2026年9月12日

Baru Saja: Skema TikTok di AS Akhirnya Resmi — Zhang Yiming Kembali Raih Kemenangan

Pada 23 Januari, TikTok secara resmi mengumumkan skema operasional terbarunya. Dalam pengumuman ters...

Pada 23 Januari, TikTok secara resmi mengumumkan skema operasional terbarunya. Dalam pengumuman tersebut, disebutkan bahwa operasional TikTok di Amerika Serikat akan dijalankan bersama oleh dua entitas: TikTok US Company dan TikTok US Joint Venture yang baru dibentuk.

TikTok US Company tetap sepenuhnya dimiliki oleh ByteDance. Sementara itu, TikTok US Joint Venture merupakan entitas baru yang didukung oleh tiga investor manajemen, yakni Silver Lake, Oracle, dan dana asal Uni Emirat Arab, MGX, yang masing-masing memegang 15% saham. ByteDance mempertahankan kepemilikan 19,9%, menjadikannya pemegang saham tunggal terbesar dalam perusahaan patungan tersebut.

Dalam struktur ini, perusahaan patungan bertanggung jawab atas aspek-aspek sensitif seperti keamanan informasi, termasuk perlindungan data pengguna AS, keamanan algoritma, serta moderasi konten. Adapun lini bisnis paling menguntungkan—seperti e-commerce, periklanan, pemasaran, dan konektivitas produk global—tetap berada di bawah kendali TikTok US Company.

Poin paling krusial adalah soal kepemilikan algoritma. ByteDance berhasil mempertahankan sepenuhnya hak kekayaan intelektual atas algoritma inti TikTok. Algoritma tersebut hanya dilisensikan kepada perusahaan patungan, lengkap dengan biaya lisensi. Inilah kunci utamanya. Algoritma merupakan “jiwa” dari seluruh produk ByteDance, dan selama itu tetap berada di tangan mereka, keunggulan kompetitif tetap terjaga.

Tarik-ulur TikTok dengan Amerika Serikat telah berlangsung hampir lima tahun, dan kini akhirnya mencapai hasil sementara.

Sejak 2019, pemerintah AS mulai mengincar TikTok dengan alasan “pengumpulan data anak di bawah umur secara ilegal”, yang berujung pada denda sebesar USD 5,7 juta. Pada Agustus 2020, pemerintahan Trump menerbitkan dua perintah eksekutif yang memberi ultimatum jelas: menjual bisnis di AS atau menghadapi larangan total.

Pada April 2024, Presiden saat itu Joe Biden menandatangani undang-undang “jual atau dilarang”, memberi ByteDance tenggat waktu 270 hari untuk melepas bisnis TikTok di AS, atau berisiko dihapus sepenuhnya dari pasar. Ketika Trump kembali menjabat, situasi kembali bergejolak—TikTok sempat diberi masa tenggang 75 hari, sebelum isu transfer saham kembali mencuat.

Di akhir tahun lalu hingga awal tahun ini, ketika masa depan TikTok terlihat semakin tidak pasti, para pengguna AS—terutama generasi muda—memicu apa yang disebut sebagai “migrasi digital”. Puluhan juta pengguna beralih ke Xiaohongshu (RED), bahkan menyebut diri mereka sebagai “TikTok Refugee”.

Dalam periode tersebut, Xiaohongshu meroket ke puncak unduhan harian App Store AS dan berkali-kali menduduki peringkat teratas aplikasi gratis di lebih dari 70 negara dan wilayah. Banyak akun merek pun ikut memanfaatkan momentum dengan mengunggah pesan sambutan, meraih eksposur gratis dari lonjakan trafik tersebut.

Alih-alih memecah internet lewat larangan, kebijakan tersebut justru membuat aplikasi China lainnya ikut melejit secara global. Bagi Xiaohongshu, ini menjadi promosi internasional gratis yang tak terduga.

Jika ditarik lebih jauh, skema baru TikTok ini mengingatkan pada model “Cloud Guizhou” milik Apple. Pada 2018, demi mematuhi aturan lokalisasi data di China, Apple menyerahkan operasional iCloud China kepada perusahaan lokal milik negara. Teknologi tetap dipegang Apple, sementara pengelolaan data dilakukan secara lokal.

Perbedaannya, ByteDance tidak hanya menjadi pemegang saham tunggal terbesar di perusahaan patungan baru, tetapi juga tetap menggenggam kendali atas algoritma, hak kekayaan intelektual, serta bisnis bernilai tinggi seperti e-commerce dan iklan. Struktur ini memenuhi tuntutan regulasi AS, memberi ByteDance posisi tawar melalui lisensi algoritma, dan tetap menghasilkan pendapatan.

Secara keseluruhan, solusi ini bisa dibilang sebagai opsi paling optimal saat ini.

Bagi ByteDance, skema ini memungkinkan TikTok tetap beroperasi di AS, mempertahankan pasar utama, menjaga algoritma inti, memperoleh pendapatan lisensi, serta tetap mengendalikan sektor komersial penting. Bagi pemerintah AS, perusahaan patungan baru menjawab kekhawatiran terkait “keamanan informasi”. Sementara bagi pengguna muda di AS, artinya sederhana: mereka masih bisa terus menonton video pendek.

Pada akhirnya, kisah ini menegaskan satu hal: produk yang benar-benar kuat tidak pernah takut pada batasan. Baik Douyin, TikTok, maupun Xiaohongshu, semuanya berdiri di atas fondasi algoritma yang solid. Selama teknologinya unggul, ke mana pun melangkah, selalu ada pasar yang menunggu.

接著讀