2026年9月10日

Strategi Negosiasi Trump dengan Tiongkok: Antara Kekacauan Taktis dan Impian Perjanjian Besar

Beberapa jam setelah tim negosiator perdagangan Presiden Donald Trump menaiki pesawat menuju pertemuan ekonomi terpenting di dunia, Trump sendiri membuat kejutan lewat media sosial—sebuah manuver yang disengaja.

Trump mengisyaratkan bahwa tarif impor terhadap Tiongkok bisa diturunkan dari 145% menjadi 80%. Meski terkesan seperti "negosiasi dengan dirinya sendiri", kenyataannya, ide ini sudah lama dibahas secara internal oleh tim ekonominya menjelang pembicaraan dengan Tiongkok di Jenewa, Swiss.

Namun, bagi pejabat Tiongkok, ini adalah kejutan besar.

Trump juga berpura-pura memberi keputusan akhir kepada Menteri Keuangan Scott Bessent, untuk meningkatkan status diplomatiknya di mata Tiongkok. Tetapi faktanya, semua pihak tahu bahwa keputusan akhir tetap ada di tangan Trump dan Presiden Xi Jinping.


🧭 Fokus: Redakan Ketegangan dan Dapatkan Hasil Realistis

Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer dan Bessent mendarat di Jenewa untuk pertemuan dua hari dengan delegasi Tiongkok. Targetnya bukan kesepakatan besar, tetapi langkah awal menuju de-eskalasi.

Strategi AS terhadap Tiongkok berbeda dengan negosiasi dagang lain yang sedang berlangsung, misalnya dengan Jepang dan Korea Selatan. Tujuan utama kali ini adalah:

  1. Mengurangi ketegangan secara bertahap;
  2. Meminta Tiongkok bertindak terhadap prioritas AS seperti fentanyl dan pelaksanaan ulang "Kesepakatan Tahap Satu" (2020);
  3. Membangun dasar menuju hubungan ekonomi yang lebih dalam.

⚠️ Ketidakpastian Masih Tinggi

Trump tetap menjadi "kartu liar". Ia bisa berubah arah kapan saja.

Namun, pertemuan kali ini memberi sinyal positif:

  • Kedua negara umumkan jadwal hampir bersamaan;
  • Kedua pihak kirim delegasi tingkat tinggi;
  • Masing-masing mempertahankan posisi tegas di depan publik, tetapi membuka ruang fleksibilitas di belakang layar.

Pihak Tiongkok dipimpin oleh He Lifeng, penasihat ekonomi utama Xi, serta kepala keamanan Wang Xiaohong. Greer menyebut, “Mereka mengirim orang-orang serius untuk bicara soal isu nyata.”


🧨 Retaknya Hubungan, Tapi Ada Peluang Perbaikan

Serangan balasan Tiongkok tak mengejutkan Washington, namun memperparah keretakan yang mengganggu ekonomi global.

AS meyakini ekonomi Tiongkok tidak akan sanggup menahan perang dagang jangka panjang, dan data ekonomi terbaru memperkuat anggapan bahwa sistem ekonomi Tiongkok rentan dan terguncang akibat "semi-embargo" dagang dari AS.

Sinyal pembukaan negosiasi dari pejabat keamanan Xi soal fentanyl menjadi pemicu penting bagi pembicaraan ini.


🏆 “White Whale” Trump: Kesepakatan Ekonomi Raksasa

Seorang mantan penasihat Gedung Putih mengatakan:

“Kesepakatan besar dengan Tiongkok adalah ‘ikan paus putih’ bagi Trump, seperti obsesinya terhadap Hadiah Nobel Perdamaian.”

Meski kebijakan keras terhadap Tiongkok tetap berlaku, Trump terbukti bersedia melunak demi peluang sejarah.


📊 Analisis:

  1. Diplomasi ala Trump: strategi tidak linier, tetapi sering disengaja untuk mengejutkan lawan.
  2. Tujuan tahap awal realistis: meredakan ketegangan dan memulai kembali dialog ekonomi.
  3. Risiko tetap besar: baik dari sisi internal maupun jika Trump berubah haluan secara tiba-tiba.

接著讀