2026年9月10日

Lebih Untung dari Apple, Mampukah Insta360 Bertahan dari Gempuran DJI?

Pada 11 September, Insta360 secara terbuka menjawab dua kekhawatiran utama investor dalam paparan ki...

Pada 11 September, Insta360 secara terbuka menjawab dua kekhawatiran utama investor dalam paparan kinerja: proyeksi hasil di paruh kedua tahun ini serta ancaman kompetisi langsung dari DJI. Perusahaan mengakui tekanannya: “Dengan percepatan iterasi teknologi dan semakin sengitnya persaingan, kami secara proaktif meningkatkan investasi R&D, memperluas jangkauan pasar, memperkuat brand, serta menambah dukungan pada rantai pasok. Hal ini membuat biaya meningkat, sehingga dalam jangka pendek kinerja akan menghadapi tantangan.”

Pernyataan ini muncul setelah lebih dari sebulan pasar modal menunjukkan gejolak besar terhadap saham Insta360. Pada 14 Agustus, ketika merek drone panorama Antigravity mulai uji coba publik, antusiasme pasar melonjak, saham melesat hampir dua kali lipat hanya dalam 15 hari perdagangan, dan kapitalisasi sempat menembus 140 miliar RMB. Namun, laporan keuangan semester pertama yang dirilis pada akhir Agustus langsung menyiramkan air dingin ke euforia tersebut.

Data menunjukkan, pada paruh pertama 2024, Insta360 meraih pendapatan 36,7 miliar RMB, naik 51,2% year-on-year—tanda pertumbuhan yang luar biasa. Sayangnya, profitabilitas nyaris stagnan: laba bersih hanya 5,2 miliar RMB (naik tipis 0,25%), sementara laba bersih setelah penyesuaian hanya naik 0,06%. Kekhawatiran pasar pun meningkat, saham sempat jatuh lebih dari 8% pada 29 Agustus, dan sejak 3 September terus terkoreksi hingga total lebih dari 10%. Nilai pasar kini turun, meski masih bertahan di atas 120 miliar RMB.

Pertanyaan besar pun mencuat: apakah fundamental Insta360 benar-benar bisa menopang valuasi setinggi ini? Lebih krusial lagi, mampukah Insta360 bertahan dari gempuran DJI yang kini menantang di hampir semua lini produk—dari kamera panorama dengan Osmo360, drone panorama, hingga kamera mini berukuran jempol? Strategi “kepung dan sergap” ala DJI kian mengikis keunggulan first-mover Insta360.

Pertarungan di Benteng Utama: Menjaga Kamera Panorama

Sebagai pionir pasar kamera panorama, lini ini menyumbang 86% dari total pendapatan semester pertama 2024. Dengan margin kotor mencapai 51,22%, lebih tinggi dibanding Apple yang 46,82%, Insta360 bahkan bisa dibilang “lebih untung dari Apple.” Kesuksesan ini dibangun atas kombinasi inovasi teknologi (stabilisasi, AI image processing, ekosistem software), keunggulan rantai pasok domestik, serta kesalahan strategi kompetitor seperti GoPro.

Namun peta persaingan kini berubah drastis. Jika sebelumnya rival utama berasal dari luar negeri, kini lawan terkuat adalah DJI, sesama raksasa teknologi asal Tiongkok. Meskipun DJI kerap dikritik kurang inovatif dan hanya “mengekor,” strategi mereka terbukti ampuh: cepat meniru bentuk produk sukses, memanfaatkan rantai pasok, serta menekan harga agresif. Osmo 360 yang mirip dengan Insta360 X5 tetap ludes di pasaran berkat reputasi brand DJI. Bahkan saat Insta360 baru menguji drone panorama, DJI langsung merilis produk serupa hanya dua bulan kemudian.

Jika DJI melanjutkan strategi ini dengan perang harga atau siklus iterasi lebih cepat, margin industri akan tertekan, dan profit Insta360 berisiko terkikis tajam.

Inovasi Jadi Kunci, Tapi Biaya Membengkak

Insta360 menjadikan inovasi sebagai senjata utama. Belanja R&D semester pertama 2024 melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 560 juta RMB, menyerap hampir separuh laba. Produk baru seperti ONE X5, Ace Pro2, dan GO Ultra memperkuat portofolio, ditambah pengembangan kamera wearable ringan dan vlog cam portabel. Namun, lonjakan biaya R&D dan pemasaran menimbulkan dilema: pendapatan meningkat, tapi profit tidak bergerak.

Taruhan Besar: Drone Panorama sebagai Kurva Pertumbuhan Kedua

Lini baru yang dijagokan adalah drone panorama. Pasar drone global diperkirakan tumbuh dari 7,1 miliar USD pada 2023 menjadi 12,2 miliar USD pada 2030. Jika Insta360 mampu merebut 10% pangsa, tambahan pendapatan sekitar 5 miliar RMB bisa tercapai—setara dengan “menciptakan satu Insta360 baru.”

Namun jalan ini penuh risiko. Skalabilitas produksi belum teruji, dan DJI masih menguasai lebih dari 70% pasar. Dengan brand power, rantai pasok, dan ekosistem tertutup, DJI tetap menjadi tembok besar. Untuk Insta360, strategi ini berarti harus mengorbankan profit jangka pendek demi peluang pertumbuhan masa depan yang belum pasti.

Valuasi: Sudah Terlalu Tinggi?

Sejak IPO Juni lalu, saham Insta360 sudah naik hampir enam kali lipat. Per 11 September, kapitalisasi pasar mencapai 127 miliar RMB, dengan P/E lebih dari 120x—bandingkan dengan Xiaomi atau Anker yang hanya 28–36x. Bahkan dengan skenario optimistis (35% pangsa global kamera + sukses masuk pasar drone), valuasi wajar 2030 diperkirakan hanya 100–150 miliar RMB. Artinya, harga saat ini sudah “mencicil” pertumbuhan enam tahun ke depan.

Jika kinerja nyata gagal memenuhi ekspektasi, atau DJI semakin agresif, koreksi valuasi hampir tak terelakkan.

Kesimpulan

Insta360 kini berada di persimpangan penting. Dengan margin lebih tinggi daripada Apple dan reputasi sebagai inovator sejati, perusahaan punya fondasi kuat. Namun, menghadapi DJI—yang terkenal gesit, agresif, dan dominan—akan menjadi ujian sesungguhnya. Valuasi yang sudah terlalu tinggi menambah tekanan. Masa depan Insta360 bergantung pada satu hal: mampukah mereka mengubah strategi inovasi menjadi pertumbuhan yang berkelanjutan dan menguntungkan, sebelum DJI benar-benar merebut panggung?

接著讀