2026年9月12日

Aset Paling “Panas” di Dunia — Skala Cadangannya Sudah Melampaui Obligasi AS!

(New York, 15 Februari) Harga emas melonjak tajam, sementara bank sentral di berbagai negara juga te...

(New York, 15 Februari) Harga emas melonjak tajam, sementara bank sentral di berbagai negara juga terus memborong emas. Kondisi ini memunculkan penilaian bahwa emas mungkin sudah melampaui obligasi pemerintah AS (U.S. Treasuries) sebagai aset cadangan terbesar di dunia dari sisi nilai.

Media Korea Selatan Chosun melaporkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, ketika AS semakin memperketat sanksi keuangan terhadap negara seperti Rusia, China, dan Iran, banyak bank sentral mulai mengurangi porsi aset berdenominasi dolar dalam cadangan devisa mereka, lalu meningkatkan kepemilikan emas sebagai langkah diversifikasi risiko.

Data Departemen Keuangan AS menunjukkan bahwa pada tiga kuartal pertama tahun lalu, bank sentral global melakukan pembelian bersih U.S. Treasuries senilai sekitar US$629 miliar. Pada periode yang sama, nilai kepemilikan emas bank sentral naik sekitar US$684,7 miliar, lebih besar dibanding pertumbuhan kepemilikan Treasuries.

Data World Gold Council (WGC) yang dirilis bulan ini—sebagian besar hingga akhir November, dan beberapa negara hingga akhir Oktober—menunjukkan bahwa total cadangan emas resmi di luar AS telah melampaui 900 juta ons (sekitar 2.800 ton). Media China memperkirakan, dengan harga emas per 30 November, nilai cadangan tersebut sekitar US$3,82 triliun, mendekati kepemilikan U.S. Treasuries oleh pemerintah luar negeri sekitar US$3,88 triliun pada periode yang sama. Jika memakai harga akhir tahun, nilai cadangan emas resmi non-AS diperkirakan mencapai US$3,93 triliun, dan dinilai berpotensi melampaui kepemilikan Treasuries oleh pemerintah luar negeri untuk pertama kalinya sejak 1996.

Kepercayaan pada mata uang fiat melemah

Chief Macro Strategist NDR, Joe Kalish, mengatakan bahwa ketika kepercayaan global terhadap mata uang fiat menurun, daya tarik emas dan logam mulia lain meningkat. Ia menilai selisih antara emas dan Treasuries yang dulu terlihat jelas, kini semakin menyempit.

Laporan tersebut menambahkan bahwa kenaikan harga emas juga mencerminkan upaya negara-negara untuk mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan AS—antara lain karena pelemahan dolar serta kebutuhan untuk mengantisipasi risiko pembekuan aset atau sanksi. Disebutkan pula bahwa harga emas naik sekitar 66% sepanjang 2025 dan berlanjut menguat pada awal 2026, menegaskan kembali fungsi emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).

Mengutip profesor Campbell Harvey dari Duke University (Fuqua School of Business), Chosun menyatakan bank sentral besar mengurangi aset dolar karena khawatir dolar melemah dan memilih emas sebagai alternatif. Pembelian besar-besaran oleh bank sentral dinilai ikut mendorong harga emas dan meningkatkan nilai cadangan resmi.

Arah jangka panjang tetap beragam

Meski demikian, tren jangka panjang emas tetap dipengaruhi banyak faktor, seperti kebijakan moneter dan fiskal AS, kondisi suku bunga rendah dan inflasi tinggi, kinerja dolar, serta apakah bank sentral terus menambah emas. Prospek di Wall Street masih berbeda-beda: banyak institusi tetap optimistis (misalnya UBS yang menaikkan rekomendasi menjadi “overweight”), namun ada pula yang pesimistis seperti Capital Economics yang memperkirakan emas melemah pada 2026.

接著讀