2026年9月10日

Dua Kemenangan Beruntun dan Menumbangkan Juara Bertahan! Awal Musim Liaoning yang Mengguncang, Harapan dan Kekurangan Sama-Sama Terlihat

Setelah ditinggal pensiun Han Dejun, kepergian Zhang Zhenlin, serta absennya Zhao Jiwei karena ceder...

Setelah ditinggal pensiun Han Dejun, kepergian Zhang Zhenlin, serta absennya Zhao Jiwei karena cedera, Liaoning sempat diprediksi akan tersandung dalam fase transisi yang berat. Namun, mereka justru menjawab semua keraguan dengan start sempurna: dua laga, dua kemenangan. Di laga tandang, Liaoning menundukkan Tianjin 80–68, lalu kembali ke kandang dan secara meyakinkan menjungkirbalikkan juara bertahan Zhejiang 95–79. Ini bukan sekadar kemenangan, melainkan pernyataan tegas bahwa mereka tetap kompetitif.

Di bawah arahan pelatih Yang Ming, tim tradisional yang kini memasuki periode “rebuilding” ini menampilkan wajah baru. Ada progres yang jelas dan menggembirakan, tetapi pada saat yang sama, beberapa masalah juga terlihat dan perlu segera dibenahi.

Tanpa sejumlah pemain inti, para pemain muda Liaoning langsung mengambil alih sorotan—dan mereka membayar kepercayaan itu dengan performa kuat. Center berusia 23 tahun, Zhang Chenzhifeng, menjadi kejutan terbesar. Dalam dua pertandingan, ia mencatatkan nyaris double-double: 11 poin 9 rebound di laga pertama, lalu 10 poin 9 rebound di laga kedua. Ia tampil tegas saat melakukan roll setelah screen, penyelesaiannya rapi, dan sama sekali tidak gentar menghadapi pertahanan dalam Zhejiang. Tak heran jika banyak pihak mulai menyebut Liaoning “sudah punya penerus” untuk lini big man mereka.

Di posisi point guard, Wang Lanqin yang menggantikan Zhao Jiwei sebagai starter juga tampil cemerlang. Pada pertandingan kedua, ia memasukkan 5 tembakan tiga angka dan mencetak 19 poin. Bukan hanya berani memegang bola dan memulai serangan, ia juga menyumbang 2 steal di sisi pertahanan—menunjukkan mental bertanding yang matang untuk usianya. Keputusan Yang Ming untuk memberikan kepercayaan kepada pemain muda pun terasa tepat sasaran: musim ini sudah ada tiga pemain U23 yang mendapatkan menit rotasi stabil, kontras dengan musim lalu ketika rookie rata-rata hanya bermain 4,2 menit per laga.

Fondasi juara Liaoning paling jelas terlihat dari pertahanan mereka. Dalam dua pertandingan, mereka hanya kebobolan rata-rata 73,5 poin. Saat Tianjin mencoba mengejar, Liaoning mampu meredam lewat tekanan defensif yang membuat lawan sulit menemukan ritme. Melawan Zhejiang, mereka menjaga disiplin, menekan efektivitas tembakan lawan, dan membuat para pemain kunci lawan kesulitan mencetak poin dengan nyaman. Yang tak kalah penting, tim ini menunjukkan ketangguhan mental: di laga pembuka, mereka sempat diterpa gelombang 19–13 pada kuarter ketiga hingga selisih menipis menjadi 9 poin, tetapi tetap tenang dan mengunci kemenangan lewat tembakan-tembakan penting di momen krusial. Saat menghadapi Zhejiang, mereka menahan gempuran di kuarter kedua, lalu mengendalikan paruh kedua sambil terus memperlebar keunggulan—ciri khas tim besar saat berada di bawah tekanan.

Meski begitu, absennya Zhao Jiwei tetap menjadi ujian besar untuk organisasi permainan Liaoning. Wang Lanqin memang punya momen-momen gemilang, tetapi dalam laga dengan intensitas tinggi, ia masih terlihat belum sepenuhnya konsisten dalam pembagian tenaga—dan penurunan di paruh kedua masih muncul. Di pertandingan kedua, misalnya, ia gagal memasukkan tiga percobaan tembakan di kuarter empat, yang menunjukkan bagaimana faktor stamina bisa memengaruhi akurasi dan pengambilan keputusan.

Kontribusi pemain asing juga masih naik-turun. Wells sempat menunjukkan kilatan performa, namun stabilitasnya belum terjaga. Sementara itu, Morand masih terbatas di sisi ofensif; pada laga pertama ia hanya mencetak 4 poin, sehingga saat tim membutuhkan tambahan skor, ia belum selalu bisa menjadi sumber daya yang diandalkan. Selain itu, pemain baru Jiang Yuxing dan kembalinya Wu Changze juga belum sepenuhnya menyatu dengan sistem. Jiang hanya mencetak 7 poin di laga pembuka, sementara Wu bermain 11 menit di laga kedua tanpa poin—indikasi bahwa kualitas dan efektivitas unit rotasi masih perlu dipoles.

Satu pola yang paling menonjol adalah penurunan performa di kuarter ketiga. Dalam laga pembuka, Liaoning “terseret” oleh laju 19–13 dari Tianjin pada kuarter tiga. Di pertandingan kedua, jarak skor memang tidak sampai terkejar drastis, tetapi tempo serangan jelas melambat. Jika keunggulan babak pertama tidak cukup besar, situasinya bisa berubah menjadi jauh lebih rumit.

Fenomena “kuarter ketiga” ini pada dasarnya berkaitan dengan dua hal: distribusi stamina dan ketepatan eksekusi taktik saat momentum pertandingan berubah. Seiring musim berjalan dan jadwal makin padat, menjaga konsistensi selama empat kuarter penuh akan menjadi pekerjaan rumah utama Yang Ming.

Secara keseluruhan, start sempurna Liaoning bukan kebetulan. Ini mencerminkan pertahanan yang masih berkelas, mentalitas yang tangguh, serta gelombang pemain muda yang siap naik level. Namun, di balik euforia awal musim, struktur playmaking, kedalaman rotasi, konsistensi pemain asing, dan daya tahan permainan sepanjang laga tetap menjadi aspek yang harus terus diperbaiki.

接著讀