2026年9月10日

Hanya 1.350 Yuan! Saya Berhasil Mendapatkan “Karya Terakhir” Laptop Gaming dari Huawei — Nilai dan Performa di Luar Dugaan

Xiaolei baru saja membeli sebuah Honor Hunter V700. Bukan karena rencana besar yang sudah dipikirkan...

Xiaolei baru saja membeli sebuah Honor Hunter V700.

Bukan karena rencana besar yang sudah dipikirkan matang–melainkan karena beberapa waktu lalu Huawei menggelar sebuah peluncuran produk yang kembali memicu rasa penasaran saya terhadap lini laptop dalam ekosistem Huawei. Dari situlah perjalanan ini dimulai.

Honor Hunter pertama kali dirilis pada 16 September 2020 sebagai laptop gaming kelas performa tinggi. Dua bulan kemudian, pada November tahun yang sama, Honor resmi berpisah dari Huawei. Karena itu, Honor Hunter V700 sering dianggap sebagai “karya terakhir” laptop gaming dalam ekosistem Huawei—sebuah penutup era yang sangat ikonik.

Saat berselancar di platform barang bekas yang sering saya gunakan, Xiaolei hanya perlu menggulir sebentar sebelum menemukan sebuah listing yang harganya terlihat tidak masuk akal. Sebuah Honor Hunter V700 dengan kondisi yang diklaim masih baik, memakai prosesor i5, kartu grafis 1660Ti, RAM 16GB, dan SSD 512GB—semua itu hanya dihargai 1.350 yuan.

Padahal ketika debut pada tahun 2020, harga resminya dimulai dari 7.499 yuan.

Melihat sebuah produk premium yang dulu begitu mahal kini turun hingga kurang dari 20% harga awalnya, sebagai penggemar gadget yang suka mencoba hal-hal baru, bagaimana saya bisa menahan diri? Rasa penasaran langsung menang.

Saya tak banyak berpikir. Tombol “beli sekarang” langsung saya tekan.

Namun ketika kurir SF Express tiba dengan kotak besar di tangan, barulah kesadaran mulai muncul. Euforia sedikit mereda, dan muncul pertanyaan paling mendasar: apa sebenarnya yang bisa didapat dari laptop gaming berusia empat tahun dengan harga seribuan yuan?

Dari situlah pengalaman spontan ini bermula.

Laptop Gaming Huawei?

Mendengar istilah itu, banyak orang mungkin langsung curiga: ini pasti produk abal-abal yang menempel nama besar Huawei.

Maklum, citra laptop Huawei identik dengan desain tipis ringan untuk kalangan profesional, bukan mesin gaming dengan lampu RGB dan performa buas. Bahkan ketika Huawei merilis MateBook GT tahun lalu, performanya tetap mengandalkan GPU eksternal agar benar-benar maksimal—sesuatu yang tidak sesuai dengan definisi laptop gaming sejati.

Namun Honor Hunter V700 berbeda. Ia lahir sebelum Honor berpisah dari Huawei, menjadikannya satu-satunya laptop gaming sejati dalam ekosistem Huawei—dirancang dengan prioritas utama pada performa dan sistem pendinginan. Ini adalah perangkat pertama dari ekosistem Huawei–Honor yang berani menantang produsen laptop gaming tradisional.

Dan bagi Honor sendiri, perangkat ini bukan sekadar laptop gaming.

Dari tampilan luar, Honor Hunter V700 memang tidak menyerupai laptop gaming pada umumnya. Bagian A menggunakan bahan metal bertekstur matte, hanya dihiasi logo yang dapat menyala. Desainnya rapi, tegas, dan minimalis—lebih mirip laptop bisnis yang dibuat lebih tebal dibanding perangkat gaming yang agresif.

Membuka bagian B, kita disambut layar 16.1 inci 1080p dengan refresh rate 144Hz dan cakupan warna 100% sRGB. Warna memang sedikit lebih hangat dan terdapat reduksi kecerahan di tepi layar, namun secara keseluruhan kualitasnya tetap memuaskan.

Keyboard-nya juga solid. Dengan lampu latar empat zona, numpad lengkap, dan travel key 1.8mm, sensasi mengetiknya terasa mantap dan responsif.

Namun daya tarik utamanya saat dirilis dulu adalah ketebalannya. Dengan tubuh setebal 19,9mm, laptop ini termasuk sangat tipis untuk kategori gaming pada tahun 2020. Charger 200W bawaannya pun dibuat ringkas—jauh lebih bersahabat dibanding “batako” yang biasa menyertai laptop gaming lain.

Material metal memberikan kesan premium sekaligus rigiditas yang lebih kuat dibanding banyak laptop plastik di kelas harga serupa saat ini. Namun meski tipis, perangkat ini tidak ringan. Dengan bobot 2.45kg, membawanya setiap hari jelas menguji tenaga.

Salah satu fitur desain yang paling menarik adalah sistem pendingin “Lift-Up Wind Valley”. Saat layar dibuka, bagian bawah laptop terangkat secara otomatis, menciptakan celah 8.5mm sebagai ruang masuk udara. Kipas kemudian menyedot udara dingin dari bawah dan bagian atas keyboard, lalu membuang panas melalui empat ventilasi di sisi bodi.

Saat itu, hanya ROG IceBlade 4 yang dibanderol lebih dari 20 ribu yuan yang menggunakan mekanisme serupa.

Sebagian orang mungkin khawatir panas akan kembali tersedot masuk karena posisi ventilasi yang berdekatan. Namun pengujian nyata membuktikan sebaliknya. Bahkan dalam mode ekstrem, setelah stress test 20 menit, suhu keyboard hanya sekitar 42.4°C dan area panas sepenuhnya menghindari sisi kiri yang biasa dipakai untuk bermain.

CPU bertahan di kisaran 83°C dengan kecepatan stabil 2.7GHz, sementara GPU berada di 68°C.

Sayangnya, ada satu kekurangan besar: suara kipas sangat keras. Pengukuran menunjukkan 63 dB—lebih bising sekitar 10 dB dibanding laptop gaming biasa. Headset sangat direkomendasikan.

Untuk port, Honor tidak pelit. USB 3.2 Gen1, USB-C dengan DP 1.2, HDMI 2.0, RJ45, hingga audio jack semuanya tersedia. Hanya satu yang kurang: tidak ada dukungan PD charging.

Unit yang saya beli adalah varian paling dasar: Intel i5-10300H, GTX 1660Ti, RAM 16GB DDR4, dan SSD 512GB PCIe 3.0. Di masanya, kombinasi ini cukup kompetitif.

Dalam benchmark Cinebench R23, i5-10300H mencetak 4609 (multi-core) dan 1150 (single-core), sedikit tertinggal dari i5-1135G7.

Sebaliknya, GTX 1660Ti tampil mengesankan. Performa setara RTX 2060 non-ray tracing, dan dalam banyak skenario lebih unggul dari RTX 3050/3050Ti modern, terutama berkat VRAM 6GB.

Dalam pengujian game nyata, hasilnya menggembirakan.
League of Legends dan CS2 berjalan stabil 144 FPS pada pengaturan tinggi.

Black Myth: Wukong mencapai sekitar 64 FPS pada 1080p high dengan FSR 3.0. Ada sedikit efek ghosting, namun gameplay tetap nyaman.

Cyberpunk 2077—yang terkenal berat—mencapai hampir 86 FPS pada mode high (FSR 2.1), jarang turun di bawah 72 FPS.

Forza Horizon 5 dapat mendekati 90 FPS di pengaturan high.

Dengan 6GB VRAM, laptop ini bahkan mampu menjalankan model AI lokal kecil. koboldcpp + Qwen-4B menghasilkan respons dalam 15–20 detik per percakapan pendek. Z-image juga berjalan, meski butuh 5–10 menit untuk menghasilkan gambar 1K.

Pada beberapa tugas AI lokal, performanya bahkan dapat menyaingi laptop Huawei terbaru.

Di tahun 2025, dengan harga komponen penyimpanan yang naik, laptop gaming baru dengan spesifikasi layak kini banyak yang berada di kisaran 6.000–7.000 yuan. Bagi pelajar atau pembeli dengan anggaran terbatas, pasar laptop bekas menjadi pilihan yang sangat masuk akal.

Jadi, masih layakkah Honor Hunter V700 dibeli?

Secara objektif, untuk harga sekitar seribuan yuan, kekuatannya sangat nyata. Build quality metal, performa 1660Ti yang masih relevan, dan layar berkualitas tinggi—semua ini sulit ditemukan pada laptop baru dengan harga yang sama. Kemampuannya menjalankan game AAA secara lancar dengan biaya sangat rendah adalah nilai terbesar yang ditawarkan.

Namun kekurangannya juga jelas. Prosesor i5 quad-core cukup kewalahan dalam multitasking, dan batch awal model ini terkenal dengan masalah “layar hitam karena overheat”, yang harus dipastikan telah diperbaiki sebelum membeli.

Kesimpulannya sederhana:

Bagi pengguna yang paham hardware dan siap sedikit melakukan perbaikan, Hunter V700 adalah laptop dengan value luar biasa.
Namun untuk pengguna awam, sangat penting memastikan kondisi unit sebelum membeli.

Melihat ke belakang, Honor Hunter V700 terasa seperti langkah berani Huawei dalam memasuki pasar laptop performa tinggi. Meski lini ini tidak berlanjut di Huawei, kehadiran MagicBook Pro 16 2025 HUNTER Edition dari Honor memberi harapan bahwa warisan ini mungkin belum benar-benar berakhir.

Dan siapa tahu—di masa depan, ketika teknologi chip dalam negeri semakin matang, mungkin saja kita akan melihat Huawei kembali mencoba menembus dunia laptop gaming ekstrem.

接著讀