2026年9月10日

Aktor Boleh Bawa Naskah di Lokasi Syuting? Penulis *Journey to Mountains and Seas* Dapat Pujian Tinggi dari Media Resmi, Setiap Kalimatnya Mengena

Sejak penayangan perdananya, Journey to Mountains and Seas gencar dipromosikan sebagai “drama wuxia ...

Sejak penayangan perdananya, Journey to Mountains and Seas gencar dipromosikan sebagai “drama wuxia terbesar tahun ini” dengan klaim produksi kelas S dan tim kreatif papan atas. Namun, hanya dalam lima hari, reputasinya langsung anjlok dihantam gelombang kritik. Drama yang awalnya digadang-gadang sebagai hit besar ini justru berbalik menjadi bahan ejekan di seluruh internet. Penonton yang penuh harapan kini hanya merasa kecewa, menyebut jalan cerita bertele-tele, efek visual murahan, dan akting yang kaku. Media sosial pun dipenuhi komentar sinis, dan meskipun serial ini menduduki posisi trending, kolom komentar sudah penuh dengan keluhan. Hampir semua aspek, mulai dari kostum, tata artistik, hingga akting para pemain, menjadi sasaran kritik. Bahkan ketika Cheng Yi ikut serta dalam siaran langsung, komentar pedas tetap membanjiri layar. Banyak warganet bahkan bercanda bahwa mereka menonton bukan untuk cerita, melainkan untuk “kompilasi adegan gagal,” karena sejak episode pertama sudah muncul detail yang konyol dan mengganggu, membuat orang bertanya-tanya apakah ini benar-benar standar drama Tiongkok tahun 2025.

Adegan laga yang seharusnya menjadi jiwa wuxia justru menuai sorotan paling tajam. Pertarungan terasa kaku dan dipaksakan, lebih bergantung pada potongan editing daripada koreografi yang hidup. Duel pedang dan adegan kejar-kejaran tampak statis, sementara aksi dengan bantuan kabel terlihat ringan dan tidak meyakinkan. Efek visual yang dimaksudkan untuk memukau malah tampak murahan dan menggelikan, semakin merusak imersi penonton. Kesalahan transisi, proporsi karakter yang janggal, dan pengolahan sudut pandang yang buruk hanya menambah kekecewaan.

Sebagai pemeran utama, Cheng Yi diharapkan mampu menghadirkan karisma kuat, namun penampilannya justru terlihat lemah. Di usia 35 tahun, gerakannya kaku, dialognya tidak jelas, dan emosinya tidak meyakinkan. Adegan yang menuntut energi intens lebih banyak mengandalkan ekspresi berlebihan dan editing ketimbang kekuatan akting. Dalam adegan gantung dengan kawat, ekspresi wajahnya gagal menyampaikan rasa sakit yang seharusnya muncul, malah membuat penonton merasa terganggu. Kostum dan tata rias pun bukannya menambah nilai, justru memperburuk suasana. Warna mencolok dan tata rias berlebihan terasa tidak selaras dengan estetika klasik wuxia, sehingga semakin membuat penonton kehilangan rasa keterhubungan dengan cerita.

Yang memperkeruh keadaan adalah sikap tim kreatif menghadapi kritik. Cheng Yi berusaha membela diri dengan alasan bahwa tokoh utamanya “bicara tidak jelas karena takut terbongkar identitas,” sebuah jawaban yang dianggap defensif dan tidak tulus. Sang penulis naskah pun berkilah dengan menyebut tantangan produksi dan kondisi syuting yang sulit, alasan yang dinilai tidak sebanding dengan hasil akhir yang jauh dari klaim “produksi besar dan mahal.” Lebih parah lagi, beredar laporan bahwa beberapa aktor terlihat membawa naskah saat syuting, yang semakin memperkuat anggapan kurangnya profesionalisme tim produksi.

Ketika penonton mendambakan pengalaman wuxia yang imersif dan berkualitas, mereka justru disuguhkan karya yang ceroboh. Media resmi pun akhirnya turun tangan, menyoroti eksekusi yang buruk, akting lemah, dan alasan dangkal dari tim kreatif. Kritik ini menegaskan adanya masalah yang lebih dalam: kurangnya rasa hormat terhadap seni bercerita dan sikap industri yang terkesan puas diri. Media resmi juga menekankan bahwa fenomena aktor membaca naskah di lokasi syuting bukan sekadar masalah akting, melainkan bukti adanya kelemahan sistemik dalam persiapan dan manajemen produksi, yang pada akhirnya merusak kualitas karya sekaligus mengikis kepercayaan publik terhadap drama lokal.

Kegagalan Journey to Mountains and Seas bukan sekadar jatuhnya satu judul drama, melainkan peringatan keras bagi industri. Penonton bukan sedang mencari-cari kesalahan; tuntutan mereka akan kualitas adalah bentuk nyata dari keinginan menikmati kisah yang kuat dan otentik. Reaksi keras ini menunjukkan bahaya ketika hype lebih diutamakan daripada ketulusan berkarya, dan bagaimana kepercayaan publik bisa hilang seketika ketika kritik hanya dijawab dengan alasan, bukan perbaikan.

Akhirnya, tumbangnya drama ini menegaskan satu kebenaran abadi: keberhasilan film dan televisi tidak ditentukan oleh gencarnya promosi, melainkan oleh ketulusan dan kualitas pada setiap detailnya. Penonton bersedia mendukung karya yang berani dan penuh imajinasi, tetapi mereka tidak akan mentoleransi hasil yang asal-asalan. Bagi para kreator, pesannya jelas—hormati karya, hormati penonton, dan hanya dengan begitu sebuah cerita bisa benar-benar mendapatkan tempat di hati publik.

接著讀