2026年9月10日

5000 Karyawan Dipecat dalam Semalam! Strategi Rekrut Ulang Bergaji Lebih Rendah dari Mercor Tuai Kecaman

Antusiasme dunia terhadap AI seakan tidak pernah padam. Raksasa teknologi berlomba-lomba menggelonto...

Antusiasme dunia terhadap AI seakan tidak pernah padam. Raksasa teknologi berlomba-lomba menggelontorkan dana dalam jumlah besar, para analis menyebut AI menyumbang hampir 90% pertumbuhan GDP Amerika Serikat, sementara media menyuarakan optimisme tentang “era kemakmuran manusia yang baru”.

Namun di balik euforia ini, ada kisah yang lebih sunyi—tentang orang-orang yang tersingkir tanpa terdengar.

Minggu lalu, satu email dari perusahaan data AI Mercor membuat 5.000 orang mendadak kehilangan pekerjaan dalam semalam. Gelombang yang disebut sebagai “revolusi AI” akhirnya mengungkap pengorbanan yang tersembunyi di balik kemajuan tersebut.

Dipecat dalam semalam — lalu direkrut kembali dengan gaji lebih rendah

Pemutusan kerja yang tiba-tiba ini mengejutkan ribuan pekerja data annotation.

Mercor adalah perusahaan yang menyediakan layanan pelabelan data untuk OpenAI, Anthropic, dan Meta. Para pekerjanya membantu AI belajar mengenali gambar dan memahami teks—peran yang paling mendasar dan krusial dalam pelatihan AI, namun sering kali tidak terlihat.

Namun pada pertengahan November, Mercor tiba-tiba mengumumkan bahwa Proyek Musen yang dijalankan bersama Meta dihentikan lebih cepat dari rencana. Ironisnya, beberapa hari sebelumnya para pekerja masih diberitahu bahwa klien puas dan proyek akan diperpanjang hingga akhir tahun.

Lalu email itu datang—dan pekerjaan mereka terhenti begitu saja.

Beberapa hari kemudian, Mercor kembali mengumumkan proyek baru bernama “Nova”. Tugasnya hampir sama, tapi upahnya lebih rendah. Perusahaan menyebutnya sebagai langkah untuk menciptakan “stabilitas yang lebih baik dan fleksibilitas waktu”. Namun pada praktiknya, ini hanyalah pemotongan gaji yang dibungkus narasi perbaikan operasional.

Yang membuatnya semakin ironis, Mercor baru saja mendapatkan pendanaan baru, dengan valuasi mendekati 10 miliar dolar AS. Di depan publik, Mercor dipuja sebagai unicorn yang melonjak — tetapi di balik layar, pekerjaan yang sama dihidupkan kembali dengan biaya tenaga kerja yang lebih murah.

Pola ini sebenarnya bukan fenomena baru. Perusahaan seperti xAI, Scale AI, dan Appen sudah berkali-kali melakukan praktik serupa: proyek berakhir, kontraktor diberhentikan, lalu “dipekerjakan kembali” dengan nama proyek baru dan tarif lebih rendah.

Yang membedakan kali ini adalah—Mercor membuat praktik eksploitatif ini terlihat sangat jelas dan transparan. Semuanya terjadi cepat, senyap, dan dingin. Saat valuasi perusahaan AI terus menanjak, mereka yang berada di belakang layar—yang menyuplai data pelatihan—digantikan tanpa suara.

Di jalur produksi AI: “Kami ingin melawan—tapi kami butuh uang”

Ketika email pemutusan kontrak itu datang, banyak pekerja tidak percaya.

Seorang annotator mengatakan:
“Mereka bilang klien puas dan proyek akan lanjut. Saya merasa lega… lalu tiba-tiba saya kehilangan pekerjaan.”

Di Reddit, seseorang menulis bahwa mereka menerima email pemutusan kontrak pukul 3 pagi, dan keesokan harinya akses platform kerja sudah dihapus—hanya menyisakan pesan singkat: “Terima kasih atas kontribusimu.”

Tak lama kemudian, undangan bergabung kembali datang. Masuk proyek Nova. Tugas sama. Gaji berbeda. Tarif turun dari 21 dolar menjadi 16 dolar per jam.

Mercor menjelaskan bahwa penyesuaian ini dilakukan untuk “menjaga konsistensi tugas” dan “meningkatkan efisiensi kerja”. Dalam kata lain: pekerjaan sama, dibayar lebih murah.

Seorang pekerja yang akhirnya menerima kontrak baru mengatakan:
“Kami ingin menolak, tapi kami butuh pemasukan. Bahkan jika rasanya merendahkan.”

Mayoritas pun menandatangani kontrak tersebut. Ada yang perlu menghidupi anak, ada yang membayar pinjaman pendidikan, ada yang tidak punya pilihan pekerjaan lain.

Mereka bukan karyawan tetap Mercor. Mereka hanya tenaga kontrak. Tidak ada asuransi, tidak ada cuti berbayar, dan tidak ada ruang untuk negosiasi. Mereka tahu diri mereka dieksploitasi—but they simply need the income.

Narasi “kemakmuran manusia” — tapi tidak berlaku untuk semua orang

Di atas kertas, AI terlihat seperti keajaiban ekonomi. Data resmi menunjukkan sektor teknologi menyumbang 92% pertumbuhan GDP Amerika pada paruh pertama 2025.

Namun pada saat yang sama, pemutusan kerja di sektor teknologi mencapai rekor tertinggi sejak 2003.

Amazon baru saja memangkas 14.000 posisi korporat, sementara Google dan Meta terus melakukan “optimalisasi tim”. Terlihat janggal: keuntungan naik, tetapi lapangan kerja hilang.

Tetap saja, para CEO masih dengan percaya diri menggambarkan masa depan AI yang konon akan membuat manusia lebih sejahtera.

Sam Altman dari OpenAI berkata:
“Kita sedang menuju era kemakmuran manusia yang sulit dibayangkan.”

Namun dalam ekosistem Mercor, Appen, dan Scale AI, AI bukan membuat hidup lebih merdeka—melainkan membuat tenaga kerja semakin murah nilainya. Para data labeler adalah tukang bangunan dunia AI. Mereka membangun fondasinya, tetapi dihilangkan dari hasil kemakmurannya.

Muncul pertanyaan: ketika CEO berbicara tentang “kemakmuran manusia”, siapa yang dimaksud dengan “manusia”?

Investor? Pendiri startup? Insinyur model AI?
Atau para pekerja yang menerima email PHK pukul 3 pagi dan menandatangani kontrak bergaji lebih rendah sebelum matahari terbit?

Jika kemakmuran manusia berarti sedikit orang menguasai modal dan infrastruktur AI sementara mayoritas “dinilai ulang” oleh algoritma, maka utopia ini mungkin sudah semakin mirip distopia.

Disebut “freelancer”—padahal dilepaskan tanpa perlindungan

Industri AI sangat gemar menggunakan istilah “pekerjaan fleksibel”. Para labeler bukan lagi karyawan—mereka adalah “mitra independen”, “tenaga kerja global”, “kontributor fleksibel”. Kedengarannya modern dan bebas.

Namun kenyataannya, “kebebasan” itu justru berarti dilepaskan tanpa perlindungan.

Mercor, Scale AI, dan Appen memecah pekerjaan menjadi tugas-tugas kecil yang diserahkan pada jaringan pekerja kontrak global—sementara tanggung jawab sebagai pemberi kerja hilang begitu saja.

Tanpa asuransi, tanpa cuti, tanpa gaji tetap. Bahkan pemutusan kerja pun hanya berbentuk satu email, dan akses login yang tiba-tiba tidak berfungsi.

Ini menciptakan paradoks: semakin pekerja mencari stabilitas, semakin mereka terjerat dalam ketidakpastian.

Perusahaan AI membungkus ketidakstabilan dengan kata “fleksibilitas”. Mereka mengganti hubungan kerja dengan istilah “kolaborasi”. Mereka mengganti pengawasan dengan algoritma.

Di balik layar monitor, para labeler tetap bekerja—melatih model, membersihkan data, membuat AI makin pintar. Tetapi keberadaan mereka sendiri malah menghilang dari sistem.

Dunia AI semakin maju—sementara gaji mereka turun kembali ke level satu dekade yang lalu.

接著讀