2026年9月10日

Tak Ada Toleransi Lagi? Alonso Dikabarkan Kehilangan Kendali Ruang Ganti Real Madrid, Kekalahan dari Man City Bisa Berujung Pemecatan

Setelah Real Madrid takluk 0–2 dari Celta, gelombang besar pemberitaan muncul di media Spanyol. Bany...

Setelah Real Madrid takluk 0–2 dari Celta, gelombang besar pemberitaan muncul di media Spanyol. Banyak laporan menyebutkan bahwa Xabi Alonso kini telah sepenuhnya kehilangan kendali atas ruang ganti Los Blancos. Bahkan sebelum kekalahan ini, sejumlah pemain sebenarnya sudah mulai jenuh dengan gaya kepelatihan sebelumnya yang dinilai terlalu longgar, sehingga batas kewenangan di dalam tim menjadi kabur. Kondisi tersebut berdampak langsung pada performa tim yang kerap tampil tidak stabil.

Melihat situasi tersebut, manajemen Bernabéu kemudian memberi kesempatan besar kepada Xabi Alonso. Ia dipercaya dengan wewenang penuh untuk membawa arah baru bagi klub, layaknya transformasi yang berhasil dilakukan Mikel Arteta bersama Arsenal. Sejak resmi menangani Real Madrid, Alonso langsung menetapkan aturan tegas, terutama dalam urusan pemilihan pemain dan perubahan taktik. Kekuasaan besar inilah yang membuatnya berani mencadangkan beberapa pemain inti yang tidak sejalan dengannya, meski hal itu memicu ketidakpuasan di internal tim.

Namun dalam praktiknya, hasil yang diharapkan belum juga tercapai. Dari sisi stabilitas, performa Real Madrid di bawah Alonso dinilai tidak jauh berbeda dibanding era sebelumnya. Setelah lebih dari sepuluh pertandingan berlalu, peningkatan signifikan belum terlihat. Awal musim yang menjanjikan perlahan memudar seiring kelelahan yang mulai menimpa para pemain. Ketidakpuasan terhadap keputusan pergantian pemain dan penempatan posisi semakin sering terdengar, sementara masalah demi masalah terus bermunculan.

Kondisi kian memburuk setelah kekalahan di laga El Clásico serta rapuhnya lini pertahanan di ajang Liga Champions. Retakan hubungan di dalam tim semakin melebar. Sejumlah pemain inti dikabarkan telah menunjukkan ketidakpuasan terhadap Alonso, hingga akhirnya manajemen terpaksa turun tangan untuk meredam konflik. Rodrygo, Valverde, hingga “Si Beruang Kecil” disebut-sebut pernah menyuarakan keluhan mereka terhadap sang pelatih.

Dari sisi taktik, filosofi Alonso yang mengedepankan pertahanan total dan menuntut para bintang ikut aktif membantu bertahan juga semakin sulit diterapkan. Ia menegaskan bahwa tidak ada satu pun pemain yang dijamin posisi inti—semua harus berjuang demi lambang di dada. Namun para pemain bintang memiliki pandangan berbeda. Mereka merasa nilai pasar dan kualitas yang dimiliki sepenuhnya pantas untuk panggung Bernabéu, sehingga ingin bermain dengan lebih bebas dan nyaman tanpa terlalu banyak batasan taktik. Perbedaan prinsip inilah yang semakin memperlebar jarak antara pelatih dan pemain.

Kini, Xabi Alonso berada dalam tekanan yang sangat besar. Laga melawan Manchester City dipandang sebagai pertandingan penentuan masa depannya di Real Madrid. Jika gagal mengatasi pasukan Pep Guardiola, status Alonso sebagai pelatih Los Blancos diyakini akan kembali dipertanyakan, dan peluangnya untuk bertahan bisa saja berakhir lebih cepat dari yang dibayangkan.

接著讀