2026年9月12日

Bukan cuma saham yang anjlok—pasar keuangan AS dihantam tiga tekanan sekaligus!

(New York, 21 Januari) Setelah Presiden AS Donald Trump mengancam sejumlah negara Eropa dengan tarif...

(New York, 21 Januari) Setelah Presiden AS Donald Trump mengancam sejumlah negara Eropa dengan tarif, serta ambisinya terkait pengambilalihan Greenland memicu konfrontasi yang kian serius, pasar AS pada Selasa (20 Januari) mengalami “tiga pukulan sekaligus” — saham, obligasi, dan dolar melemah bersamaan. Kondisi ini membuat transaksi “Sell America” di Wall Street kembali menguat.

Di tengah meningkatnya ketegangan, indeks S&P 500 anjlok 2,1% dan menghapus seluruh kenaikan sejak awal 2026. Indeks VIX, yang mengukur volatilitas tersirat pasar saham, melonjak ke level tertinggi sejak November tahun lalu. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor panjang naik tajam hingga menyentuh level tertinggi dalam empat bulan, seiring investor juga bereaksi terhadap kepanikan jual di obligasi Jepang serta kabar bahwa dana pensiun Denmark berencana mengurangi atau keluar dari kepemilikan US Treasury.

Di pasar valuta asing, dolar melemah terhadap sebagian besar mata uang utama. ICE U.S. Dollar Index tercatat turun hampir 100 poin dalam dua hari perdagangan pertama pekan ini.

Menurut sebuah pengukuran industri yang melacak rata-rata imbal hasil ETF utama berbasis saham AS, US Treasury, obligasi korporasi, dan Bitcoin, perdagangan Selasa menjadi hari terburuk bagi pasar AS sejak aksi jual yang dipicu tarif “Liberation Day” pada April tahun lalu.

Krishna Guha, Vice Chairman Evercore ISI sekaligus kepala strategi kebijakan global dan bank sentral, menilai ini adalah kemunculan kembali perilaku “Sell America” di tengah sentimen penghindaran risiko global. Investor global, katanya, berupaya mengurangi atau melakukan lindung nilai terhadap eksposur risiko di AS yang dinilai semakin bergejolak dan kurang dapat diprediksi—meski skala dan durasinya masih harus dipantau.

Dari sisi dinamika pasar, S&P 500 mencatat penurunan harian terbesar sejak Oktober. Saham berkapitalisasi kecil mengungguli indeks acuan untuk hari ke-12 berturut-turut, sementara sebuah indikator yang merepresentasikan kinerja raksasa teknologi turut merosot 3,1%.

Walau awal tahun ini pelaku pasar sempat menunjukkan daya tahan menghadapi sejumlah kejutan, lonjakan volatilitas belakangan mengindikasikan toleransi investor terhadap guncangan berulang mulai menurun. Victoria Greene, Chief Investment Officer G Squared Private Wealth, mengatakan “Tariff War 2.0” sedang memanas dan berpotensi memicu gejolak jangka pendek yang besar, sangat bergantung pada perkembangan beberapa minggu ke depan. Menurutnya, pasar belum masuk fase “panic selling” murni, tetapi sedang mengamati dengan ketat dan bersiap menghadapi volatilitas.

Michael O’Rourke, Chief Market Strategist JonesTrading, menilai reaksi pasar wajar mengingat ketidakpastian melonjak cepat. Ia menambahkan, jika tarif benar-benar diterapkan atau terjadi skenario aneksasi Greenland secara ilegal oleh AS, penurunan pasar saham bisa jauh lebih dalam.

Kyle Rodda, analis Capital.com di Melbourne, menyebut ada pandangan bahwa ini bisa menjadi momen “TACO” lagi—yakni ketika efek balik kebijakan muncul, Trump akan “mundur”. Namun ia menilai hal itu belum pasti, terutama jika Trump memang bersikukuh terhadap isu Greenland, sementara Eropa cenderung menolak keras segala bentuk tindakan yang dianggap menekan.

Menariknya, kejatuhan pasar terjadi ketika survei manajer investasi terbaru Bank of America menunjukkan optimisme terhadap saham berada di level tertinggi dalam hampir lima tahun, sementara langkah perlindungan terhadap koreksi turun ke level terendah sejak 2018. Kepala strategi Bank of America, Michael Hartnett, mengatakan kondisi “terlalu bullish” seperti ini bisa menjadi sinyal untuk meningkatkan lindung nilai risiko dan memperbesar porsi aset defensif.

接著讀