2026年9月10日

Mengejar Kejayaan Lewat Duka: Ratu Pejuang Inggris, Meg Jones

-

Di Piala Dunia kali ini, Meg Jones tampil luar biasa. Kecepatannya, kekuatannya, kerja keras tanpa henti, serta instingnya yang selalu hadir di momen penting menjadikannya salah satu pemain paling bersinar. Namun, perjalanan menuju puncak itu jauh dari mudah—dibentuk oleh keteguhan, pengorbanan, dan duka mendalam.

Saat awal pandemi Covid, Jones bukan sedang menggebrak lapangan, melainkan mengenakan rompi hi-vis sebagai salah satu kurir tercepat Amazon.

“Aku benar-benar hebat, super cepat. Mereka bahkan ingin membuat film dokumenter tentangku,” ujarnya sambil tertawa dalam podcast Barely Rugby. “Tapi soal ke toilet? Lupakan saja. Masuk jam 5 pagi, pulang jam 4 sore, tanpa sempat pipis.”

Ironisnya, kala itu di usia 23 tahun, Jones sudah tampil di final Piala Dunia 2017 dan pernah ikut skuad Olimpiade Rio. Namun, saat kontrak Sevens dibekukan, ia sempat mengira karier ragbinya tamat.

“Aku pikir aku akan jadi kurir Amazon seumur hidup,” akunya. Untungnya, dunia ragbi Inggris tidak sampai kehilangan talenta emasnya.

Bakat Besar dengan Rencana Jelas

Jones lahir di Cardiff, pertama kali mengenal ragbi lewat ayahnya, Simon, saat usia enam tahun. Pada usia 11, ia sudah mengangkat trofi di Principality Stadium. Bermain untuk tim putri Cardiff Blues U15, kualitasnya mencolok meski bermain di kelompok usia lebih tinggi.

“Kemampuan passing-nya hanya bisa disaingi oleh tendangannya,” tulis sebuah laporan kala itu.

Legenda Inggris, Danielle Waterman, masih mengingat jelas: “Dia pakai scrum cap warna pink dan mengendalikan permainan. Salah satu pemain U18 paling berbakat yang pernah saya lihat.”

Meski darah dan budaya Welsh kental—ayah Welsh, bahasa Welsh fasih—Jones telah merancang jalannya ke Inggris. Hartpury College. Loughborough University. Lalu tim nasional Inggris. Pada usia 18, ia sudah debut menghadapi Selandia Baru.

Gemerlap yang Dibalut Duka

Namun, di balik pencapaian itu, hidupnya penuh ujian. Ibunya, Paula, seorang perawat senior, lama berjuang melawan kecanduan alkohol. Ayahnya, Simon, didiagnosis kanker paru-paru stadium lanjut dan meninggal pada Agustus 2024, hanya tujuh bulan setelah divonis.

Kehilangan itu membuat Paula semakin terpuruk. Saat itu, Jones masih dalam pemulihan cedera pergelangan kaki parah, ia pun merawat ibunya sendiri—memberi makan, memandikan, dan terus memberi harapan. Beberapa waktu sempat membaik, tapi setelah Jones kembali ke Leicester, Paula kambuh. Sebotol amaretto yang luput ditemukan menjadi pemicunya. Pada Desember, Paula berpulang.

Dalam empat bulan, Jones kehilangan kedua orang tuanya.

“Kesedihan itu tidak pernah benar-benar selesai,” katanya pada Maret. “Kadang aku masih merasa mereka ada di tribun penonton. Atau seolah-olah aku bisa pulang beberapa minggu lagi untuk menemui mereka. Tapi begitu masuk lapangan, itu jadi tempat aman bagiku.”

Dari Duka Jadi Kekuatan

Kini, Jones tak hanya tampil luar biasa di lapangan, tapi juga menjadi patron The Living Room, lembaga amal di Wales yang mendukung para pejuang kecanduan.

“Tahun ini adalah ragbi terbaikku,” ujarnya pada The Guardian. “Karena tidak ada yang lebih menyakitkan daripada kehilangan ayahku—sahabat terbaikku, pilar keluarga kami. Tidak ada yang bisa menghancurkanku lebih dari itu.”

Perspektif itu telah mendorong penampilannya ke level baru. Pekan ini, ia menangis bahagia saat dipeluk rekan setim setelah namanya diumumkan sebagai nominasi Pemain Terbaik Dunia.

Apapun hasil pertandingan Sabtu nanti, air mata pasti akan kembali menetes. Namun dibanding jurang duka yang telah ia hadapi, itu hanyalah tetesan kecil. Bagi ratu pejuang Inggris ini, ragbi bukan sekadar karier—melainkan tempat sucinya untuk terus mengejar kejayaan lewat duka.

接著讀