2026年9月10日

Cegah ancaman deepfake AI, Taylor Swift ajukan pendaftaran merek dagang untuk suara dan citranya

Di tengah ledakan konten kecerdasan buatan (AI), Taylor Swift mengajukan permohonan kepada United St...

Di tengah ledakan konten kecerdasan buatan (AI), Taylor Swift mengajukan permohonan kepada United States Patent and Trademark Office untuk mendaftarkan suaranya sebagai merek dagang, sebagai langkah memperkuat perlindungan hukum atas identitasnya. Ia menyerahkan dua rekaman audio yang diawali dengan “Hai, ini Taylor,” serta menyebut album The Life of a Showgirl yang dirilis awal Oktober tahun lalu. Selain itu, ia juga mengajukan foto penampilan panggung ikoniknya—bodysuit berkilau dengan gitar merah muda.

Suara dan citranya kini kerap muncul dalam konten deepfake AI, termasuk iklan palsu, dukungan politik fiktif, hingga materi eksplisit. Pengacara merek dagang Josh Gerben menyatakan bahwa langkah ini bertujuan menutup celah hukum yang ada: AI mampu meniru suara tanpa menyalin rekaman asli, sehingga perlindungan hak cipta menjadi terbatas, sementara merek dagang dapat memberikan perlindungan tambahan.

Sebelumnya, Matthew McConaughey juga mengajukan langkah serupa ke USPTO dengan menyertakan rekaman audio dan video untuk mencegah penggunaan suaranya oleh AI tanpa izin. Ia menegaskan pentingnya batasan jelas terkait kepemilikan dan lisensi di era AI.

Meski beberapa negara bagian di AS telah mengesahkan undang-undang terkait deepfake, kebanyakan masih berfokus pada penyalahgunaan yang bersifat jahat atau komersial. Salah satu yang menonjol adalah Ensuring Likeness Voice and Image Security Act (ELVIS Act) tahun 2024. Di ranah hukum, kasus terkenal melibatkan Scarlett Johansson yang pada 2023 menggugat aplikasi AI karena diduga menggunakan kemiripan dirinya tanpa izin untuk iklan.

接著讀