2026年9月10日

Shougang Kembali Tembus Empat Besar—Namun Kabar Buruk Datang: Tiga Pilar Utama Terancam Absen Lama, Masih Mampukah Meraih Gelar Juara?

Beijing Shougang menutup laga dengan kemenangan dramatis 79–73 dalam sebuah pertarungan keras. Di te...

Beijing Shougang menutup laga dengan kemenangan dramatis 79–73 dalam sebuah pertarungan keras. Di tengah absennya empat pemain inti, mereka sukses menaklukkan Zhejiang Chouzhou Jinzu di kandang sendiri dan kembali menyalakan harapan para pendukung. Ini bukan kemenangan yang mengalir mulus, melainkan hasil dari pertarungan sengit di setiap kuarter, di mana keunggulan diraih sedikit demi sedikit melalui kerja keras. Zhejiang tampil dengan skuad lengkap, namun tak pernah benar-benar mampu menguasai ritme permainan. Kemenangan Shougang bukan soal skema rumit, melainkan soal semangat pantang menyerah di lapangan.

Dalam laga ini, Jerman tampil gemilang dengan torehan 23 poin, ditambah lima assist dan tiga steal, memberikan kontribusi maksimal di kedua sisi permainan. Chen Ying-jun memegang peran penting dalam mengontrol tempo dari perimeter, mencetak 18 poin yang mungkin tak mencolok, tetapi sangat stabil. Di sektor paint area, Maddie Ang berjuang keras menghadapi tekanan lawan, membukukan 15 poin dan enam rebound. Raymond layak mendapat pujian atas intensitas pertahanannya, sementara Fan Ziming tampil krusial dengan dua rebound penting di momen paling menentukan. Fang Shuo kemudian menjadi pemantik emosi pertandingan—tripoinnya di kuarter keempat membakar atmosfer arena, disusul dua blok beruntun yang menjadi kunci kemenangan Shougang.

Kemenangan ini diam-diam mengubah peta klasemen. Beijing Shougang berhasil menyalip pesaing dan sementara waktu menembus empat besar. Jarak dengan tim di atas mereka semakin menipis, sementara tekanan dari belakang sedikit mereda. Namun, euforia tersebut tak bertahan lama. Tak lama setelah laga usai, kabar buruk datang bertubi-tubi. Klub mengonfirmasi bahwa Zeng Fanbo mengalami kambuhnya cedera pinggang—bukan cedera baru, melainkan masalah lama yang berasal dari babak playoff musim lalu. Sepanjang jeda musim, ia fokus menjalani pemulihan dan penyesuaian, dan sejak kembali bermain pun selalu tampil dengan kehati-hatian ekstra.

Dalam delapan pertandingan terakhir, Zeng mencatat rata-rata 9,6 poin dan 2,5 rebound. Angkanya memang tidak mencolok, tetapi terlihat jelas bahwa ia sedang berusaha menemukan kembali ritmenya. Kini, dengan cedera yang kembali muncul dan potensi absen tanpa batas waktu, pukulan ini terasa berat—baik bagi tim maupun sang pemain sendiri.

Masalah cedera juga menghantui lini dalam. Center utama Zhou Qi kembali bergulat dengan gangguan pada bagian mata, sebuah area yang sangat sensitif dan membutuhkan penanganan ekstra hati-hati. Musim lalu, cedera serupa membuatnya absen cukup lama, dan kali ini jadwal kembalinya pun masih belum jelas. Sikap klub tegas: tidak akan ada pemaksaan. Meski hasil jangka pendek bisa terdampak, kesehatan jangka panjang tetap menjadi prioritas utama.

Situasi di lini belakang pun tak kalah mengkhawatirkan. Zhao Rui telah menepi sejak awal Januari setelah mengalami cedera lutut saat latihan. Proses pemulihannya berjalan tidak mulus, dengan kondisi yang naik turun. Tim pelatih berharap ia bisa kembali pada fase kedua musim ini, namun harapan tersebut lebih bersifat optimistis ketimbang kepastian. Dalam dua musim terakhir, cedera berulang telah sangat membatasi menit bermain Zhao Rui, menjadikannya salah satu risiko terbesar bagi Shougang.

Jika melihat kondisi terkini, ketiga pemain tersebut belum memiliki kepastian kapan bisa kembali ke lapangan. Hampir dapat dipastikan mereka akan absen sepanjang fase pertama musim. Bahkan dalam skenario paling optimistis, kondisi Zhou Qi pun hanya sedikit lebih menjanjikan dibanding yang lain.

Dalam dua musim terakhir, Beijing Shougang telah melakukan investasi besar di bursa pemain dengan target yang jelas—memburu gelar juara. Namun gelombang cedera yang datang silih berganti membuat susunan terkuat tim tak pernah benar-benar lengkap. Kemenangan atas Zhejiang pantas mendapat tepuk tangan, tetapi lebih terasa seperti kemenangan “membakar diri”—sangat menguras energi dan sulit untuk diulang secara konsisten.

Tak heran jika para penggemar mulai mempertanyakan arah perjalanan tim. Dengan investasi sebesar itu, namun para pemain inti justru bergantian menjalani rehabilitasi, sejauh mana jalan menuju gelar ini bisa ditempuh? Musim masih panjang, dan Shougang memang masih memiliki waktu untuk menunggu kembalinya para pemain kunci. Namun waktu juga tak pernah menunggu siapa pun. Jika masalah cedera terus berlarut, meskipun berhasil kembali ke empat besar, mampukah Beijing Shougang benar-benar melangkah hingga akhir dan meraih gelar juara?

接著讀