2026年9月10日

Tak Terima Kekalahan! Reporter CBA Menantang Guo Shiqiang dengan 4 Pertanyaan Tajam: Jika Rebound Tidak Terjaga, Mengapa Tidak Turunkan Pemain Sayap yang Lebih Tinggi?

Fans sangat kecewa melihat Timnas Basket China kalah dari Korea Selatan — dan jelas mereka bukan sat...

Fans sangat kecewa melihat Timnas Basket China kalah dari Korea Selatan — dan jelas mereka bukan satu-satunya! Reporter CBA “Jangan Lari, Pikul Babi” juga tidak terima, sampai-sampai ia melontarkan empat pertanyaan tajam kepada Guo Shiqiang: jika lineup kecil dalam permainan cepat ternyata efektif, mengapa baru dipakai di akhir?

Pertandingan semalam berakhir dengan selisih hanya empat poin, namun bagi mayoritas fans, kekalahan tersebut tetap sulit diterima. Bermain di kandang sendiri dengan skuad yang hampir lengkap, semua orang berharap melihat kemenangan yang tegas. Namun hasilnya justru membuat publik bertanya-tanya: bagaimana tim ini tetap gagal meraih kemenangan?

Banyak opini bermunculan, namun “Jangan Lari, Pikul Babi” menilai bahwa tanggung jawab utama ada pada pelatih kepala, Guo Shiqiang — terutama menyangkut pilihan pemain dan strategi permainan.

Ia pun mengajukan empat pertanyaan keras kepada Guo:

  1. Jika rebound tidak bisa diamankan, mengapa tidak menurunkan pemain sayap yang lebih tinggi? Kita unggul dalam hal postur dan panjang badan, tetapi Guo justru memilih taktik tiga guard, yang akhirnya membuat China kehilangan rebound penting di saat krusial.
  2. Mengapa tidak menugaskan pemain sayap yang lebih tinggi untuk menjaga Lee Hyunjoong? Pemain Korea itu tampil luar biasa, memasukkan 9 kali three-point dan mencetak 33 poin. Jelas guard kita tidak mampu menjangkaunya — namun strategi pertahanan tetap tidak berubah.
  3. Saat efisiensi serangan rendah, mengapa tetap memaksakan permainan low-post? Berulang kali kita melihat Zhou Qi terjebak dalam duel satu lawan satu di bawah ring, namun hasilnya tidak efektif. Meski begitu, pola tersebut terus dijalankan, seolah Zhou Qi diperlakukan sebagai sosok dominan seperti era big-man klasik.
  4. Jika lineup kecil dengan tempo cepat terbukti efektif di akhir, mengapa tidak diterapkan sejak awal? Mungkinkah momentum pertandingan bisa berubah lebih cepat jika keputusan tersebut datang lebih awal?

Singkatnya, China memainkan laga yang terasa aneh, seperti basket versi lama yang kaku dan mudah terbaca. Padahal di atas kertas, kualitas individu dan kolektif kita lebih unggul dibanding Korea. Tetapi rangkaian keputusan aneh dari bench justru membawa tim menuju kekalahan. Para pemain terlihat kurang energi, tidak fleksibel, dan strategi terasa usang. Di Piala Asia, kita sempat menunjukkan gaya basket modern — tempo cepat, spacing, dan ball movement. Namun kali ini justru kembali ke pola lama: guard hanya sebagai pengantar bola, center terjebak low-post, sementara forward nyaris tidak berperan.

Tak heran banyak fans menyimpulkan: China bukan kalah dari Korea — tapi kalah dari keputusan Guo Shiqiang. Dan jujur saja, saya pun setuju. Menurut Anda bagaimana?

接著讀

NVIDIA Memimpin Era Baru Superkomputer: Kecepatan, AI, dan Penemuan Ilmiah

Di ISC 2025, NVIDIA menegaskan kembali kepemimpinannya dalam komputasi berkinerja tinggi (HPC) global. Sebanyak 77% dari sistem dalam daftar TOP500 terbaru didukung oleh teknologi komputasi akselerasi NVIDIA. Dari mendominasi Green500 hingga mendorong penemuan ilmiah berbasis AI, NVIDIA sedang membentuk masa depan superkomputasi.

457 天前

Anggota Kongres AS: Pintu Diplomasi Akan Tertutup, Kongres Siapkan “Palu Besar” untuk Trump Hantam Rusia

Meski pemerintahan Trump terus mendorong diplomasi untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina, hasilnya sejauh ini minim. Pada 13 Juli, Senator Lindsey Graham mengatakan Kongres tengah menyiapkan rancangan sanksi besar-besaran yang akan memberi Presiden Trump alat ekonomi “palu besar” untuk menghantam Rusia dan para pendukungnya. Ia memperingatkan bahwa jendela negosiasi “segera akan tertutup”.

423 天前

Dari “Enam Kali Juara” ke “Ikon Global”: Mengapa “Evergreen Serba Bisa” LeBron James Telah Melampaui Jordan

Perdebatan tentang NBA Greatest of All Time (GOAT) antara Michael Jordan dan LeBron James sudah lama berlangsung. Baru-baru ini, daftar “100 Pemain Terbaik” kembali memanas setelah menempatkan Jordan hanya satu suara di atas James. Meski puncak dominasi Jordan sulit ditiru, perolehan statistik dan penghargaan LeBron yang tak henti-hentinya telah membentuk warisan yang lebih matang—dan bertahan lebih lama.

420 天前