonghao — dan seketika langsung membuat mata melek total.

Di depan ratusan ribu penonton, Luo tiba-tiba meledak — menanyai tim operasionalnya dengan pertanyaan beruntun yang tajam, lalu menutupnya dengan kalimat keras: “Ini cara kerja yang terlalu tidak beretika!” Ketegasan dan keberaniannya terasa begitu menyegarkan dan mewakili banyak orang.

Momen itu terjadi saat ia mempromosikan sebuah TV. Tiba-tiba Luo berhenti dan mempertanyakan tim backend: “Stok cuma satu unit? Ini untuk pembeli sungguhan atau hanya umpan untuk scalper?” Ia menunjuk ke layar ponselnya sambil berkata: “Lihat — komentar penuh dengan pertanyaan ‘kok sudah habis dalam satu detik?’ Kalian tahu scalper memakai script. Kalian tahu pembeli asli tidak punya peluang. Tapi kalian sengaja bikin stok minim agar terlihat seperti rebutan? Itu melecehkan konsumen.”

Luo terus melanjutkan dengan kritik yang lebih pedas: “Pertanyaan soal pengiriman dan layanan purna jual sudah muncul berkali-kali di layar, tapi kalian tidak menjawab secara aktif. Saya harus menghentikan siaran dan bertanya lebih dulu baru kalian bergerak? Memantau komentar secara real-time itu hal dasar. Ini sangat tidak profesional!”

Jujur saja, awalnya saya merasa ucapannya terlalu blak-blakan, bahkan mungkin agak mempermalukan timnya sendiri. Tapi kalau dipikir lagi, itu justru mewakili rasa frustasi banyak penonton yang pernah merasakan hal serupa — ikut livestream untuk mencari promo jujur, tapi malah kalah dari script robot atau diabaikan saat bertanya.

Bagi yang sudah lama mengikuti, semua orang tahu Luo Yonghao bukan tipe orang yang bisa menoleransi manipulasi atau ketidakjujuran. Saat insiden sweter palsu dulu, ia tidak mencari alasan, langsung meminta maaf secara publik dan berjanji memberi kompensasi tiga kali lipat. Sejak itu banyak yang melihatnya sebagai host yang berani bertanggung jawab.

Dan gaya “tak mau kompromi” itu muncul lagi belakangan ini — kali ini dalam perselisihan terbuka dengan pendiri Hua & Hua, Hua Shan. Konsistensinya luar biasa: saat melihat sesuatu yang tidak etis, baik dari timnya sendiri atau dari pihak luar, ia selalu memilih konfrontasi langsung.

Tiga bulan lalu, dalam kontroversi makanan pre-made Xibei, Luo mempertanyakan kenapa harga Xibei begitu tinggi padahal menggunakan banyak bahan siap saji. Hua Shan sebagai konsultan merek Xibei bukan hanya membela Xibei, tapi juga menyebut Luo sebagai “penghasut internet.”

Hua Shan kemudian meminta maaf secara pribadi, dan situasi mereda. Tapi baru-baru ini ia kembali mengunggah pernyataan yang memuji Xibei sebagai “puncak industri kuliner” dan menyiratkan bahwa Xibei “telah dijebak”. Target sindirannya jelas — Luo.

Luo langsung merespons pada dini hari dengan tiga pertanyaan keras: “Siapa yang menjebak? Siapa yang mengatur? Apa maksudmu?” Dan ia menegaskan jika penjelasan tidak jelas, ia akan merilis rekaman percakapan.

Tidak berhenti di situ — Luo memberi ultimatum: Hua Shan harus meminta maaf secara publik sebelum pukul enam sore hari itu. “Permintaan maaf privat tidak berlaku lagi,” katanya. “Jika kamu tidak melakukannya secara terbuka, dunia PR akan mengingat ‘Luo vs Hua’, bukan Hua & Hua.”

Luo bahkan membeli semua buku Hua & Hua, dengan tujuan memberikan “kelas anti-manipulasi pemasaran” bagi para pemilik bisnis, mengingat Hua & Hua menerima lebih dari 60 juta RMB selama 10 tahun dari Xibei namun justru mengajarkan cara bermain retorika, bukan melayani konsumen dengan baik. Tak heran Luo menyebut mereka “algojo merek”.

Bahkan ketika Hua Shan menutup kolom komentar dan memilih diam, Luo tidak mundur. Saat ditanya penonton, ia menjawab tegas: “Rekaman tentu akan dirilis — pada waktunya.” Sama sekali tanpa ragu.

Aksi Luo memarahi tim operasionalnya di livestream dan konfrontasinya dengan Hua & Hua berasal dari prinsip yang sama: jika sesuatu sudah melewati batas etikanya, ia tidak akan diam.

Yang perlu dipahami — tuntutan Luo akan permintaan maaf publik bukanlah sekadar arogansi atau drama. Jika konsultan brand dibayar mahal, tapi justru menyarankan strategi manipulatif yang merugikan konsumen, itu sudah melanggar etika bisnis.

Orang-orang bukan menunggu pertarungan — mereka menunggu transparansi.

Ketegasan moral Luo Yonghao ini seharusnya menjadi alarm bagi industri. Jika Hua Shan akhirnya tampil dan meminta maaf secara terbuka, itu akan menjadi standar baru. Tapi jika ia tetap bersembunyi, “Luo vs Hua” benar-benar akan menjadi bahan tertawaan permanen di dunia public relations.

接著讀