2026年9月10日

Gila! Dua Malam Beruntun, Tiga Pemain Timnas Nol Poin—Suporter Murka Pertanyakan Guo Shiqiang: Standar Seleksi Tim Nasional Ada di Mana?

Beijing, 28 Desember — Dalam dua hari pertandingan terakhir CBA, performa sejumlah pemain tim nasion...

Beijing, 28 Desember — Dalam dua hari pertandingan terakhir CBA, performa sejumlah pemain tim nasional mendadak jadi sorotan tajam. Penampilan mereka begitu melempem hingga membuat banyak suporter geleng-geleng kepala dan menyebutnya “tidak masuk akal”.

Zhang Zhenlin, yang musim ini pindah dari Liaoning ke Shanghai, sempat dipandang sebagai rekrutan besar. Ekspektasi pun tinggi: ia diharapkan tampil sepadan dengan status gaji puncaknya. Namun saat Shanghai menghadapi Sichuan—tim juru kunci klasemen—yang seharusnya menjadi laga untuk mengembalikan ritme, justru berubah menjadi momen memalukan: Zhang menutup pertandingan dengan 0 dari 5 tembakan dan tanpa satu poin pun.

Yang membuat situasinya makin canggung, Zhang bermain 25 menit—terbanyak kedua di tim—tetapi menjadi satu-satunya pemain dalam daftar 12 orang Shanghai yang angkanya “kosong” di kolom poin.

Ini juga bukan kejadian tunggal. Sepanjang musim ini, akurasi tembakannya merosot drastis: persentase field goal turun ke 38,2% dan akurasi tiga angka hanya 29,0%—keduanya menjadi rekor terendah sepanjang kariernya. Bahkan persentase lemparan bebasnya pun hanya sedikit lebih baik dibanding musim rookie.

Dalam laga melawan Sichuan, dari lima percobaan tembakan, empat di antaranya dilepas dari garis tiga angka. Hal itu membuat banyak suporter heran: “Lawan tim paling bawah saja tidak berani menyerang ke dalam dan menekan pertahanan?”

Sorotan berikutnya mengarah pada Gao Shiyan. Dalam pertandingan Shandong melawan Shenzhen, Shandong tertinggal tiga poin pada detik terakhir—artinya, tembakan tiga angka adalah satu-satunya cara realistis untuk menyamakan kedudukan. Namun pada inbound dari pinggir lapangan, Gao justru mengoper ke Zhang Xu yang melakukan cut ke dalam. Zhang Xu gagal memasukkan layup, dan Shandong langsung kalah.

Keputusan itu membuat komentator dan suporter terdiam. Bahkan jika layup itu masuk, nilainya hanya dua poin—tetap kalah. Setelah laga, Gao beralasan ia takut terkena pelanggaran lima detik. Namun publik tidak puas: “Lebih baik ambil risiko menembak tiga angka. Itu logika basket paling dasar.”

Kontroversi makin besar setelah laga tandang Shandong melawan Guangdong, ketika Gao kembali buntu: 0 dari 6 tembakan dan nol poin. Sebagai pemain yang kerap dianggap “andalan” Guo Shiqiang, penampilan seperti ini jelas memancing perbandingan—terutama dengan Xu Jie yang tidak terpilih timnas namun dinilai lebih meyakinkan di lapangan.

Sementara itu, dalam kekalahan Liaoning dari Beikong, guard timnas Wang Lanqin bermain 18 menit dengan catatan 0 poin, 3 assist, dan 3 turnover, plus/minus -4. Liaoning pun kalah tepat dengan selisih empat poin, membuat suporter berkelakar: “Kalau Yang Ming tidak memainkan Wang Lanqin, mungkin pertandingan bisa lanjut ke overtime.”

Rangkaian performa menurun dari tiga pemain timnas—bahkan “kompak” tanpa poin—kembali menyeret topik standar seleksi tim nasional ke pusat perdebatan. Sejumlah komentar menilai, jika pemilihan pemain tetap kaku dan mengabaikan performa aktual, kegagalan di panggung internasional bisa terulang.

Sebab pada akhirnya, jika di CBA saja kesulitan menembus pertahanan, bagaimana mungkin bisa bertahan menghadapi lawan-lawan terbaik Asia—apalagi level dunia?

Bagi Zhang Zhenlin, Gao Shiyan, dan Wang Lanqin, pesannya tegas: jika performa tidak segera stabil, pintu tim nasional bisa perlahan tertutup—dan posisi mereka di klub pun berpotensi semakin tidak aman.

接著讀