2026年9月10日

Lebih Maju dari Jet Tempur Generasi Keenam! “Rencana Nantianmen” Tiongkok Terungkap—Pakar: Bukan Soal Bisa atau Tidak, Melainkan Terobosan Mana yang Lebih Dulu Terwujud

Kuaitech melaporkan pada 11 Januari bahwa program CCTV 《礪劍》 (Lijian) baru-baru ini membeberkan secar...

Kuaitech melaporkan pada 11 Januari bahwa program CCTV 《礪劍》 (Lijian) baru-baru ini membeberkan secara lebih rinci “Rencana Nantianmen”—sebuah gagasan futuristis yang terus diperbarui dan perlahan bergerak mendekati realitas. Sejumlah pakar menilai, berbagai teknologi mutakhir yang terkandung di dalamnya bukan lagi soal “bisa atau tidak,” melainkan “kapan” akan terwujud.

Dalam pemaparannya, “Rencana Nantianmen” menghadirkan beberapa platform tempur dirgantara dalam bentuk konsep. Di antaranya adalah kapal induk ruang-angkasa kelas 100.000 ton “Luan Niao” yang dirancang untuk beroperasi bersama pesawat tempur ruang-angkasa nirawak “Xuan Nü”, kemudian pesawat tempur ruang-angkasa “Bai Di”, serta platform lepas landas dan mendarat vertikal (VTOL) serbaguna “Zi Huo.”

Menurut laporan, ketiga desain konsep ini menampilkan perbedaan yang sangat mencolok dibanding jet tempur modern yang sudah ada—mulai dari tata letak aerodinamika, konsep mesin pendorong, cara terbang, hingga rancangan persenjataan. Hasilnya adalah gambaran yang terasa sangat “sains-fiksi,” namun dibangun di atas kerangka ide dan teknologi yang sedang berkembang.

Salah satu yang paling menonjol adalah “Luan Niao”, sebuah konsep kapal induk ruang-angkasa kelas 100.000 ton. Platform ini disebut memiliki panjang 242 meter, rentang sayap 684 meter, dan bobot lepas landas maksimum 120.000 ton. Dalam skenario konsepnya, “Luan Niao” diklaim mampu membawa hingga 88 unit pesawat nirawak “Xuan Nü”, menjadikannya semacam “kapal induk” untuk operasi udara tingkat tinggi dan misi di wilayah dekat ruang angkasa.

Untuk “Xuan Nü”, konsepnya digambarkan sebagai pesawat nirawak penguasa udara. Desainnya sangat mencuri perhatian, dengan struktur berongga besar di kedua sisi badan pesawat yang disebut sebagai generator sirkulasi partikel, dipadukan dengan sayap menyapu ke depan—sebuah konfigurasi yang menonjolkan imajinasi tentang kelincahan ekstrem dan pendekatan propulsi futuristis. Pesawat ini juga disebut menggabungkan manuver tinggi, kemampuan siluman, serta kecerdasan/otomasi.

Sebagai pesawat tempur ruang-angkasa, “Xuan Nü” dalam konsepnya menggunakan perangkat pendorong berbasis medan gaya induktif. Artinya, ia dibayangkan tidak hanya mampu terbang di atmosfer, tetapi juga beroperasi di luar atmosfer. Untuk persenjataan, laporan menyebut opsi seperti meriam akselerasi partikel dan rudal hipersonik, selaras dengan gagasan tempur terintegrasi udara–ruang angkasa.

Berikutnya adalah “Bai Di”, konsep pesawat tempur ruang-angkasa yang sempat memancing perhatian besar saat model skala 1:1 ditampilkan di China Airshow 2024. Kini, “Bai Di” disebut mengalami peningkatan dan iterasi konsep dibanding generasi sebelumnya.

Perubahan yang paling disorot berada pada penyempurnaan bentuk aerodinamis, terutama di bagian sirip ekor vertikal. Pada konsep terdahulu, “Bai Di” menggunakan elemen sayap sapuan variabel. Sementara pada versi konsep terbaru, permukaan sirip ekornya tampil dengan profil aerodinamis yang cenderung menurun. Selain itu, rancangan ruang senjata internal juga diperbesar agar membawa muatan senjata lebih banyak, dan sistem avionik diklaim ikut ditingkatkan untuk lebih cocok menghadapi operasi di wilayah dekat ruang angkasa. Dalam kerangka “Rencana Nantianmen”, “Bai Di” digambarkan sebagai platform utama.

Secara visual, bentuk siluman ditambah susunan sayap variabel yang kompleks membuat “Bai Di” tampak seperti “Transformer” yang terbang. Konsep teknologinya mencakup siluman seluruh spektrum, peralihan bebas mode berawak dan nirawak, kemampuan komando untuk drone, hingga mesin adaptif. Platform ini juga digambarkan modular, sehingga dapat mengganti modul misi untuk beralih tugas dengan cepat. Struktur sayap variabelnya disebut mampu menyesuaikan tata letak aerodinamis secara real-time berdasarkan ketinggian, kecepatan, dan sikap terbang.

Selain itu, ada pula kemunculan terbaru platform VTOL serbaguna “Zi Huo”. Seluruh bodinya memancarkan kilau metalik ungu, yang ditafsirkan sebagai sentuhan estetika “romantis” khas budaya Tiongkok, merujuk pada ungkapan “zi qi dong lai” (aura ungu datang dari timur).

Dengan bodi tegas bersudut, desain yang sangat futuristis, konsep saluran/duct berbasis medan gaya, serta kompartemen tenaga yang dapat dimiringkan, “Zi Huo” disebut menargetkan kecepatan 700–800 km/jam. Platform ini juga digambarkan sanggup beradaptasi pada beragam kondisi, termasuk gravitasi rendah dan atmosfer tipis.

Dalam konsep operasionalnya, “Zi Huo” mengusung pendekatan gabungan berawak dan nirawak, mendukung penerbangan otonom maupun penerbangan formasi. Ia dibayangkan bisa menjalankan misi di area berbahaya—misalnya penyelamatan dan pengiriman logistik/material—yang menonjolkan fleksibilitas multi-peran.

Meski seluruh desain dalam “Rencana Nantianmen” masih berada di tahap konsep, laporan menekankan bahwa nilai utamanya terletak pada gagasan-gagasan kunci seperti struktur adaptif yang dapat “bertransformasi” dan integrasi udara–ruang angkasa. Ide-ide ini dinilai dapat memberikan arah penting bagi pengembangan teknologi penerbangan dan antariksa di masa depan.

Para ahli juga menegaskan bahwa “Rencana Nantianmen” merupakan gagasan inovasi yang sangat visioner. Di era ketika teknologi bergerak cepat, hambatan terbesar sering kali bukan teknologi itu sendiri, melainkan cara pandang dan keberanian berimajinasi.

Dalam pemaparannya, “Rencana Nantianmen” menggabungkan berbagai teknologi frontier yang terpisah—seperti penerbangan hipersonik, kombinasi daya dorong dua mode udara–ruang angkasa, siluman berbasis metamaterial, konfigurasi pesawat adaptif, kolaborasi swarm nirawak otonom, pengambilan keputusan efisien berbasis AI, senjata energi terarah, hingga operasi pulang-pergi udara–ruang angkasa—menjadi sebuah visi sistem yang diwujudkan melalui “wadah” pesawat tempur bergaya sains-fiksi.

Pada akhirnya, kumpulan teknologi ini bukan hanya mencerminkan harapan atas keunggulan udara–ruang angkasa di masa depan, tetapi juga menunjukkan arah terobosan yang terus dikejar demi memperkuat keamanan dirgantara. Karena itu, seperti yang disimpulkan para pakar, pertanyaannya bukan lagi apakah semua ini bisa terwujud—melainkan mana yang akan terwujud lebih dulu, dan kapan keseluruhannya akan menyusul.

【Akhir artikel】Jika ingin mengutip/menyalin, harap cantumkan sumber: Kuaitech. Editor: Chaohui.

接著讀

Indonesia Teken Kontrak $10 Miliar untuk 48 Jet Siluman KAAN dari Turki, J-10C Tiongkok Tersingkir

Pada 11 Juni di Pameran Pertahanan Internasional Jakarta, Indonesia secara resmi menandatangani perjanjian dengan Turki untuk membeli 48 jet tempur siluman generasi kelima KAAN. Kontrak senilai $10 miliar ini merupakan ekspor internasional pertama untuk KAAN dan menjadi kesepakatan pertahanan terbesar dalam sejarah Turki. Ini juga menandai tersingkirnya jet J-10C buatan Tiongkok dari pertimbangan.

455 天前