Atlet Esports Thailand Gantikan Sang Pacar, Skandal “Pemain Pengganti” di SEA Games Terungkap
Beberapa minggu setelah tim putri Thailand untuk Honor of Kings International mundur dari ajang SEA ...
Beberapa minggu setelah tim putri Thailand untuk Honor of Kings International mundur dari ajang SEA Games akibat skandal kecurangan, kebenaran di balik kasus ini akhirnya terungkap dengan lebih jelas.
Pada 15 Desember, di partai final bracket pemenang cabang Honor of Kings International pada SEA Games ke-33, Thailand harus mengakui keunggulan Vietnam dengan skor 0–3. Tak lama setelah pertandingan berakhir, Federasi Esports Thailand mengonfirmasi bahwa pemain dengan ID gim “Tokyogurl”, Warasin Narapat, didiskualifikasi karena melanggar aturan kompetisi.
Pihak resmi menyatakan Narapat melanggar “Esports Technical Manual”. Pedoman tersebut secara tegas melarang penggunaan perangkat lunak yang tidak diizinkan, modifikasi perangkat, maupun keterlibatan pihak ketiga dalam pertandingan. Penyelenggara SEA Games pun segera melakukan investigasi, dan Narapat dijatuhi sanksi paling berat dalam turnamen: diskualifikasi.
Situasi semakin memanas keesokan harinya. Pada 16 Desember di final bracket kalah, Thailand sebenarnya masih berada di posisi yang menjanjikan—bahkan sempat unggul 1–0 atas Laos dan tetap memiliki peluang besar untuk melaju ke laga perebutan emas. Namun, keputusan mengejutkan datang dari Federasi Esports Thailand: seluruh tim putri memilih mundur dari sisa pertandingan. Banyak penggemar yang terkejut sekaligus sedih, terutama karena tim tersebut sebelumnya telah berjuang keras dan mempersiapkan diri dengan serius.
Pada saat itu, Tokyogurl membantah melakukan pelanggaran apa pun. Ia mengklaim pertandingan dimainkan olehnya sendiri, serta menyebut sempat merasa tidak enak badan karena gugup di tengah laga hingga akhirnya dibawa ke rumah sakit.
Namun kemudian, muncul pengakuan yang mengubah arah cerita.
Seorang pemain esports Thailand bernama Cheerio (juga dikenal sebagai Kong, dan disebut sebagai pacar Tokyogurl) mengunggah pernyataan di TikTok, mengakui bahwa dialah yang bermain menggantikan sang pacar. Ia menyebut keputusan itu sebagai tindakan egois, menyatakan siap menanggung seluruh tanggung jawab, serta meminta maaf kepada para penggemar, pihak penyelenggara, dan terutama rekan satu tim yang kehilangan kesempatan bertanding akibat insiden tersebut.
“Saya ingin maju dan menjelaskan masalah yang terjadi selama SEA Games dan juga beberapa turnamen lainnya,” tulis Cheerio. Ia juga mengakui kecurigaan yang selama ini beredar—bahwa ada beberapa pertandingan yang melibatkan pihak ketiga sebagai pemain pengganti—memang benar terjadi. “Saya akui itu benar,” katanya.
Cheerio menjelaskan bahwa tekanan opini publik setelah kejadian membuatnya tidak tahu harus merespons seperti apa, sehingga ia memilih diam lebih dari dua minggu setelah pertandingan. “Saya tidak pernah menyangka semuanya akan sejauh ini dan mengecewakan begitu banyak orang,” ujarnya. Ia menegaskan akan menerima semua kritik dan konsekuensi tanpa mencari alasan.
Menurut laporan media regional Baomoi, sebelum insiden ini terjadi, Cheerio merupakan sosok yang cukup dihormati di komunitas esports Thailand. Karena itu, pengakuan tersebut dinilai menjadi pukulan telak yang merusak reputasinya—sebuah akhir yang disayangkan bagi figur yang sebelumnya dianggap kredibel.
Setelah itu, sanksi dijatuhkan dengan cepat dan tegas.
Penerbit Garena melarang Tokyogurl mengikuti seluruh kompetisi Honor of Kings International mulai 16 Desember 2025. Klubnya, TALON, juga langsung memutus kontrak. Sementara itu, penyelenggara ekosistem esports Honor of Kings International menjatuhkan hukuman larangan bertanding seumur hidup.
Rangkaian hukuman tersebut pun disebut-sebut sebagai salah satu penanganan skandal paling keras dalam sejarah esports Thailand.
Baru setelah Cheerio mengaku, Tokyogurl kemudian menyatakan menerima tanggung jawab. Keesokan paginya, ia mengunggah permintaan maaf singkat di Facebook, hanya dengan satu kalimat: “Maaf.” Permintaan maaf yang sangat ringkas ini memunculkan pertanyaan di kalangan publik: apakah itu cukup untuk meredakan kekecewaan pihak-pihak yang merasa dikhianati?
Di sisi lain, beredar laporan bahwa Santi Lothong, Ketua Federasi Esports Asia sekaligus tokoh penting di asosiasi esports Thailand, tengah menempuh langkah hukum terhadap keduanya dan berjanji akan mengusut kasus ini sampai tuntas.
Skandal ini kembali memantik diskusi besar soal integritas kompetisi esports—bukan hanya terkait beratnya hukuman, tetapi juga pencegahan dan pengawasan ke depan. Menurut kamu, apakah sanksinya sudah setimpal, atau justru perlu pengawasan yang lebih ketat lagi? Silakan bagikan pendapatmu di kolom komentar.
Nostalgia Mendadak: Windows 11 Tiba-Tiba Gunakan Suara Startup Vista — Microsoft Klarifikasi, Itu Bug Bukan Fitur
Percaya atau tidak, Windows 11 sekarang memainkan suara startup Windows Vista saat booting — dan ini langsung menjadi perbincangan hangat di komunitas teknologi. Dalam beberapa hari terakhir, pengguna program Windows Insider melaporkan bahwa setelah memperbarui ke versi Dev dan Beta terbaru, suara startup mereka berubah menjadi chime klasik Windows Vista tahun 2006, bukan suara khas Windows 11. Banyak yang mengira ini adalah “Easter egg” nostalgia dari Microsoft, namun ternyata... itu hanya bug.
Xiaomi HyperOS 3 Resmi Dirilis: Lebih Mulus, Lebih Pintar, Ekosistem Lebih Kuat
Pada 29 Agustus, Xiaomi secara resmi meluncurkan HyperOS 3 di acara produk terbarunya. Sistem baru i...
Menjelajahi Fenomena: Mantan Istri Tao Baibai Raih Pendapatan Fantastis dari Penjualan 5.000+ "Otak Einstein"
Sebuah skenario yang terkesan sangat fiktif justru menjadi kenyataan dan meledak di dunia maya. Luji...
Dua Tahun Setelah Booming “Kopi Desa”, Pemilik Gelombang Pertama Masih Sulit Meraih Laba
Pada tahun 2023, Bao Shifu memberanikan diri meninggalkan Beijing dan pindah ke sebuah halaman kecil...
Membongkar “Kotak Hitam” Audio Android: Mengapa Musik Lossless-mu Diam-diam Turun Kualitasnya
Membongkar “Kotak Hitam” Audio Android: Mengapa Musik Lossless-mu Diam-diam Turun Kualitasnya Media ...
Sebuah “Surat Pengaduan” Mengungkap Konflik Tersembunyi di Balik Kerja Sama Dua Raksasa Properti
Munculnya sebuah “surat pengaduan” tiba-tiba membuka celah keretakan dalam kerja sama dua raksasa pr...
Jendela Transfer Musim Dingin Liga Sepak Bola Wanita Eropa Mendekat, Gelombang Pemain Wanita Tiongkok Siap Berangkat
Seiring berakhirnya paruh pertama musim 2025/26 liga sepak bola wanita Eropa, perhatian penggemar ki...
Hardware Pertama OpenAI Terungkap: AI Headset Diperkirakan Tembus 40–50 Juta Unit Tahun Pertama
Pada 21 Januari, media Taiwan Economic Daily melaporkan bahwa perangkat hardware pertama OpenAI dipe...
Bucks Hancurkan Heat 128-117: Porter Catat 32+7+7 dalam Kemenangan Tim
Milwaukee Bucks mengalahkan Miami Heat 128-117 di laga NBA musim reguler, meski ta...
Karyawan OpenAI Dipecat karena Menggunakan Informasi Rahasia di Pasar Prediksi
Menurut Wired, OpenAI telah memberhentikan seorang karyawan karena pelanggaran di pasa...
Kejutan! Pelatih baru Chengdu Rongcheng masih menyimpan dua “senjata rahasia” yang belum dimainkan musim ini, berpeluang debut pada pekan keempat
Chengdu Rongcheng memulai musim Liga Super China dengan sangat baik, mencatat 2 kemenangan dan 1 has...
Film Animasi The Eight Immortals! Tembus Box Office RMB800 Juta di China, Jadi Kuda Hitam yang Memicu Demam Menonton
KUALA LUMPUR, 29 Juli – Film animasi China The Eight Immortals! sukses mencuri perhatian sejak tayan...